يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Rabu, 03 Juni 2009

MENGAPA HARUS MANHAJ SALAF(2)

- Dalil-dalil wajibnya mengikuti salaf



Mengikuti manhaj salaf bukanlah suatu hal yang mustahab (bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mengapa), tapi mengikuti jejak mereka dalam segala bidang baik aqidah, ibadah, dakwah, jihad, muamalah, akhlak dan lain-lain adalah suatu kewajiban bagi yang menginginkan hidayah dan keselamatan didunia dan diakhirat.



1- Allah ta'ala berfirman :



وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)

" Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. " (QS.At-Taubah : 100)



Didalam ayat ini Allah memuji orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka.



2- Allah ta'ala berfirman :



وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(115) وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(115)

" Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. " (QS.An-Nisa' : 115) lihat penjelasan Al-Qolsyaani tentang ayat ini diatas.



3- Allah ta'ala berfirman :



فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (137)

" Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS.Al-Baqoroh : 137)



Allah menyebutkan dalam ayat ini bahwa hidayah itu hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat t. Hal ini juga dikatakan oleh Ibnul Qoyyim v dalam kitabnya Madaarijus saalikin 1/72-73 ketika menjelaskan apa yang dimaksud dengan shirotol mustaqiim dalam surat Al-Fatihah, beliau berkata : "Setiap yang lebih tahu tentang kebenaran dan yang lebih mengikuti kebenaran maka dialah yang lebih berhak mendapatkan shirotol mustaqim. Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah r lebih berhak dengan hal ini dari pada Rofidhoh…Oleh Karena itulah para salaf mentafsirkan shirotol mustaqim dengan Abu Bakar dan Umar serta para sahabat Rasulullah r, dan tafsir mereka inilah yang benar."



4- Rasulullah r bersabda dalam hadits Irbadh bin Sariyah t :


عَلَيكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهدِيِينَ الرَاشِدِينَ, تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيهَا بِالنَوَاجِذِ



Artinya : "Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, pegang eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian" (HSR.Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain)



5- Rasulullah r bersabda :

تَفَرَّقَت اليَهُودُ عَلَى إِحدَى وَسَبعِينَ فِرقَةً أَوثِنتَينِ وَسَبعِينَ فِرقَةً, وَالنَصَارَى مِثلَ ذَلِكَ, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ فِرقَةً) وَفِي رِوَايَةٍ (إِنَّ بَنِي إِسرَائِيلَ تَفَرَّقَت عَلَى ثِنتَينِ وَسَبعِينَ مِلَّةً, وَتَفَرَّقَت أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبعِينَ مِلَّةً, كُلُّهُم فِي النَارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوا : وَمَن هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : (مَا أَنَا عَلَيهِ وَأَصحَابِي)

Artinya : "Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan" didalam riwayat lain disebutkan : "Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya : siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah ? beliau menjawab : (Yang mengikuti aku dan para sahabatku)." (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)



6- Rasulullah r bersabda :



اقتَدُوا بِاللذَينِ مِن بَعدِي : أَبِي بَكر وعُمَرَ



Artinya : "Ikutilah jejak dua orang sesudahku : Abu Bakar dan Umar" (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan selainnya).



7- Abdullah bin Mas'ud t seorang sahabat Rasulullah r berkata : "Barangsiapa yang ingin mencari suri tauladan yang baik maka jadikan yang telah meninggal sebagai suri tauladan, karena yang masih hidup tidak bisa dijamin selamat dari fitnah. Mereka adalah para sahabat Muhammad r. Mereka adalah semulia-mulianya umat ini, yang paling baik hatinya, yang paling mendalam ilmunya, yang paling sedikit berlebih-lebihan. Mereka adalah sekelompok orang yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya serta untuk menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah jasa-jasa mereka dan ikuti jejak mereka serta berpegang teguhlah dengan akhlak serta agama mereka karena mereka berada diatas jalan yang lurus".[6]



8- Imam Al-'Auza'I v berkata : "Bersabarlah dirimu diatas sunnah, berhentilah sebagaimana mereka berhenti, dan katakanlah seperti apa yang mereka katakan serta cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh".[7]



9- Imam ahlu sunnah wal jama'ah Ahmad bin Hambal v berkata didalam awal kitabnya ushulus sunnah : "Termasuk prinsip aqidah kita adalah berpegang teguh dengan metode para sahabat Rasulullah r serta mengikuti jejak mereka".



10- Ibnu Abil 'Izzi v berkata : "Mengikuti para sahabat adalah petunjuk sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan".[8]





- Bolehkah kita memakai istilah Salafi atau Salafiyah ?



Allah I memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ahli ilmu/ulama jika kita tidak mengetahui suatu permasalahan,



فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ(7)

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui". (QS.Al-Anbiya' : 7)



- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata : "Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya[9] serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar".[10]



- Imam Adz-Dzahabi v berkata : "Yang dibutuhkan oleh seorang Al-Hafidz (ahli hadits) adalah ketakwaan, kecerdasan, kepandaian dalam bahasa arab dan nahwu, kesucian hati, pemalu serta menjadi Salafi….".[11]



- Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz v pernah ditanya : Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang menamakan dirinya Salafi dan Atsari, apakah in termasuk memuji diri ? Beliau menjawab : "Apabila dia benar-benar Atsari atau Salafi maka tidak mengapa. Hal ini seperti yang pernah dikatakan oleh para salaf dahulu : Fulan Salafi, fulan Atsari. Ini termasuk pujian yang harus dan wajib".[12]



- Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin v berkata : "Ahlu sunnah wal jama'ah adalah para salaf sampai generasi terakhir. Barangsiapa yang berada diatas jalannya Nabi r dan para sahabatnya maka dialah Salafi".[13]



- Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan –hafidzahullahu- berkata : "Salafiyah adalah meniti jejak salaf dari kalangan sahabat, tabi'in dan generasi yang utama baik dalam aqidah, pemahaman, dan akhlak. Dan wajib bagi setiap muslim untuk mengikuti jalan mereka".[14]



- Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid –hafidzahullahu- berkata : "Jadilah engkau sebagai seorang Salafi yang menelusuri jejak salafush sholeh dari kalangan sahabat t dan yang mengikuti mereka dengan baik dalam permasalahan agama ini seperti tauhid, ibadah dan selainnya".[15]



- Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali –hafidzahullahu- berkata : "Salafiyah adalah menisbatkan diri kepada salaf dan ini adalah nisbat terpuji kepada metode yang benar dan bukan membuat madzhab baru". Beliau juga berkata : "Salafiyah adalah Islam yang murni dari percampuran kebudayaan kuno maupun peninggalan kelompok-kelompok sempalan, yang berdasarkan kepada Al-Qur'an dan sunnah serta pemahaman salafush sholeh".[16]





- Ciri-ciri Salafi sejati :



Setelah dijelaskan diatas wajibnya mengikuti manhaj salafush sholeh serta disyariatkan/dibolehkannya menamakan diri sebagai Salafi, maka perlu disebutkan disini ciri-ciri utama seorang yang bisa dikatakan sebagai Salafi, ahli sunnah wal jama'ah, al-firqotun najiyah dan thoifah manshuroh :

1- Menjadikan Al-Qur'an dan sunnah sebagai pedoman hidup dalam segala perkara.

2- Memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para sahabat terutama dalam masalah aqidah.

3- Tidak menjadikan akal sebagai landasan utama dalam beraqidah.

4- Senantiasa mengutamakan dakwah kepada tauhid ibadah (Seruan hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah).

5- Tidak berdebat kusir dengan ahli bid'ah serta tidak bermajlis dan tidak menimba ilmu dari mereka.

6- Berantusias untuk menjaga persatuan kaum muslimin serta menyatukan mereka diatas Al-Qur'an dan sunnah sesuai pemahaman salafush sholeh.

7- Menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah r dalam bidang ibadah, akhlak dan dalam segala bidang kehidupan hingga merekapun terasing.

8- Tidak fanatik kecuali hanya kepada Al-Qur'an dan sunnah.

9- Memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran.

10- Membantah setiap yang menyelisihi syariat baik dia seorang muslim atau non muslim.

11- Membedakan antara ketergelinciran ulama ahli sunnah dengan kesesatan para dai-dai yang menyeru kepada bid'ah.

12- Selalu taat kepada pemimpin kaum muslimin selama dalam kebaikan, berdoa untuk mereka serta menasehati mereka dengan cara yang baik dan tidak memberontak atau mencaci-maki mereka.

13- Berdakwah dengan cara hikmah.[17]

14- Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama yang bersumberkan kepada Al-Qur'an dan sunnah serta pemahaman salaf, sekaligus meyakini bahwa umat ini tidak akan menjadi jaya melainkan dengan ilmu tersebut.

15- Bersemangat dalam menjalankan Tashfiyah (membersihkan Islam dari kotoran-kotoran yang menempel kepadanya seperti syirik, bid'ah, hadits-hadits lemah dan lain sebagainya) dan Tarbiyah (mendidik umat diatas Islam yang murni terutama dalam bidang tauhid).[18]





Kesimpulan :



1- Wajib mengikuti pemahaman salaf dalam beragama.

2- Disyariatkan/dibolehkan menamakan diri Salafi jika memang memiliki ciri-ciri diatas.

3- Salafiyah bukan kelompok seperti jama'ah tabligh, ikhwanul muslimin, hizbut tahrir atau yang lainnya yang memiliki pendiri dan tahun pendirian, tapi Salafiyah hanyalah metode yang berlandaskan kepada pemahaman salafush sholeh dari kalangan sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in yang tidak memiliki pemimpin melainkan Rasulullah r

4- Manhaj/metode salaf adalah benar, adapun individunya bisa salah bisa benar (tidak maksum).

5- Istilah Salafi bukan hal baru dalam sejarah Islam.





HOME >>>

[1] Lihat kitab "Limaadza ikhtartu al-manhaj as-Salafi" hal.30-31 oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali –hafidzahullahu-.

[2] Al-Ansaab 7/104.

[3] Al-Lajnah Ad-daaimah lil buhust al-ilmiyah no.1361.

[4] Lihat ta'liq Syaikh Hamd At-Tuweijiri terhadap kitab Aqidah Hamawiyah hal.203

[5] Aqidatusy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyah hal.195.

[6] Syarah Aqidah Thohawiyah 2/546 oleh Ibnu Abil 'Izzi Al-Hanafi.

[7] Syarhu ushul I'tiqod ahlis sunnah wal jama'ah 1/154 oleh Al-Lalika'i

[8] Syarah Aqidah Thohawiyah 2/244.

[9] Maksud menisbatkan tersebut adalah dengan mengatakan "Salafi", wallahu a'lam.

[10] Majmu' fatawa 4/149.

[11] Lihat Siyar A'lamin Nubala' 13/380. Syaikh Salim Bin 'Ied Al-Hilali –hafidzahullahu- berkata dalam kaset ceramah beliau (Syarah ushulus sunnah oleh Imam Ahmad v bahwa Imam Adz-Dzahabi menyebutkan kata-kata Salafi dalam kitab beliau tersebut lebih dari 200 kali.

[12] Lihat footnote kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah 'an as-ilatil manahij al-jadiidah oleh Syaikh Sholeh Al-Fauzan –hafidzahullahu- hal.17.

[13] Syarah Aqidah Al-Wasithiyah 1/54.

[14] Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.103-104.

[15] Hilyah tholibil ilmi hal 28 dengan syarah Syaikh Al-Utsaimin.

[16] Limadza ikhtartu al-manhaj As-Salafi hal.34.

[17] Diantara makna hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Oleh karena itu dakwah tidak selalu dengan lemah lembut tapi terkadang harus dengan sikap tegas dan keras, semuanya disesuaikan dengan keadaan. (Lihat Ad-Dakwah ilallahu oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz v dan Min ma'alimil manhaj an-nabawi fid dakwah ilallahu oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr).

[18] Lihat perinciannya dalam kitab Irsyadul Barriyah ila Syar’iyyatil Intisab Lissalafiyyah oleh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Al-Husaini as-Salafi Hal. 30-58.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar