يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Rabu, 03 Juni 2009

PAK KYAI BERTANYA SALAFI MENJAWAB{3}

Perlu juga kita pertanyakan, siapakah yang dimaksud dengan salaf menurut Hasan Albanna ? karena sebagian orang yang getol melakukan bid'ah seperti perayaan maulid nabi juga memiliki semboyan "Salaf pembimbingku"[14], tapi maksudnya adalah nenek moyang mereka dari kalangan sufi.



Pak Kyai berkata : "Kemudian yang menjadi masalah kini, terdapat sekelompok yang menisbatkan dirinya sebagai satu-satunya pewaris salaf, adapun segala sesuatu yang berbeda pendapat dengannya berarti bukan lagi tergolong dalam Thaifah Al-Manshuroh. Dalam kelompok ini juga terdapat orang-orang yang diakui sebagai ulama-ulama kondang yang menurut fatwa, pendapat dan analisanya, menyimpulkan selain golongannya adalah aliran bid'ah".



Salafi menjawab : Tolong tunjukkan buktinya bahwa salafi mengatakan seperti yang pak Kyai tuduhkan ini ? Tidak takutkah pak Kyai dengan ancaman Allah ta'ala :



إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ



Artinya : " (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar." (QS.An-Nuur : 15). Nabi r juga bersabda :



هَل يَكُب النَاسَ عَلَى وجوههم في النار إلا حصائد ألسنتهم



Artinya : "Bukankah yang menelungkupkan manusia diatas wajah mereka di neraka adalah hasil ucapan lisan mereka ?!" (HR.Tirmidzi)

Siapakah yang pak Kyai maksud dengan "ulama-ulama kondang" diatas ? Tolong sebutkan nama-nama mereka dan buktikan bahwa tuduhan ini benar-benar nyata dan bukan hasil rekayasa ?

Salafi hanya mengatakan barangsiapa yang menyimpang dari jalannya Rasul r serta metode salafush sholeh khususnya dalam masalah aqidah maka dialah orang yang tersesat dan bukan termasuk Thoifah Manshuroh, Firqotun najiyah ataupun Ahlu sunnah wal jama'ah. Dan ini salafi warisi dari Nabi r serta dari para ulama salaf. Nabi r bersabda :



مَن رَغبَ عَن سُنتي فَلَيسَ مني

Artinya : "Barangsiapa yang tidak suka sunnahku (metodeku) maka dia bukan dari golonganku" (HR.Bukhori).



Dan beliau juga bersabda :



تَفَرَّقَت اليَهُودُ عَلَى إِحدَى وَسَبعِينَ فِرقَةً أَوثِنتَينِ وَسَبعِينَ فِرقَةً, وَالنَصَارَى مِثلَ ذَلِكَ, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ فِرقَةً) وَفِي رِوَايَةٍ (إِنَّ بَنِي إِسرَائِيلَ تَفَرَّقَت عَلَى ثِنتَينِ وَسَبعِينَ مِلَّةً, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ مِلَّةً, كُلُّهُم فِي النَارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوا : وَمَن هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : (مَا أَنَا عَلَيهِ وَأَصحَابِي)



Artinya : "Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan" didalam riwayat lain disebutkan : "Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya : siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah ? beliau menjawab : (Yang mengikuti aku dan para sahabatku)." (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)



Imam Al-Barbahaari seorang imam ahlu sunnah dan pembasmi bid'ah v berkata dalam kitab Syarhus sunnah : "Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah r maka ketahuilah bahwa dia pemilik ucapan jelek dan pengekor hawa nafsu". Beliau juga berkata : "Apabila anda mendengar seseorang mencela atsar (hadits) atau menolak atsar atau menginginkan selain hadits maka pertanyakan keislamannya dan jangan diragukan lagi bahwa dia adalah pengekor hawa nafsu dan mubtadi'". Beliau juga berkata : "Apabila anda melihat seseorang melaknat pemimpin (kaum muslimin) maka ketahuilah dia adalah pengekor hawa nafsu".



Qutaibah bin Sa'id v berkata : "Apabila anda melihat seseorang mencintai ahli hadits seperti Yahya bin Sa'id, Abdurrohman bin Mahdi, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohawaih dan yang lainnya maka dia berada diatas sunnah. Dan baransiapa yang menyelisihi mereka maka ketahuilah dia adalah seorang mubtadi'".[15]



Imam Ahmad v berkata dalam ushulus sunnah : "Tidak boleh bagi siapapun memerangi pemimpin (kaum muslimin) ataupun memberontak kepadanya dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut maka dia adalah mubtadi' dan tidak diatas sunnah atau jalan yang lurus".[16]



Pak Kyai berkata : "Sikap kehidupan dan pergaulan mereka dikenal dengan spesifikasi sbb : - Mengelompok pada sesama komunitasnya sendiri (uzlah) dengan menganggap muslim yang lain bukan saudaranya. Sebagai contoh kepada selain kelompoknya mereka enggan memberi salam atau menyambut salam, bahkan memalingkan muka".



Salafi menjawab : Lagi-lagi pak Kyai berbicara dengan seenaknya tanpa bukti. Dari mana pak Kyai bisa menyimpulkan bahwa salafi menganggap muslim yang lain bukan saudaranya ? Apakah pak Kyai menuduh bahwa salafi mengkafirkan saudaranya sesama muslim ? Salafi adalah orang yang paling jauh dari mengkafirkan seorang muslim. Mau bukti ? Coba pak Kyai baca buku Al-Hukmu bighoiri maa anzalallahu oleh Syaikh Kholid Al-Anbari As-Salafi–hafidzahullahu- atau bisa juga baca terjemahannya Kafirkah orang yang berhukum dengan selain hukum Allah ? atau bisa juga baca majalah Adz-Dzakhiroh edisi 11 dengan judul Begitu teganya kau kafirkan saudaramu muslim !



Adapun tidak memberi salam kepada seorang muslim maka tidak harus berarti orang tersebut dianggap bukan saudara (Kafir). Bukankah dahulu Nabi r pernah tidak memberi salam kepada Ka'ab bin Malik t dan kepada sebagian sahabatnya yang lain serta tidak mengajaknya berbicara [17]? Bukankah dalam shohih Bukhori kitab Adab ada bab yang berjudul "Bolehnya menghajr/memboikot (tidak memberi salam/mengajak bicara/memalingkan muka-pent) kepada yang berbuat maksiat" dan di dalam kitab Isti'dzan ada bab "Orang yang tidak memberi salam kepada pelaku dosa dan tidak menjawab salamnya sampai dia bertobat".



Menghajr dibolehkan dalam syariat selama memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan oleh para ulama. Dalam masalah hajr ini silahkan baca : Hajr Al-Mubtadi' oleh Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid –hafidzahullahu- dan Mauqif Ahli sunnah wal jama'ah min ahlil ahwa' wal bida' oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili –hafidzahullahu-.



Apakah pak Kyai dengan kesimpulan tadi telah mengadakan sensus (melihat sendiri dengan kedua mata) bahwa salafi tidak pernah memberi salam atau menjawab salam saudaranya sesama muslim ? Kalau seandainya ada diantara yang menamakan dirinya salafi namun tidak memberi salam atau menjawab salam dari saudaranya muslim tanpa alasan yang disyariatkan, maka ini adalah suatu kesalahan yang wajib untuk diluruskan tapi jangan disama ratakan dan dijadikan kesimpulan seperti yang dikatakan oleh pak Kyai ! Hal ini semisal dengan salah seorang dari kaum muslimin menjadi teroris, apakah bisa disimpulkan bahwa ciri seorang muslim itu adalah teroris ???



Pak Kyai berkata : "Dalam majlis taklim apabila sang penceramah bukan dari kelompoknya atau tidak berjenggot maka mereka akan meninggalkan majlis tersebut…"



Salafi menjawab : Salafi bukan tong sampah yang mengambil ilmu agama dari setiap orang yang mengaku sebagai ustadz atau Kyai haji atau Syaikh baik mubtadi', orang yang bodoh atau yang menyimpang manhajnya dari manhaj salafush sholeh. Salafi bak lebah yang hanya mengambil makanannya dari yang baik saja (sari bunga).



Bukankah Allah memerintahkan kita untuk menuntut ilmu dari orang yang alim saja ?! Allah berfirman :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ



Artinya : "maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS.Al-Anbiya' : 7) Dan bukankah Nabi r memperingatkan kita dari mengambil ilmu kepada orang bodoh atau mubtadi' ?! Nabi r bersabda :



إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد , ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إدا لم يبق عالم اتخد الناس رؤوسا جهالا فأفتوا بغيرعلم فضلوا وأضلوا



Artinya : "Sesungguhya Allah tidak mencabut ilmu ini secara langsung dari para hamba-Nya akan tetapi Dia mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama hingga ketika tidak tersisa seorang alim maka manusia mengambil pemimpin dari orang-orang yang jahil, mereka berfatwa tanpa ilmu hingga sesat dan menyesatkan" (HR.Bukhori)



Dan Nabi r juga bersabda :

من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر

Artinya : "Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari al-ashoghir (orang yang bodoh atau ahli bid'ah)". (Ash-Shohihah 695)



Menuntut ilmu haruslah dari orang yang berilmu dan memiliki aqidah serta metode yang benar dan jelas yaitu metode salafush sholeh dimana saja orang itu berada baik di Indonesia, Saudi Arabiah, Yordania, Yaman, Pakistan, India atau di tempat yang lainnya. Salafi membolehkan menuntut ilmu di mana saja dan dari siapa saja selama sang guru berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan as-sunnah serta pemahaman salaf. Salafi melarang untuk belajar dari orang yang bodoh, yang menyimpang aqidah dan manhajnya atau yang mengolok-ngolokkan sunnah Nabi r. Dan ini adalah warisan serta wasiat ulama salaf seperti Muhammad bin Sirin v seorang tabi'in yang mulia. Beliau berkata : "Ilmu ini adalah agama itu sendiri maka lihatlah darimana kamu mengambil ilmu tersebut" dan dari ucapan beliau juga : "Dahulu para salaf (sahabat) tidak pernah bertanya tentang isnad tapi ketika terjadi fitnah, mereka bertanya : Siapa guru-gurumu ? Jika guru tersebut dari ahli sunnah maka diambil haditsnya tapi jika dari ahli bid'ah maka ditolak haditsnya"[18]



Hasan Al-Basri v dan Muhammad bin Sirin v juga mengatakan : "Jangan kalian duduk dengan pengekor hawa nafsu (ahli bid'ah), dan jangan pula berdebat kusir dengan mereka serta jangan mendengar dari mereka." [19]



Syaikh Sholeh Al-Fauzan –hafidzahullahu- berkata : "Tidak boleh mengambil (ilmu agama) dari orang-orang bodoh meskipun dia mengaku pintar (Kyai, ustadz atau doctor dan lainnya-pent), tidak juga dari orang yang menyimpang aqidahnya dan tidak boleh dari ahli bid'ah meskipun menyandang gelar ulama." [20]



Di dalam ucapan pak Kyai diatas ada nada aneh kedengarannya yaitu (tidak berjenggot). Apakah karena pak Kyai tidak suka dengan orang yang berjenggot ? Apakah karena pak Kyai tidak laku ceramahnya dikalangan salafi karena pak Kyai tidak berjenggot seperti dalam foto di majalah ? Mengapa orang-orang Al-Irsyad (sebuah organisasi yang berasaskan Islam) yang tergambar fotonya di Mabadi' tidak ada satu pun yang berjenggot ? Bukankah mereka semua adalah pria ? Apakah memang belum tumbuh atau sengaja membuatnya tidak tumbuh ? Tahukah mereka hukum memelihara jenggot ? Dan tahukah mereka hukum mengolok-olokkan (sunnah) memelihara jenggot ? Bukankah Nabi r dan para khulafa' rosyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali y adalah orang-orang yang berjenggot ?![21] Bukankah Nabi r pernah bersabda :

خَالف المُشركين , احفُوا الشَوَارب وَأَوفوا اللحى



Artinya : "Selisihilah orang-orang musyrikin, potonglah kumis dan peliharalah jenggot" (HR.Bukhori dan Muslim)



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata : "Haram memotong jenggot."[22]. Ibnu Abdil Bar v berkata : "Diharamkan mencukur jenggot dan tidak ada orang yang mencukurnya kecuali orang laki-laki yang banci."[23]



Kemanakah semangat kalian untuk kembali ke salaf ? Apakah hal ini hanya sekedar semboyan dan kebanggaan belaka tanpa ada wujud kongkrit dalam kehidupan kalian beragama ? Maka siapakah yang telah mengambil jarak dari pemahaman salafi yang sebenarnya ? Bertobatlah kepada Allah wahai orang-orang yang suka mengolok-olok sunnah Nabi r ! Takutlah kalian dari firman Allah :

قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ



Artinya : " Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman. " (QS.At-Taubah : 65-66)

Kalau kalian belum bisa melaksanakan, maka perbanyaklah istighfar dan taubat kepada Allah tapi jangan kalian mengolok-olok agama Allah.



Pak Kyai berkata : "Semua sikap dan prilaku diatas bukanlah wujud akhlak islami yang baik, apalagi dengan mengklaim sebagai orang-orang salafi, padahal Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan akhlak dan rahmah bagi seru sekalian alam."



Salafi menjawab : Ya beginilah akhir zaman, orang yang mengikuti jejak salaf dikatakan tidak berakhlak. Subhanallahu, ternyata pak Kyai pandai memutar balikkan fakta !!! Apakah pak Kyai sudah berakhlak dengan menuduh dan menfitnah salafi tanpa bukti seperti yang tertera diatas ? Berakhlakkah Mabadi' yang bapak pimpin yang mencaci maki salafi dengan mengatakan "gerakan yang bekerja ala mafia dengan para sindikatnya…" ?! Apakah termasuk akhlak orang yang menyamakan antara ulama ahli sunnah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab) dengan orang sufi (Hasan Albanna) ?!

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Artinya : "Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (QS.Al-Qolam :35-36)



وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ. وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ. وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ



Artinya : "Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas." (QS.Fathir : 19-21).



Apakah mencampur adukkan antara yang haq dan batil termasuk akhlak ?! Apakah menyelisihi Nabi r dengan mencukur jenggot termasuk akhlak ?!

Bukankah para Nabi sejak Nabi Nuh u sampai Nabi kita Muhammad r inti dakwah mereka adalah tauhid ?! Allah I berfirman :



وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Artinya : "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS.An-Nahl : 36)



Dan fiarmannya :



وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Artinya : "Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak) disembah melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku"." (QS.Al-Anbiya' : 25)



Allah juga berfirman tentang inti dakwah Nuh u :

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ



Artinya : "Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan (yang hak) bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)." (QS.Al-A'roof : 59)



Allah juga menceritakan inti dakwah Hud u :

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya : "Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum `Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada (sesembahan yang hak) bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"" (QS.Al-A'roof : 65) dan masih banyak lagi ayat yang semisal dengan ini.



Pak Kyai berkata : "Mereka menghujat, mengecam, dan merendahkan martabat tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan tokoh pergerakan Islam terkemuka seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha, Yusuf Qordhowi, Hasan Albanna, Muhammad Ghozali dll. Padahal seberapa takaran yang mereka perbuat dibandingkan dengan jasa tokoh-tokoh Islam seperti tersebut diatas."



Salafi menjawab : Sebagaimana yang telah dijelaskan diawal pembahasan bahwa para ulama terdahulu ketika membantah kesalahan atau kebatilan yang disampaikan oleh orang-orang yang menyimpang manhajnya, hanyalah dalam rangka nasehat-menasehati serta amar ma'ruf dan nahi 'anil mungkar serta memperingatkan orang-orang awam dari kesalahan tersebut. Dan mereka juga ketika membantah, langsung menyebutkan nama orangnya serta kesesatannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata : "Wajib memperingatkan dari bid'ah meskipun harus menyebutkan (nama) pelakunya." [24]

Abdurrohman bin Mahdi pernah menemui Imam Malik v dan disamping beliau ada seseorang yang bertanya tentang Al-Qu'ran. Lalu Imam Malik berkata : "Mungkin engkau ini termasuk teman Amru bin Ubeid, semoga Allah melaknat Amru karena dialah yang membuat bid'ah ini."[25]

Demikian pula salafi ketika membantah pelaku kebatilan hanyalah untuk menyelamatkan umat dari kesesatan mereka bukan untuk mengecam, menghujat ataupun merendahkan martabat. Dan bantahan salafi tersebut didasari oleh dalil-dalil serta bukti-bukti yang nyata bukan seperti yang pak Kyai lakukan terhadap Salafi. Perlu pak Kyai ketahui bahwa jasa atau ketenaran seseorang tidak menghalangi para ulama untuk menyingkap kebatilan orang tersebut, terlebih lagi kebatilannya melebihi kebenaran atau kebaikannya. Lihatlah kisah Abdurrohman bin Muljam yang membunuh sahabat Rasul r kholifah yang mulia Ali bin Abi Tholib t. Abdurrohman juga memiliki jasa-jasa serta ketenaran dikalangan sahabat tapi karena dia menyimpang maka harus dihukum berat.[26]



(Bersambung)



HOME >>>

[1] Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi –hafidzhahullahu- murid senior ahli hadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani v dalam footnote kitab "Miftah daaris sa'adah" oleh Ibnu Qoyyim v 1/500.

[2] Majmu' fatawa 35/414. Lihat pembahasan ini dalam kitab " Sittu duror min ushuli ahlil atsar" oleh Syaikh Abdul Malik Romadhooni Al-Jazaairi –hafidzahullahu- point yang kelima.

[3] Lihat "Fathul Majid syarhu kitabit tauhid" hal 17 oleh Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh v.

[4] Penulisan saw ini tidaklah sejalan dengan manhaj salaf. Lihat kembali Adz-Dzakhiroh edisi 15 hal.4-5

[5] Lihat Mudzakkiroh dakwah wad daa'iyah hal 19.

[6] Lihat Jaulatun fil fiqhain Hal.154.

[7] Lihat Majmu'atur rosaail Hasan Albanna hal.362.

[8] Al-Ajwibah Al-Mufidah 'an as-ilatil manaahij al-jadiidah hal.69-73 oleh Syaikh Sholeh Al-Fauzan.

[9] Mudzakkiroh ad-dakwah wad daa'iyah hal.24.

[10] Idem hal.52.

[11] Apakah ini juga yang dimaksud oleh pak Kyai tentang masalah khilafiyah ?

[12] Footnote Al-Ajwibah Al-Mufiidah hal.69-72.

[13] Lihat penjelasan lebih lanjut di Fathul Baari 6/110.

[14] Seperti yang dikatakan oleh buletin sunni (seharusnya bid'I bukan sunni) yang pernah kita bantah pada edisi 15 hal.10.



[15] Syarhu ushul I'tiqod ahli sunnah wal jama'ah 1/74 no.59 oleh Imam Al-Lalikai.

[16] Idem 1/181.

[17] HR.Bukhori.

[18] Lihat Muqqoddimah Shohih Muslim dalam bab Annal Isnad Minad Diin.

[19] Al-Ibanah 'an syari'ati firqotin najiyah no.395 oleh Ibnu Baththoh Al-Akburi.

[20] Al-ajwibah Al-mufidah hal.146.

[21] Lihat kitab Hukmud diin fil lihya wat tadkhiin hal.26-27 oleh Syaikh Ali bin Hasan –hafidzahullahu-Dan Tahrim halqil lihya oleh Syaikh Al-'Allamah Abdurrohman bin Muhammad bin Qosim Al- Hambali.

[22] Al-Ikhtiyaaroot Al-'Ilmiyah hal.6

[23] At-Tamhiid dalam bab "Adillatu tahriimi halqil lihya" 96.

[24] Majmu fatawa 28/233.

[25] Lihat pembahasan ini dalam kitab Ijma ulama 'alal hajr wat tahdzir min ahlil ahwa' hal.27 oleh Kholid bin Dhohawi Azh-Zhufairi.

[26] Lihat pembahasannya dalam Adz-Dzakhiroh edisi 12 hal.8-9.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar