يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Rabu, 03 Juni 2009

mengenal AHLUS SUNNAH (3)

Bagian III

Manhaj Ibadah Ahlussunnah wal Jamaah



Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:

أهل السنة يعبد الله، لله، بالله, وفي الله

“Ahlussunnah beribadah kepada Allah, karena Allah, dengan pertolongan Allah dan dalam agama Allah ”.

Ahlussunnah ya’budullah (beribadah kepada Allah) lillah maksudnya adalah ikhlas kepada Allah semata untuk mencari ridha-Nya. Mereka tidak beribadah kepada Allah supaya dilihat, dipuji orang dan agar digelari seorang ahli ibadah. Dari Amirul Mu’minin Abu Hafsh ‘Umar bin Khothob berkata,” Saya mendengar Rosululloh r bersabda,” Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya dan Sesungguhnya bagi setiap orang tergantung dari apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrah kepada dunia yang dia cari atau wanita yang dia ingin nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.” [60]

Adapun billah maksudnya meminta tolong kepada Allah . Seorang tidak akan mungkin bisa beribadah kepada Allah dengan sendirinya, tetapi ia meminta pertolongan kepada Allah sebagaimana firman Allah :

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan” [61]

Adapun fillah yaitu pada agama Allah yang disyariatkan melalui Rasulullah tanpa ditambah dan dikurangi. Mereka tidak keluar dari agama Rasulullah, mereka bersihkan ibadah mereka dari kesyirikan dan bid’ah sebagaimana firman Allah :

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [62]

Ibadah mereka bukan didorong oleh nafsu dan akalnya, akal yang sehat tidak akan membolehkan seorang mukmin untuk keluar dari syariat Allah. Karena berpegang pada syariat Allah termasuk bagian dari akal yang sehat. Itulah sebabnya Allah menyebut orang–orang yang mendustakan Rasulullah sebagai orang yang tidak berakal, sebagaimana firman-Nya:

“Tetapi kebanyakan mereka tidak berakal” [63]

Seandainya kita beribadah kepada Allah menurut nafsu kita, niscaya akan terjadi perpecahan dan pengelompokan yang setiap orang menganggap baik pendapatnya untuk beribadah kepada Allah. lihatlah mereka yang beribadah kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang bid’ah yang tidak disyariatkan oleh Allah, bagaimana antar mereka saling membenci dan saling menyalahkan. Mereka mengkafirkan orang lain dengan sesuatu yang sebenarnya mereka tidak kafir tetapi hawa nafsunya yang membutakan mereka.

Seandainya kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat Allah , bukan dengan hawa nafsu niscaya kita akan menjadi satu umat. Karena syariat Allah adalah petunjuk bukan hawa kita. sebagian ahli bid’ah yang melakukan bid’ah dalam masalah aqidah atau amal, berdalil dengan sabda Nabi:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَي يَوْمِ القِيَامَةِ

“Barangsiapa yang membuat teladan yang baik dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat” [64]

Kita mengatakan kepadanya,” Apakah yang anda anggap baik dalam bid’ah ini tidak diketahui oleh Rasulullah?. Atau beliau mengetahuinya tetapi menyembunyikannya sehingga tidak ada kalangan salaf yang mengetahuinya, kemudian beliau simpan untuk anda?.

Apabila mereka mengatakan,”Sesungguhnya Rasulullah tidak mengetahui kebaikan bid’ah ini sehingga beliau tidak ajarkan”. Kita menjawab,”Anda telah menuduh Rasulullah dengan sangat keji yaitu bodoh terhadap agama Allah dan syariat-Nya”. Bila mereka mengatakan,” Rasulullah mengetahuinya, tapi tidak menyampaikannya kepada orang lain”. Ini tuduhan yang lebih keji, anda menganggap Rasulullah seorang yang bergelar “al-Amin” (amanah), seorang pengkhianat dan tidak mengajarkan pengetahuannya.

Bisa juga mereka berkata,” Rasulullah mengetahuinya, mengajarkannya tapi belum sampai kepada kita”. Kita mengatakan kepada mereka bahwa anda telah menentang firman Allah yang menyebutkan:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kami menurunkan Al-Dzikr dan Kami yang akan menjaganya” .[65]

Apabila syariat Allah hilang sehingga tidak sampai kepada kita, artinya Allah tidak menjaga syariat-Nya, bahkan kurang dalam menjaganya sehingga hilang sebagian dari yang ada dalam Al-Qur’an.

Kesimpulannya, setiap orang yang melakukan bid’ah dalam masalah agamanya baik dalam aqidah atau ibadah berupa ucapan maupun perbuatan, maka dia adalah orang yang sesat, sebagaimana sabda Nabi:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Setiap bid’ah adalah sesat”

Hadits ini umum mencakup setiap bidah dalam masalah agama, ia sesat dan tidak ada kebaikan di dalamnya, Allah berfirman:

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)”.[66]

Adapun hadits Rasulullah e “Barangsiapa yang membuat teladan dalam Islam” tidak menjelaskan tentang bid’ah, karena semua yang bukan ajaran Rasulullah tidak termasuk dari Islam. Itulah sebabnya ditambahkan dengan “sunnah yang baik” karena ia termasuk yang diakui oleh Islam.

Sababul Wurud (Sebab munculnya) hadits tersebut menunjukkan bahwa maksudnya adalah segera untuk mengamalkan sunnah. Sekelompok orang faqir datang kepada Rasulullah, kemudian beliau menganjurkan orang untuk bersedekah kepada mereka. seorang dari Anshar datang dengan membawa sekeranjang korma kemudian memberikan kepada orang-orang tersebut. Dan orang-orang mengikutinya. Maka Rasulullah bersabda dengan hadits di atas.

Dengan demikian maksudnya bukan membuat syariat baru, tetapi mengamalkannya, menjadi teladan dalam mengamalkannya di hadapa orang sehingga ia menjadi teladan yang baik dan mendapatkan pahalanya sebagaimana pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Sebagian ahli bidah berhujjah dengan kaidah itu sebuah sarana untuk kebaikan seperti mengumpulkan al-Qur’an, mendirikan sekolah dll, yang hanya sebagai sarana bukan tujuan.

Ada perbedaan antara sesuatu yang menjadi sarana untuk tujuan baik yang ditetapkan oleh syariat, tetapi tidak bisa terwujud kecuali dengan melakukan sarana tersebut, dan sarana ini berkembang seiring perkembangan zaman, misalnya firman Allah :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”.[67]

Persiapan kekuatan di zaman Rasulullah berbeda dengan persiapan kekuatan di zaman kita. Maka bila kita melakukan suatu perbuatan yang merupakan persiapan kekuatan, maka ia bid’ah sarana bukan gayah (tujuan) yang seseorang beribadah kepada Allah dengannya. Kaidah yang sudah disepakati menyebutkan,” Anna Lil Wasaa’il Ahkaam al-Maqashid”, (Sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya). Semua yang dilakukan adalah saran untuk tujuan yang terpuji.

Mengumpulkan Al-Qur’an dan mencetaknya merupakan sarana untuk tujuan yang disyariatkan. Hendaknya dibedakan antara sarana dan tujuan. Sesuatu yang sendirinya merupakan sebuah tujuan, maka ia telah disyariatkan oleh Allah dan diwahyukan kepada Rasulullah sebagaimana firman Allah :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu”, [68]

Seandainya amalan bid’ah merupakan penyempurna syariat, niscaya sudah disyariatkan, dijelaskan dan disampaikan dan dijaga. Ia bukan menyempurnakan syariat bahkan ia menguranginya.

Sebagian orang mengatakan bahwa dalam perbuatan bidah tersebut bisa membersihkan hati, semangat beragama dan lainnya. kita katakan bahwa Allah telah memberitahu kita bahwa syaitan bersumpah:

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”.[69]

Syaitan memperindah di hati manusia untuk memalingkan mereka dari ibadah kepada Allah . Rasulullah telah mengingatkan bahwa syaitan masuk ke dalam diri manusia seperti darah yang mengalir. Dan ini selaras dengan firman Allah I :

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah ”[70]

Allah menjadikan syaitan berkuasa pada orang-orang yang berpaling dari Allah dan menyekutukan-Nya. Dan setiap orang yang menjadi pengikut bidah di dalam agama Allah , maka ia telah menyekutukan Allah dan menjadikan orang yang diikuti ini sebagai sekutu Allah dalam masalah hukum. Padahal hukum syar’i itu hanya milik Allah sebagaimana firman-Nya:

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”,[71] .

Ketahuilah!, semoga Allah merahmatimu, bahwa tidak ada jalan yang bisa mengantarkan kita kepada Allah kecuali dengan jalan yang telah ditentukan oleh Allah lewat Rasul-Nya. “Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi”[72], seandainya seorang raja menentukan sebuah pintu untuk masuk menemuinya dan berkata,”Barangsiapa yang ingin menemui saya, maka hendaknya masuk lewat pintu ini”. Bagaimana pendapat anda bila ada orang yang ingin menemui raja lewat pintu lain, apakah ia bisa bertemu dengannya?.

Allah telah menentukan jalan khusus untuk menemui-Nya yaitu jalannya Rasulullah, yang tidak mungkin seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan kecuali dengan menempuh jalan Rasulullah.

Penghormatan kepada Rasulullah dan termasuk adab kepada beliau adalah mengerjakan apa yang beliau kerjakan dan meninggalkan apa yang beliau tinggalkan. Kita tidak mendahului beliau dalam agamanya, berkata dalam agamanya yang beliau tidak pernah katakan da mengadakan suatu ibadah yang tidak pernah beliau syariatkan.

Apakah termasuk mencintai Rasulullah seorang yang mengada-ada dalam masalah agama, padahal beliau bersabda,”Setiap bid’ah itu sesat”. Juga beliau bersabda,” Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan agama maka ia tertolak”. Apakah ini merupakan kecintaan kepada Rasulullah? Dengan membuat syariat dalam agama Allah sesutu yang tidak pernah disyariatkan?. Allah I berfirman:

“Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu".[73]



Diterjemahkan dari “Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah-Thariqatu Ahlussunah fi Ibadatillah” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.



Bagian IV

Manhaj Akhlak Ahlussunnah wal Jamaah



Allah Mengutus Muhammad sebagai pembawa hidayah agama yang haq dan Penyempurna Akhlak. Allah I berfirman,

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang-orang musyrik benci".[74]

Allah mengutus Muhammad kepada jin dan manusia, seluruh penduduk dunia sebagai rahmatan (karunia) dan imaman (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. Mengajarkan dan memahamkan manusia tentang agama-Nya, menjelaskan penyebab keselamatan dan kebinasaan hidup di dunia dan di akhirat, Allah mengutusnya dengan Dienul Islam. Beliau membawa kabar yang benar, ilmu yang bermanfaat, syari'at yang lurus serta hukum-hukum yang adil. Allah mengutusnya untuk menyeru kepada seluruh kebaikan dan mencegah kejahatan, menyeru kepada akhlak yang mulia dan pebuatan yang baik serta mencegah rendahnya akhlak dan buruknya amal perbuatan. Allah berfirman,

”Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan".[75]

Juga firman Allah, ”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". (Al-Anbiya' : 107).

Akhlak yang paling agung adalah beribadah kepada Allah , Allah berfirman,

”Hai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa".[76]

Juga firman Allah ,

” Beribadahlah kepada Allah dan janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu". [77]

Allah berfirman,

”Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya ..." [78]

Kemudian berakhlak kepada Rasulullah dengan mengikuti sunnah beliau, Allah berfirman,

” Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa".[79]

Kita berdoa kepada Allah untuk ditunjukkan “Shiratal Mustaqim”, Allah berfirman,

” Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat". [80]

Pengertian Ash-Shirath Al-Mustaqim adalah Dienullah, yaitu Al-Islam, Al-Iman, ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih. Ia adalah jalannya orang-orang yang mendapat nikmat dari kalangan ahlul ilmi dan amal, mereka adalah para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik serta pendahulu dari kalangan Rasul beserta pengikutnya. sebagaimana firman Allah ,

”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi, para shidiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya".[81]



Wajib bagi setiap muslim untuk mendalami Kitabullah, dan mempelajari Sunnah-sunnah Rasul-Nya serta istiqamah padanya. Di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, tercantum penjelasan tentang perintah-perintah dan larangan yang dibawa dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alihi wa sallam. Dan di dalamnya terdapat penjelasan tentang akhlak mulia yang dipuji oleh Allah sebagai akhlak mukminin dan mukminat. Di antara firman Allah yang memuat akhlak mulia adalah surat Al-Furqan: 63-77. Allah befirman:

“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. [82]

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. [83]

Dan orang-orang yang berkata:"Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal". [84]

Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. [85]

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [86]

Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya) [87]

(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, [88]

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [89]

Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. [90]

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. [91]

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. [92]

Dan orang-orang yang berkata:

"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. [93]

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,[94]

Allah juga berfirman,

” Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”,[95]

Dan di antara akhlak yang ketiga adalah akhlak kepada diri sendiri, dengan memberikan hak-haknya seperti hak mata untuk tidur, badan untuk istirahat dan lainnya. juga menjauhkan badan dari hal-hal yang memudaratkan baik di dunia terlebih lagi di akhirat. Agar badan mendapatkan ketenangan di dunia maka dengan menentramkan hati lewat dzikrullah, Allah berfirman,

” (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram. [96]

Dan keselamatan badan di akhirat dari azab Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan kesalahan.

Semua bentuk akhlak di atas terangkum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Jundub bin Junadah Rasulullah bersabda:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَاتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan (bertaubat) niscaya kebaikan akan menghapuskan kejelekan. Dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang baik”[97]

Semoga Allah mengaruniai kita akhlak yang terpuji dan menghindarkan kita dari akhlak tercela, amin!.



Disarikan dari buku,” Akhlaqul Mukminn wal Mukminat, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, terj. “Akhlak Salaf, Mukminin & Mukminat, oleh Ihsan, (Solo: Pustaka At-Tibyan). (Abu Athiyah).







Bagian V

Manhaj Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah



Sesungguhnya berdakwah kepada Allah adalah jalan yang ditempuh Rasulullah e dan pengikut-pengikutnya, sebagaimana Allah I berfirman,

” Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". [98]

Dakwah kepada Allah merupakan tugas utama para Rasul dan seluruh pengikutnya, untuk mengeluarkan manusia dari kekufuran menuju keimanan, dari kesyirikan menuju tauhid dan dari Neraka menuju Surga. Dakwah tersebut ditopang dengan tiang-tiang yang didirikan diatas pondasi, jika salah satunya saja binasa maka dakwah tersebut tidaklah berjalan dengan benar serta tidak pernah membuahkan hasil yang diinginkan, meskipun dengan jerih payah yang amat sangat serta menghabiskan banyak waktu. Sebagaimana yang terjadi pada sebagian besar dakwah-dakwah modern masa kini yang tidak dilandasi dengan tiang-tiang dan juga tidak berdiri di atas pondasi tersebut. Adapun tiang-tiang yang menopang dakwah yang benar adalah seperti yang disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, ringkasnya sebagai berikut:



Pertama, mengetahui apa yang didakwahkan.

Maka seorang yang bodoh tidak layak menjadi da'i, Allah berfirman,

“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". ( QS. Yusuf : 108 ).

“Bashirah” maksudnya adalah ilmu, karena seorang da'i akan menghadapi ulama yang sesat dan berbagai syubhat (kekaburan), mereka membantah agar kebatilan bisa mengalahkan kebenaran, Allah berfirman:

“...bantahlah mereka dengan cara yang baik.”[99]

Nabi e bersabda kepada Mu'adz t: " Kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab…". Jika seorang da'i tidak berbekal ilmu yang dapat digunakan untuk menghadapi setiap syubhat, maka ia akan kalah di awal pertandingan atau terhenti di tengah jalan.



Kedua, Mengamalkan apa yang didakwahkan.

Seorang da’i menjadi teladan yang baik , tindakan sesuai dengan ucapannya sehingga tidak membuah celah bagi orang-orang untuk menghinanya, Allah berfirman tentang nabi-Nya Syu'aib yang berkata kepada kaumnya:

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan”.[100]



Ketiga, Ikhlas

Dakwah yang dilakukan hendaknya betul-betul mengharap ridha Allah, bukan supaya dipuji orang atau agar diangkat menjadi pemimpin atau demi keinginan duniawi semata, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah tentang nabi-nabi-Nya, bahwasanya mereka mengatakan, “Aku tidak meminta kepadamu balasan”. Juga,” Aku tidak meminta kepadamu harta”.



Keempat, Memulai dari sesuatu yang terpenting

Hendaknya pertama kali yang didakwahkan adalah masalah akidah dengan memerintahkan beribadah kepada Allah semata dan melarang syirik kemudian memerintahkan untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan sebagaimana jalan yang dilakukan oleh semua rasul, Allah berfirman

“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". [101]

Juga firman Allah: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". [102]

Ketika Nabi e mengutus Mu'adz ke Yaman, beliau berkata kepadanya:

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الكِتاَبِ , فَلْيَكًنْ أَوَّلُ مَاتَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَا الله فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاعلَمُهُم أَنَّ الله افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَاوَاتِ فِي اليَوْمِ وَ اللَيْلَةِ ..... الحديث

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab maka jadikanlah hal yang utama engkau seru kepada mereka adalah syahadah ( persaksian ) bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan jika mereka menjawab seruanmu maka katakan pada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu di dalam setiap harinya.........” Hadits.

Manhaj Rasulullah e dalam berdakwah menjadi teladan yang baik dan yang paling sempurna ketika beliau tinggal di Mekah selama 13 tahun mengajak manusia kepada tauhid dan melarang mereka berbuat kesyirikan sebelum beliau memerintahkan mereka shalat, zakat, puasa, dan haji dan sebelum beliau melarang mereka dari perbuatan riba, zina, mencuri, membunuh jiwa tanpa haq.



Kelima, Bersabar dalam menghadapi rintangan di jalan dakwah

Jalan dakwah tidaklah ditaburi bunga-bunga melainkan penuh dengan suatu yang tidak menyenangkan dan penuh dengan bahaya, sebagaimana yang terjadi pada para Nabi dan Rasul sebelumnya. Allah berfirman,

”Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.” [103]

Dan Allah berfirman :

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.” [104]



Keenam, Berakhlak yang baik dan bijaksana dalam berdakwah

Akhlak mulia merupakan sebab utama diterimanya dakwah sebagaimana Allah memerintahkan dua Nabi-Nya yang mulia Musa dan Harun u agar mereka bijaksana dalam menghadapi orang yang paling kafir di muka bumi ini yaitu Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan, Allah berfirman,

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". [105]

Firman Allah juga pada Musa u :

"Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)"[106]

Allah juga berfirman, tentang sikap yang harus dimiliki oleh Nabi kita Muhammad e:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”[107]

Allah juga berfirman : “Sesungguhnya kamu mempunyai akhlak yang mulia”. Allah juga berfirman :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [108]



Ketujuh, Seorang da'i harus memiliki rasa optimis

Seorang dai tidak mudah putus asa dalam dakwahnya atau mengharapkah hidayah atas kaumnya, seraya selalu mengharap pertolongan dan perlindugan dari Allah, meskipun waktu yang telah ditempuhnya sangatlah lama, karena pada rasul-rasul Allah terdapat contoh yang demikian itu.

Misalnya nabi Nuh u yang mendakwahi kaumnya selama 950 tahun. Dan demikian pula Rasulullah e ketika mendapat gangguan orang-orang kafir yang semakin berat, beliau didatangi oleh malaikat gunung yang menawarkan untuk melempar mereka dengan bebatuan. Rasulullah berkata: " Jangan , tetapi aku akan bersikap perlahan-lahan menghadapi mereka semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka seorang keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatupun".

Jika seorang da'i telah kehilangan sifat optimisnya, maka ia akan berhenti di tengah jalan dan mengalami kegagalan dalam menjalankan tugasnya.

Dan setiap dakwah yang tidak di bangun di atas manhaj para rasul ini, maka dakwah tersebut akan gagal, sehingga hanya melelahkan dan tidak ada faedahnya. Seperti jama'ah-jama'ah dakwah yang ada sekarang ini yang telah salah memilih manhaj dakwah dengan menyelisihi manhaj dakwah para Rasul. Mereka lalai dalam mendakwahkan akidah, sehingga mereka lebih mementingkan masalah-masalah yang sifatnya cabang (sekunder).

Sebagian jama'ah-jama’ah tersebut menyeru pada perbaikan hukum dan politik dan menuntut agar dilaksanakan hukum pidana dan diterapkannya syari'at Islam dalam bentuk undang-undang di tengah-tengah masyarakat. Ini merupakan hal yang penting namun bukan yang terpenting. Bagaimana mereka menuntut untuk diterapkan hukum Allah terhadap pencuri, pezina, sebelum ia meminta untuk diterapkannya hukum Allah terhadap pelaku kemusyrikkan?. Bagaimana ia meminta diterapkan hukum Allah terhadap pencuri sebelum ia meminta diterapkannya hukum Allah terhadap orang-orang yang menyembah berhala dan kuburan dan orang-orang yang mengingkari Nama-Nama dan sifat-sifat Allah ?.

Bukankah dosa kemusyrikan lebih besar dari dosa orang yang berzina, meminum khamer dan mencuri?!! Sesungguhnya dosa-dosa ini merupakan yang dilakukan terhadap hak mahluk ( hamba ). Sementara kesyirikkan dan menolak akan nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan kejahatan terhadap hak Khaliq ( Pencipta ) I, Sedangkan hak Pencipta lebih diutamakan daripada hak mahluk-mahlukNya .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,” Dosa-dosa ini apabila dilakukan dengan benarnya tauhid lebih baik daripada rusaknya tauhid diiringi dengan perbuatan dosa-dosa ini”.[109]

Hal ini juga sesuai dengan firman Allah,

” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.[110]

Sebagian jama'ah dakwah yang lainnya tidak menaruh perhatian terhadap masalah akidah, melainkan hanya mementingkan dakwah dengan membiasakan dzikir-dzikir dengan metode sufi dan menekankan akan pentingnya khuruj ( baik di luar atau di dalam negeri ). Yang penting bagi mereka adalah manusia mau bergabung bersamanya tanpa memandang akidah mereka. Semua ini merupakan cara-cara bid'ah dengan memulai dakwahnya pada bagian terakhir dari apa yang didakwahkan oleh para rasul. Hal ini bagaikan mengobati sekujur tubuh yang terpenggal kepalanya, karena akidah itu bagaikan kepala dalam masalah agama.

Yang diharapkan dari jama'ah dakwah ini adalah memperbaiki pemahamannya dengan merujuk kepada Al Qur'an dan As Sunnah agar mengetahui manhaj para rasul dalam berdakwah di jalan Allah . Karena sesungguhnya Allah telah memberikan kabar bahwa kekuasaan yang menjadi tujuan dakwah jama'ah-jama'ah tersebut tidak akan terwujud sebelum mereka memperbaiki akidah mereka yaitu menyembah Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Allah berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [111]

Mereka ingin mendirikan Daulah Islamiyah sebelum membersihkan negara mereka dari akidah-akidah berhala, dengan menyembah patung, orang yang telah meninggal dunia, meminta pada kuburan. Hal ini tidak berbeda dengan akidah orang-orang kafir jahiliyah terhadap Laata, 'Uzza , Mannah dan lainnya. Sesungguhnya berhukum dengan syari'at Allah, menegakkan hukum pidana, mendirikan pemerintahan Islam, meninggalkan larangan-larangan dan mengerjakan suatu kewajiban-kewajiban merupakan hal yang menjadi pelengkap dan cabang Tauhid. Maka bagaimana memperhatikan yang cabang sedang yang pokok dilupakan?

Apa yang terjadi dengan jama'ah-jama'ah dakwah ketika menyelisihi manhaj para rasul dalam berdakwah terjadi karena mereka tidak mengetahui manhaj dakwah para Rasul. Seseorang yang tidak mengetahui akan hal tersebut tidaklah pantas menjadi seorang da'i, karena di antara syarat-syarat dakwah adalah mengetahui ilmunya, sebagaimana Firman Allah:

“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". [112]

Dan yang terpenting bagi seorang da’i adalah ilmu. Sehingga ada di antara mereka yang ditanya tentang pengertian Islam, pembatal-pembatalnya dan lainnya, tidak mampu bisa mereka jawab.

Setiap jama'ah dakwah juga membuat metode dakwah tersendir yang berbeda antara satu jamaah dengan jamaah yang lain. Inilah akibat dari menyelisihi manhaj dakwah Rasulullah e, karena manhaj para Rasul adalah satu tidak ada perbedaan di antara mereka, sebagaimana Firman Allah:

“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, [113]

Maka siapa saja yang mengikuti jalannya Rasulullah e yang satu ini maka mereka tidak akan mungkin berselisih.

Mereka berselisih karena menyelisihi manhaj beliau, sebagaimana Firman Allah:

“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” [114]

Selama jama'ah-jama'ah dakwah yang bermacam-macam ini menyimpang maka ini akan membahayakan bagi Islam karena menyebabkan seseorang berpaling ketika akan masuk agama Islam dan hal tersebut bukanlah dari ajaran Islam, sebagaimana Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.”[115]

Islam juga menyeru agar berkumpul di atas kebenaran, sebagaimana Firman Allah: “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” [116]





Disarikan dari Pengantar" Manhajul Anbiya' fid Da'wah ilallah fihil Hikmatu wal 'Aql " karya Prof. DR. Syaikh Rabi’ bin Hadi bin Umar Al-Madkhali, oleh Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.

[1] Al-Jauhari, al-Shihah, 1/346

[2] Al-Maidah:48

[3] HR. Al-Darami no. 83

[4] Yusuf : 108

[5] Majmu’ Fatawa III/ 357

[6] Lihat : Al-Lalika'i Syarhus Sunnah No. 51 dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 8:1034

[7] Talbisul Iblis oleh Ibnul Jauzi hal.16 dan lihat Al-Fashlu oleh Ibnu Hazm 2:107

[8] Majmu’ Fatawa III/157

[9] Majmu’ Fatawa III/157

[10] HR.Muslim dalam kitab al-Iman

[11] Shahih al-Jami’ oleh Al-Bani I/12 No. 3816

[12] HR.Jama’ah

[13] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimah kitab shahihnya hal.15

[14] Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr

[15] Fathul Bari 13/259, dan Syarah Kitab Tauhoid ,Syekh Abdullah Al-Ghunaiman II/240

[16] As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 120

[17] Sunan ad-Darimi I/49

[18] As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 133

[19] al-Ibanah;I/206

[20] As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 133

[21] Syarah I’tiqad Ahlussunah, Al-lalika’iy I/65

[22] As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 137

[23] As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal. 137

[24] Tartibul Madarik I/72

[25] Madarijus sallikin III/174

[26] Ad-Durarul Mansyur, As-Suyuthi II/63

[27] As-Syarh wal Ibanah, Ibnu Batthah hal.137

[28] HR. Al-Bukhari 4/3641, 7460; dan Muslim 13 /65-67 pada syarah Imam Nawawy

[29] Al-Anbiyaa : 92

[30] Ali Imran : 72

[31] HR. Abu Dawud 5/4607, Tirmidzi 5/2676 Dia berkata hadits ini hasan shahih ; Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43

[32] HR. Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43

[33] Muhammad : 7

[34] Al-Fatihah: 1-2

[35] Al-A'raf : 180

[36] Al-Anbiyaa : 26-27

[37] Al-isra : 88

[38] At-Taubah : 6

[39] At-Taubah : 30

[40] Al-Baqarah : 285

[41] Al-Baqarah : 111

[42] Al-Baqarah : 80

[43] At-Takwir : 29

[44] An-Naml : 14,) Baca juga Al-An'aam : 33 dan Al-Ankabut : 38 ).

[45] Al-Anfaal : 2-4

[46] Al-Baqarah : 143

[47] An-Nisaa : 48

[48] An-Nisaa : 59

[49] HR. Bukhari 4/7137, Muslim 12 / 223 Syarah Nawawi

[50] Al-Hasyr : 10

[51] HR. Bukhari 3/3673, dan Muslim 16/ 92-93 Syarah Nawawy

[52] HR. Muslim 15/180 Nawawy, Ahmad 4/366-367 dan Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab As-Sunnah No. 629

[53] Al-Ahzab : 33

[54] An-Nisaa : 59

[55] Ali-Imran : 110

[56] HR. Muslim 1/Juz 2 hal. 22-25 syarah Nawawy dari Abu Sa'id Al-Khudry

[57] HR.Muslim 2/36-37, Abu Daud 5/49944, dan An-Nasaai 7/4197, Imam Ahmad 4/102 dari Tamiim Ad-Dary

[58] An-Nisaa : 36

[59] HR. Ahmad 13 No. 7396, Tirmidzi 3/1162, Abu Daud 5/4682, dan Al-Haitsamy dalam Mawarid No. 1311, 1926

[60] HR. Bukhori dan Muslim

[61] Al-Fatihah:5

[62] Al-Bayyinah:5

[63] Al-Ankabut: 63

[64] HR.Muslim

[65] Al-Hijr: 9

[66] Yunus:32

[67] Al-Anfaal: 60

[68] Al-Maidah: 3

[69] Al-A’raf:17

[70] An-Nahl:99-100

[71] Yusuf: 40

[72] lihat; An-Nahl: 60

[73] Ali Imron : 31

[74] Ash-Shaff : 9

[75] Saba' : 28

[76] Al-Baqarah : 21

[77] An-Nisaa' : 36

[78] Al-Isra' : 23

[79] Al-An'am : 153

[80] Al-Fatihah : 5 -7

[81] An-Nisaa : 69

[82] Al-Furqon:63

[83] Al-Furqon:64

[84] Al-Furqon:65

[85] Al-Furqon:66

[86] Al-Furqon:67

[87] Al-Furqon:68

[88] Al-Furqon:69

[89] Al-Furqon:70

[90] Al-Furqon:71

[91] Al-Furqon:72

[92] Al-Furqon:73

[93] Al-Furqon:74

[94] Al-Furqon:75

[95] Al-Baqarah : 177

[96] Al-Ra’du: 28

[97] HR. Tirmidzi-Hasan Shahih

[98] Yusuf : 108

[99] An Nahl : 125

[100] Huud : 88

[101] An Nahl : 36

[102] Al Anbiyaa’ : 25

[103] Al An’am : 10

[104] Al An’am : 34

[105] Thaaha : 44

[106] An Nazi’aat : 17-18

[107] Ali Imran : 159

[108] An Nahl : 125

[109] Istiqamah, 1/466

[110] An-Nisa:48

[111] An Nuur : 55

[112] Yusuf : 108

[113] Yusuf : 108

[114] Al An’am : 153

[115] Al An’am :159

[116] Ali Imran : 103

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar