يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Jumat, 01 Mei 2009

membongkar manhaj IKHWANUL MUSLIMIN(5)

19. Contoh-contoh Pidato Al-Banna

Berikut ini adalah sebuah pidato yang dinukil oleh as-Sisi dalam bukunya Qofilah al-Ikhwan hal. 150. Pidato ini diucapkan di pusat dan sarang kemusyrikan di Mesir, yakni di sebuah tempat yang dinisbatkan kepada Sayyidah Zainab[13]. Berkata as-Sisi dalam bukunya di bawah bab yang berjudul “Perayaan di Sayyidah Zainab” dengan mencuplik pidato al-Banna berikut ini :

“Wahai al-Ikhwan! Saya menasehati kalian dengan nasehat yang tulus, hendaklah kalian berpegang teguh dengannya. Yaitu bersihkanlah hati kalian, jernihkanlah niat kalian dan maafkanlah orang yang berbuat jahat dan menganggu kalian. Demi Alloh, saya tidak mampu melepaskan hati yang seperti ini, hati yang hanya mengenal cinta di jalan Alloh, hati yang hanya merasakan persaudaraan yang benar. Saya tidak akan melepaskan hati yang suci seperti ini untuk dikotori dengan kedengkian, untuk dirusak dengan kebencian, atau kejernihannya dicemari dengan permusuhan[14].

Sesungguhnya agama adalah cinta dan benci. Adalah ciri keimanan apabila kalian saling mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh. Maka hendaklah kalian saling mencintai, karena dengan cinta kalian akan bahagia, dan dengan perasaan ini kalian akan satu padu. Simpanlah revolusi kebencian kalian untuk masa yang akan segera datang, yang saat itu kita akan tumpahkan seluruh permusuhan kami. Saya tidak memaksudkan permusuhan di kalangan kami, sebab –segala puji hanyalah milik Alloh- kami tidak memiliki permusuhan di dalam barisan ini. Jika toh ada, biarlah ia seperti buih aliran banjir, biarkan buih itu lenyap ditelan bumi.

Adapun seruan jihad, ia adalah perasaan yang menyala berkobar-kobar. Makna jihad bagaikan ular yang mencari sarang di hati umat ini, umat yang dizalimi, dianiaya dan dirampas kemerdekaannya serta hak-haknya. Umat ini dikepung dari segala penjuru. Semua ini, wahai al-Ikhwan, akan menimpa umat ini pada tahun 1947 sebagaimana telah menimpa pada tahun 1919. Yakni sebuah umat yang jiwanya besatu padu dan barisannya teratur rapi.

Jika demikian halnya, jangan kalian pedulikan permusuhan di dalam! Wasiat yang tepat adalah hendaklah kalian menyimpan kebencian itu untuk permusuhan kami yang sebenarnya, yakni musuh-musuh tanah air dan umat! Mereka adalah kekuatan-kekuatan yang kalian telah mengenal nama-nama mereka dan mengetahui ciri-ciri mereka. Mereka adalah negara-negara penjajah yang saling berpecah belah dalam segala masalah. Mereka tidak dapatlah bersatu kecuali untuk satu tujuan, yaitu memperbudak kita, merampas kemerdekaan tanah air kita, merenggut kebebasan dan kekayaan negeri kita.

Negara itu adalah musuh nomor satu –maksudnya Inggris- lalu zionisme yang beroperasi di bawah perlindungan negara itu, berkeliaran di dalamnya seperti penyakit parah. Musuh-musuh kami di luar adalah kekuatan-kekuatan yang dahsyat. Akan tetapi Alloh lebih kuat, lebih tinggi dan lebih mulia.”

Saya (penulis) katakan : “Lihatlah –semoga Alloh memuliakan Anda- apakah beliau (al-Banna) menerangkan kalimat tauhid di tempat itu, yang mana syaithan bertelur di sana dan menetaskan telurnya? Syaithan di dalamnya telah memperdaya umat yang patut dikasihani, baik dari penduduk sekitar tempat itu maupun tempat lainnya. Maka demi Alloh, apakah Anda melihat perilaku macam begini dari seorang pemimpin dakwah salafiyah? Saya hanya melihat pidato tentang cinta, kesucian dan seruan perlawanan kepada penjajah demi pembebasan tanah air dan mempersatukan penduduk –baik muslim maupun kafir- di bawah satu komando, pidato yang bisa saja disampaikan oleh pemimpin manapun dari kalangan partai-partai sekuler, yang menyesuaikan pidatonya dengan apa yang disukai oleh massa![15]”



20. Pidato Kedua

Pada tanggal 23 Rajab 1366, al-Ikhwan mengadakan perayaan memperingati Isra’ Mi’raj[16]. As-Sisi dalam bukunya yang telah tersebut di muka (Qofilah al-Ikhwan) juz I hal. 109, menukil pidato al-Ustadz Hasan al-Banna berikut ini :

“Sebagian kaum Hindu, mereka mampu mengubur tubuhnya di dalam tanah selama beberapa hari tanpa menghirup udara, setelah beberapa hari berlalu ia bangkit dari galiannya tanpa kehilangan nyawa. Ini menunjukkan bahwa quwwatul irodah (daya kemauan) manusia, ketinggian jiwa dan keagungan pribadinya telah mengangkat ke derajat kejernihan seperti ini[17]. Maka apakah kalian keberatan terhadap seorang nabi yang diutus, beliau memiliki jiwa yang agung dan menempanya menuju ke derajat yang mulia hingga dengan kemuliaan itu beliau bisa naik hingga ke Sidratul Muntaha?!!

Dalam hubungan internasional, cukup dikenal adanya kebiasaan memanggil duta-duta negara asing oleh kepala negara tuan rumah apabila ada masalah yang amat penting dan mendesak untuk dibicarakan. Dan bagi Alloh permisalan yang tinggi. Alloh Ta’ala berkehendak mewajibkan sholat kepada kaum muslimin. Ia Azza wa Jalla memanggil Nabi-Nya lalu memerintahkan kewajiban sholat kepadanya...”

Lalu beliau (al-Banna) melanjutkan pembahasan tentang situasi politik dan ekonomi yang dihadapi negara (Mesir), beliau mengatakan : “Realita menunjukkan bahwa penyakit yang membinasakan bangsa ini ada tiga, yaitu kefakiran, tingkat kesehatan yang rendah dan al-Lili fi bali musy al-lili fi balki (maksudnya kebodohan).” Para hadirin tertawa riuh. As-Sisi mengomentari, “ini adalah lelucon terkenal tentang Mesir; penyakit, kemiskinan dan kebodohan. Namun al-Ustadz menginginkan untuk menyinggungnya secara halus tanpa melukai perasaan seorang pun.”

Saya (penulis) mengatakan, “Subhanalloh!!! Sungguh sang mursyid (al-Banna) tidak membedakan antara peristiwa luar biasa hasil produksi syaithan dengan mukjizat ilahi. Beliau mengumpamakan mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika naik ke langit seperti sejenis dengan lelucon dan permainan syaithan yang terjadi di kalangan orang-orang Hindu penyembah berhala (paganis). Terutama ketika beliau menganggap kesesatan itu memiliki derajat ketinggian dan keagungan.

Lantas, apakah cara yang lemah lembut itu termasuk dengan mendiamkan kejahilan massa?! Yakni cara para ulama yang menginginkan persatuan mereka (dengan mendiamkan kesalahan mereka, ed.)?!! Kalau begitu, dari siapa massa yang awam dan patut dikasihani ini belajar tentang agama mereka jika ulama mereka menyinggung tentang kebodohan mereka dengan uslub (cara) lelucon dan pengelabuan?!!



21. Pidato Ketiga

Pada tanggal 9 Juni 1948, seorang syaikh dari tarekat al-Mirghaniyah[18] al-Khathmiyah[19] berkunjung ke Kairo bersama pengikutnya. Berkata as-Sisi melukiskan kunjungan ini :

“Kantor pusat al-Ikhwan di Kairo mengadakan perayaan menyambut kunjungan as-Sayyid Muhammad ‘Utsman al-Mirghani. Dalam perayaan itu, al-Ustadz Mursyid al-‘Am berkata, “Sungguh kediaman al-Ikhwan sangat bergembira dan berbahagia ketika jiwa-jiwa yang bersih dan hati-hati yang mulia ini menerima bendera jihad dan pahlawan-pahlawan Arab serta ujung tombak pimpinan Islam.” Beliau (al-Banna) melanjutkan, “Mungkin banyak orang tidak tahu, wahai tuan-tuan, bahwa kami al-Ikhwan berhutang budi pada para guru al-Mirghaniyah dalam hal ajaran cinta yang tulus dan kehormatan yang agung. Mereka selalu melimpahi kami dengannya setiap kali utusan-utusan kami berangkat ke Sudan...

Tidak... bahkan ia adalah hutang lama sejak mula pertama berdirinya dakwah ini di Isma’iliyah, sebab tarekat al-Mirghaniyah adalah yang pertama mendukung, menyokong dan membantu mengokohkan al-Ikhwan. Saya pernah menghadiri peringatan Isra’ Mi’raj di Zawiyah atau Kholwah (tempat pengasingan diri) as-Sayyid al-Mirgani al-Kabir di Isma’iliyah, dan Zawiyah itu masih ada hingga kini. Saya seringkali teringat saudara-saudara kami di sana, maka kebaikan hati dan dukungan tarekat ini selalu menyertai perjalanan dakwah al-Ikhwan sejak awal pertumbuhannya. Yang mulia as-Sayyid ‘Utsman al-Mirghani al-Kabir dan penggantinya as-Sayyid Muhammad ‘Utsman, adalah orang-orang pertama yang mengemban bendera dakwah ini dan menyebarkannya.

Inilah sejarah!! Kami membicarakannya wahai tuan-tuan, untuk mengungkapkan tentang apa yang dipendam oleh al-Ikhwan untuk tuannya berupa cinta dan kasih sayang serta penghargaan atas kebaikan ini yang telah mereka berikan kepada dakwah al-Ikhwan semenjak masa fajarnya.[20]” (Qofilah al-Ikhwan, juz II hal. 208).

Saya (penulis) katakan : “Bisakah kami mempercayai suatu dakwah sebagai belahan dakwah salafiyah yang memerangi penyembahan kubur dan memberantas bid’ah jika sepanjang sejarahnya ia disertai oleh para syaikh tarekat sufiyah, bahkan mereka yang mengibarkan benderanya, berjuang di jalannya dan menyokong cita-citanya (semenjak awal berdirinya)?!! Saya bersumpah, demi Alloh!!! Tidak mungkin itu terjadi kecuali apabila kedua kutub telah bersatu (dan ini mustahil, ‑ed.)!!! Hal ini disebabkan karena agama kaum sufi seluruhnya dibangun di atas kubur, di dalam kubur dan di sekitar kubur. Lantas, bagaimana mereka bisa memberantasnya?!!

Walaupun demikian, mereka tetap menulis buku-buku, diantaranya yang terdapat dalam Ushul ‘Isyrin al-Ikhwan yang menyatakan, “Sesungguhnya pengkeramatan kubur, memberi penerangan di atasnya dan membangun masjid di sekitarnya adalah bid’ah yang harus diperangi.” Mereka menulis ini agar dapat berhujjah denagnnya jika didebat oleh seorang salafiy!!!



(bersambung ke bagian V)





Baca Bagian III


Home


Baca Bagian IV



[1] Muhyiddin(?) Ibnu ‘Arabi (w. 638 H/1240 M), adalah seorang pembesar sufiyah dari Andalusia (Spanyol) yang digelari oleh pengikutnya sebagai Syaikhul Akbar. Dia dilahirkan di Murcia dan dibesarkan di Sevilla. Ia mengembara ke timur dan menetap di Damaskus, Siria dan meninggal di sana. Ia menulis hampir 400 buku, dan yang terkenal adalah Al-Futuhat al-Makkiyah, Fushushul Hikam, Mafatihul Ghaib dan at-Ta’rifaat. Seluruh buku-bukunya berporos pada kesesatan, kekafiran dan kezindiqan. Ia dikafirkan oleh ulama ahlus sunnah wal jama’ah dan difatwakan supaya membakar karangan-karangannya. pent. & ed.

[2] ‘Abdul Wahhab asy-Sya’roni (w. 973 H/1565 M). Seorang penganut sufiyah dan fanatikus madzhab Syafi’iyah di Kairo, Mesir. Memiliki beberapa karangan, diantaranya al-Bahrul Maurud fil Mawatsiq wal ‘Uhud, al-Badrul Muniir, al-Jawaahir wad Durarul Kubraa, Latha’iful Mannaan dan Lawaqihul Anwaar fi Thabaqotis Saadatil Akhyaar. Dia terpengaruh oleh sufisme ekstrim pantheisme (Hululiyah) dan memiliki penyimpangan-penyimpangan aqidah yang parah. pent. & ed.

[3] Beliau adalah seorang penasehat dan penulis al-Ikhwan yang cukup terkenal. Karyanya yang berjudul Tarbiyatu Awlaad fil Islaam menyebar ke seluruh penjuru dunia. ed.

[4] Muhammad Zahid al-Kautsari (w. 1371 H/1952 M) adalah seorang fanatikus Hanafiyah yang beraqidah Asy’ariyah Maturidiyah Jahmiyah pembela ahlul bid’ah dan pencela ahlus sunnah. Guru dan pembesar ahlul bid’ah zaman ini. Para ulama ahlus sunnah telah membantah akan kesesatannya, diantaranya adalah al-‘Allamah al-Mu’allimi al-Yamani yang menulis at-Tankil bima fi Ta'nibil Kautsari minal Abathil, demikian pula Syaikh Muhammad Abdurrazaq Hamzah dalam Risalah fir Raddi ’ala Kautsari dan al-Muqobalah bainal Huda wadh Dhalal, Muhaddits al-Ashr Muhammad Nashirudin al-Albani dalam Muqoddimah Syarh ath-Thahawiyah, Syaikh Zuhair asy-Syawisy dalam Hasyiah (catatan kaki)-nya terhadap Syarh Aqidah ath-Thahawiyah dan Syaikh Ahmad bin Muhammad Shiddiq al-Ghumari dalam Bayaanu Talbiis al-Muftari Muhammad Zahid al-Kautsari. ed.

[5] Hasyawiyah adalah sebuah sebutan untuk orang yang linglung yang tidak faham dan sadar dengan apa yang dikatakannya. ed.

[6] Demikianlah ahlul bid’ah di setiap zaman dan masa akan senantiasa memusuhi dan memerangi ahlus sunnah dan menggelari mereka dengan gelar-gelar yang buruk. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Ibnu Qutaibah di dalam Ta’wil Mukhtalafir Hadits, “Ahlul bid’ah mengatakan ahlul hadits sebagai hasyawiyah…”. Syaikh Abdul Qadir Jailani di dalam al-Ghunyah berkata, “Kaum bathiniyah (esoteris) memberi gelar ahlul hadits sebagai golongan hasyawiyah karena perkataan mereka yang senantiasa didasarkan pada khobar-khobar dan atsar-atsar atau riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam…”

Sungguh indah apa yang dikatakan oleh al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah di dalam kitab beliau al-Kaafiyah asy-Syaafiyah, “Sungguh aneh mereka menjuluki orang yang mengikuti wahyu sebagai hasyawiyah. Yang mereka maksudkan dengan perkataan tadi adalah bahwa ahlul hadits itu ada wujudnya namun merupakan barang kelebihan saja bagi umat yang masuknya tidak menggenapkan dan keluarnya tidak mengganjilkan… tahukah Anda siapakah yang lebih layak menyandang julukan ini sesuai dengan tingkah laku dan perbuatannya? Siapa saja yang mengisi lembaran hati dan fikirannya dengan aneka bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, maka dia itulah hasyawi sejati, bukannya malah ahlul hadits pemuka umat Islam dan kaum mukminin. Mereka datang mereguk manisnya mata air sunnah, bukannya mata air ra’yu (pikiran). Sedangkan Anda meminum air qulut (sebuah sungai di Damaskus) yang bercampur di dalamnya antara kotoran dan bangkai…” pent. & ed.

[7] Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah an-Naisaburi (w. 311 H). Seorang imam ahli hadits yang digelari dengan imam al-a’immah (imamnya para imam). Beliau adalah pembela aqidah ahlus sunnah dan penganutnya dan penghancur bid’ah dan ahlinya. Beliau memiliki kitab hadits yang menghimpun hadits-hadits shahih yang sangat bermanfaat bagi ummat, yaitu Shahih Ibnu Khuzaimah. ed.

[8] Taqiyyuddin Abul ‘Abbas bin Taimiyah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah an-Numairi al-Harrani ad-Dimasyqi. Beliau dilahirkan di Harran tahun 661 H (1263 M) dan meninggal di penjara di Damaskus tahun 728 H (1328 M). Beliau seorang imam Ahlus Sunnah dan Syaikhul Islam, gurunya para imam ahlus sunnah dan pembela utama madzhab ahlus sunnah. ed.

[9] Abdul Fattah Abu Ghuddah, sekretaris jendral Ikhwanul Muslimin di Siria. Menimba ilmu dari al-Kautsari dan pembela utama madrasah pemikirannya. Dia didaulat sebagai ahli hadits Ikhwanul Muslimin yang memiliki banyak karya tulis di bidang hadits. Menikah dengan puteri al-Kautsari dan menjadi menantunya. Mengikuti jejak mertuanya (al-Kautsari) di dalam membela ahlul bid’ah dan melariskan kesesatannya. Para ulama ahlus sunnah bangkit membantah penyimpangan-penyimpangannya, diantaranya adalah al-‘Allamah Bakr bin Abdillah Abu Zaid yang menulis Baro’atu Ahlus Sunnah minal waqii’ati fi Ulama`il Ummah dan Syaikh Syamsu al-Afghoni (salah seorang murid Imam Al-Albani dari Afghanistan) yang menulis buku al-’Umdah likasyfil Astaar ’an Asroori Abi Ghuddah. ed.

[10] Muhammad ‘Ali ash-Shobuni, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang terkenal di Siria. Sekarang menjabat sebagai sekjen Rabithah al-‘Alam al-Islami di Makkah bagian I’jaz al-Qur’an (mukjizat al-Qur’an). Ia penganut fanatik aqidah Asy’ariyah Maturidiyah tulen. ed.

[11] Sa’id Hawa adalah ulama besar Ikhwanul Muslimin dari Siria dan penasehat ulung. Pemikirannya sangat kental dipengaruhi oleh sufiyah sebagaimana terlihat jelas dalam bukunya Tarbiyatuna ar-Ruuhiyah. Dia beraqidah Asy’ariyah Maturidiyah dan terlihat dengan sangat jelas dalam bukunya Jaulat fil Fiqhain. ed.

[12] ‘Abdul Hamid bin ‘Abdul Aziz Kisyik, lahir tahun 1933 di Sybrakhit kawasan al-Bukhairah, Mesir. Setelah lulus SD beliau menderita sakit mata dan akhirnya buta. Beliau salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang cukup disegani. Beliau seorang penasehat ulung yang pandai mempengaruhi umat dengan gaya retorikanya yang khas yang dapat membuat air mata bercucuran. Kaset-kasetnya menyebar di mana-mana, di toko-toko, taksi-taksi, rumah-rumah bahkan sampai di penampungan-penampungan gelandangan. Dia bersama-sama Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, seorang tokoh religius Mesir yang terkenal pernah dijebloskan ke dalam penjara pada rezim Nashir dan Sadat. Kedua-duanya adalah penganut faham sufiyah tulen. ed.

[13] Sebuah lapangan di Kairo yang di sana terdapat sebuah makam disamping Masjid yang dipercaya sebagai makam Sayyidah Zainab bin ‘Ali bin Abi Thalib. Makam tersebut dibangun sedemikian rupa dan diberi tirai menyerupai Ka’bah. Seringkali diadakan perayaan besar-besaran semisal haul dan menjadi obyek ziarah kaum quburiyun. pent.

[14] Coba bandingkan dengan ceramah-ceramah yang sering disampaikan oleh “da’i-da’i" terkenal Indonesia semisal Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Muhammad Arifin Ilham, Ihsan Tanjung, Didin Hafidudin, Jeffry al-Bukhari dan selain mereka. Perhatikan ucapan-ucapan mereka, apakah mereka pernah menyinggung masalah tauhid kepada umat?!! Apakah mereka pernah membahas bahaya syirik (mempersekutukan Alloh) kepada umat?? Ataukah mereka hanya membahas masalah hati, masalah pensucian jiwa, masalah amal shalih atau semisalnya.?!! Padahal apalah gunanya hati yang bersih, jiwa yang suci dan amal yang shalih apabila syarat-syaratnya tak terpenuhi, yaitu tauhid (mengesakan Alloh semata) dan meninggalkan syirik. ed.

[15] Sungguh benar apa yang dikatakan oleh penulis. Jika masalahnya hanya demikian, maka sesungguhnya para pemimpin-pemimpin sekulair pun juga dapat menyerukan hal yang sama. Karena ikatan persatuan yang mereka serukan adalah ikatan di atas prinsip tanah air, bangsa dan negeri. Walaupun aqidah dan agamanya berbeda-beda tidaklah menjadi masalah!!! ed.

[16] Lihatlah bagaimana jama’ah yang mengklaim berada di atas sunnah dan membela sunnah ini turut melanggengkan perayaan-perayaan bid’ah yang tidak ada asal-usulnya dari Islam. Mereka juga turut menyburkan bid’ah Maulid Nabi, Nuzulul Qur’an dan semisalnya. Bahkan tak jarang perayaan-perayaan semisal ini diiringi oleh nasyid-nasyid dan sya’ir-syair yang ada unsur ghuluw-nya di dalamnya terhadap Nabi dan orang-orang shalih. Pembaca budiman akan mengetahuinya pada pembahasan selanjutnyta –insya Alloh- ed.

[17] Subhanalloh! Semoga Alloh mengampuni perkataan Syaikh rahimahullahu. Dan semoga perkataan ini berangkat dari ketidaktahuan atau ketidaksadaran beliau rahimahullahu. Sungguh, ucapan beliau ini mengandung perancuan dan pengkaburan dahsyat terhadap aqidah umat, dan beliau seakan-akan tidak memahami akan adanya istidraj yang diberikan Alloh kepada orang kafir supaya mereka lebih leluasa dengan kekafirannya. Dan ucapan-ucapan seperti ini tidak hanya ada pada Syaikh al-Banna saja, namun selain beliau juga mengalami hal yang sama, sebagaimana ucapan Sa’id Hawwa dalam Tabiyatuna ar-Ruuhiyah (halaman 218) sebagai berikut :

“Seorang Nasrani menceritakan pengalaman pribadinya kepadaku, sebuah kisah pengalaman yang sudah populer. Lalu Alloh menakdirkan aku bertemu langsung dengan yang bersangkutan setelah aku mendengar kisah itu dari orang lain. Ia bercerita padaku tentang pengalamannya menghadiri majelis dzikir lalu salah seorang peserta dzikir memukulnya dengan sebilah pedang tepat di punggungnya hingga menembus dadanya, sehingga ia dapat memegang pedang itu dengan tangannya dan mencabutnya tanpa meninggalkan bekas tusukan dan rasa sakit. Sesungguhnya kehebatan yang terjadi pada pengikut tarekat ar-Rifa’iyah dan terus mereka lestarikan merupakan salah satu karunia Alloh atas umat manusia. Sebab, siapapun yang melihatnya maka tegaklah hujjah atas dirinya dalam bentuk yang sangat jelas terhadap kebenaran mukjizat para nabi dan karamah para wali…”

Subhanalloh, perhatikan cerita di atas, dimana Syaikh mengambil berita dari seorang Nasrani, padahal periwayatan dari seorang kafir ditolak. Lebih aneh lagi, perawi kisah itu (Nasrani) menceritakannya sebagai hujjah, lantas mengapa dia tidak masuk Islam??? Dan sungguh qiyas (analog) antara istidraj yang dilakukan oleh pengikut tarekat Rifa’iyah ini tidak dapat disamakan dengan mukjizat para Nabi dan karomah para wali. Ini sungguh qiyas fasid (analog yang rusak) dan qiyas baiynal fariq (analog dengan dua hal yang berbeda), bedanya istidraj adalah dari Syaithan sedangkan mukjizat dan karomah dari Alloh!!! ed.

[18] Sebuah tarekat sufiyah yang didirikan oleh Muhammad ‘Utsman al-Mirghani (w. 1268 H/1852 M), seorang sufi dari Tha’if, Hijaz. Ia menyebarluaskan tarekatnya di Hijaz dan Sudan. Ia bersama Muhammad bin ‘Ali as-Sanusi (pendiri tarekat as-Sanusiyah) adalah murid dari as-Sayyid Ahmad bin Idris al-Faasi, seorang pemimpin keempat tarekat al-Qodariyah al-Marakisiyah. pent.

[19] Adapun al-Khatmiyah, ia dinisbatkan kepada salah satu cabang tarekat asy-Syadzaliyah yang tersebar luas di Sudan. pent.

[20] Bahkan Syaikh al-Banna adalah seorang penganut ajaran tasawuf. Beliau dan jama’ahnya tumbuh besar di atas akar tasawuf. Dan beliau tetap terus mempertahankannya hingga menjelang akhir hayatnya. Beliau mengaku sebagai pengikut tarekat al-Hashafiyah dan secara rutin mengamalkan wirid az-Zaruuqiyah. (lihat Mudzakkiraat ad-Da’wah wad Da’iyah hal. 19-20). Beliau juga turut andil dalam membentuk yayasan syfiyah yang bernama al-Hashafiyyah al-Khairiyah di al-Mahmudiyah. Beliau pada tahun 1923 diterima sebagai anggota resmi tarekat al-Hashafiyah di Damanhur. Oleh karena itulah al-Banna berkata : “tidak masalah bila Anda katakan jama’ah Ikhwanul Muslimin dakwahnya salafi, manhajnya sunni dan hakikatnya sufi. ((Lihat Nidhamul Usri wa Risalatut Ta’alim hal. 12)
1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar