يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Jumat, 01 Mei 2009

membongkar manhaj IKHWANUL MUSLIMIN (UTAMA)

KOREKSI TOTAL MANHAJ IKHWANUL MUSLIMIN
Silsilah Rudud (Bantahan) terhadap Dakwah Ikhwanul Muslimin

(Bagian 1)


Sumber : Ath-Thariiq ila Jama’atil ‘umm

Penulis : Asy-Syaikh ‘Utsman ‘Abdussalam Nuh

Penterjemah : Abu Maryam Bahalwan.

Editor : Abu Salma al-Atsari




Sekapur Sirih



Beberapa waktu yang lalu saya dapat sebuah buku yang sangat bagus, yang saya dapatkan dari seorang ikhwan pada saat saya masih bekerja di Purwodadi Pasuruan. Penterjemah buku ini adalah senior dan bos saya di perusahaan saya terdahulu, dan beliau memberikan manuskrip hasil terjemahannya ini kepada saya. Saya lantas meminta izin kepadanya untuk memuatnya di dalam website saya dengan sedikit tambahan dan koreksi, dan beliau mengizinkannya.

Buku ini menjelaskan tentang koreksi atas kesalahan-kesalahan dakwah Ikhwanul Muslimin dan juga menyinggung masalah jihad di Afghanistan dan Palestina. Penulisnya (i.e. Syaikh ‘Utsman ‘Abdus Salam Nuh) adalah salah seorang salafiyun yang turut turun di medan jihad di Afghanistan, beliau pernah berjihad di bawah komando tokoh-tokoh mujahidin hizbiyun semisal Hekmatiyar, Abdur Rabbi Rasul Sayyaf, Abdullah Azzam rahimahullahu dan selainnya. Namun akhirnya beliau lebih memilih untuk bergabung berjihad di bawah komando al-Mujahid al-‘Alim asy-Syaikh Jamilurrahman as-Salafy rahimahullahu wa qoddasallahu ruuhahu. Para pembaca akan melihat fakta-fakta yang ditunjukkan oleh penulis bagaimana intrik dan konspirasi yang terjadi di tengah-tengah barisan mujahidin.

Penulis memiliki ciri khas yang unik di dalam menulis, beliau membagi tulisannya dalam bab-bab pendek dan ringkas namun padat. Walaupun bahasannya sering melompat-lompat tidak sistematis, namun hal inilah yang menyebabkan kita tidak bosan untuk membaca dan mengambil faidah darinya.

Tulisan ini akan saya turunkan secara bertahap –insya Alloh- di blog saya (http://dear.to/abusalma) dan silakan bagi siapa saja yang ingin menyebarkan risalah ini selama tidak untuk komersial. Mudah-mudahan buku ini dapat membuka mata kita dan dapat memberikan manfaat bagi diri kita dan kaum muslimin lainnya, terutama saudara-saudara kita di barisan Ikhwanul Muslimin. Tidak ada daya dan upaya melainkan hanyalah atas kehendak Alloh dan semoga Alloh memberikan balasan yang baik bagi penulis, penterjemah dan penyebar risalah ini.

Bangil, 20 Mei 2006

Akhukum Abu Salma al-Atsari


DAFTAR ISI

1. Berpegang teguh pada al-Kitab dan as-Sunnah.

2. Berpegang teguh pada aqidah salafiyah.

3. Bergabung dalam jama’ah al’umm (jama’ah induk).

4. Takdir Alloh dan nubuwah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

5. Saudara kami justru membenci kami.

6. Kami bersepakat namun hakikatnya berselisih.

7. Poin-poin kesepakatan.

8. Poin-poin perselisihan.

9. Permulaan dakwah al-Ikhwan dan pengaruhnya terhadap pemikiran dan cara pandang mereka.

10. Jika kalian menta’ati mayoritas manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan anda dari jalan Alloh.

11. Pembelaan al-Ikhwan.

12. Sesungguhnya hukum hanyalah milik Alloh.

13. Dakwah para Rasul ‘alaihi Salam.

14. Kemungkaran batal karena kemajuan zaman.

15. Beban kewajiban sesuai tingkat kemampuan.

16. Manhaj dakwah massa antara al-Ikhwan dan salafiyyin.

17. Pembelaan al-Ikhwan.

18. Jawaban kami.

19. Contoh-contoh pidato al-Banna.

20. Pidato kedua.

21. Pidato ketiga.

22. Pengaruh negatif tanpa Ilmu.

23. Wahai para da’I, berhati-hatilah dari cobaan Syaithan yang terkutuk.

24. Pembelaan al-Mursyid.

25. Pandangan dan pendapat kami.

26. Beginilah keadaan jama’ah al-Ikhwan.

27. Benturan dalam arena dakwah.

28. Makna syirik tasyri’ menurut al-Ikhwan dan salafiyyin.

29. Sikap Salafiyun terhadap syirik politik (al-hakimiyah).

30. Sikap al-Ikhwan terhadap syirik politik (al-hakimiyah).

31. Demokrasi.

32. Pemilu.

33. Sebab-sebab keruntuhan khilafah.

34. Hasil dakwah tauhid.

35. Nash-nash yang tidak dapat difahami kecuali oleh ulama’.

36. Berbagai pengaruh yang timbul dari dakwah tauhid.

37. Berbagai persekongkolan jahat untuk memukul dakwah tauhid dari dalam bentengnya.

38. Para pemuda, apa yang kalian inginkan selanjutnya?

39. Al-Ghozwul Fikri (Perang pemikiran) dan solusinya menurut al-Ikhwan dan Salafiyin.

40. Tuduhan-tuduhan ala ikhwan kepada da’i salafiyun.

41. Aliran ‘ekor keledai sultan’.

42. Pembelaan untuk orang-orang teraniaya.

43. Ucapan Syaikh al-Faqiy

44. Para pengikut dakwah salafiyah.

45. Metode empati dan ketergantungan pada tokoh-tokoh tertentu.

46. Pertanyaan-pertanyaan yang menjamin kesucian niat.

47. Keunikan dan keistimewaan dakwah salafiyah.

48. Jalan yang ditempuh jama’ah-jama’ah lain.

49. Cara mengembalikan khilafah menurut al-Ikhwan.

50. Fanatik golongan dan pengaruhnya terhadap aqidah

51. Alloh tidak menjadikan dua hati di dalam rongga dadanya.

52. Kritikan tajam dan jawaban kami.

53. Perbedaan antara aqidah dan hizbiyah.

54. Fanantisme aqidah antara salafiyah dulu dan kini.

55. Saudara-saudara kami mendukung kaum musyrikin yang melawan kami.

56. Aliran Asy’ariyah adalah salaf, tetapi…!!!

57. Kebingungan al-Ikhwan dalam mempersatukan dua seteru.

58. Mereka tidak peduli dengan aqidah ahlussunnah.

59. Dalil syar’i dan pemimpin haroki.

60. Al-Kitab dan as-Sunnah.

61. Bersatu di dalam perkara yang disepakati dan bertoleransi di dalam perkara yang diperselisihkan.

62. Al-Qodariyah.

63. Al-Jahmiyah dan orang-orang yang mengingkari al-‘Uluw.

64. Takutlah kalian kepada Alloh atas tuduhan kalian kepada kaum salaf.

65. Sebuah contoh yang disepakati kalangan awam.

66. Madzhab al-Kholaf: Ilhad terhadap sifat-sifat Alloh dan syirik di dalam tasyri’.

67. Aqidah al-Kholaf adalah aqidah al-Hulul (pantheisme) atau materialisme atheisme.

68. Harakah dan harakiyyin datang kepada kita.

69. Ya Islam, Ya Islam!!! Tidak aqidah yang benar dan tidak pula syariat yang benar!!!

70. Apakah Alloh menerima amalan tanpa landasan aqidah yang benar?

71. Revolusi Syi’ah menurut timbangan salafiy dan ikhwaniy.

72. Al-Ikhwan mengakui orisinalitas dakwah salafiyah.

73. Aqidah-aqidah sesat : jiwa orang-orang yang beriman akan meludahinya.

74. Mereka bukannya bodoh, namun mereka tidak punya pangkal pendirian.

75. Para pemimpin itu tetap keras kepala!!!

76. Fiqhul Waqi dan menasehati kaum muslimin atau… berbangga diri dan menjilat penguasa?

77. Apa yang mereka kehendaki dari para pemuda?!!

78. Inilah yang mereka inginkan untuk pada pemuda.

79. Al-Ikhwan menuduh kami telah kafir.

80. Apakah kalian melarang suatu perbuatan namun kalian sendiri mengerjakannya.

81. Memelihara keaslian antara al-Ikhwan dan salafiyah.

82. Apakah para ulama kami adalah antek-antek penguasa sementara ulama mereka adalah para nabi?

83. Al-Ikhwan dan partai-partai sekulair.

84. Perang Palestina.

85. Mengajak Yahudi untuk berperang melawan Yahudi.

86. Al-Ikhwan dan partai Wafd.

87. Al-Ikhwan dan Jamal Abdun Nashir.

88. Al-Wala’ (Loyalitas) dan al-Baro’ (disloyalitas).

89. Mereka megetahui kebenaran, tetapi…

90. Al-Ikhwan dan persatuan nasional.

91. Para penghafal teks dan foot-note.

92. Makna agama dan gerakan keagamaan.

93. Jihad Afghanistan.

94. Siapakah yang menggerakkan jihad Afghanistan?

95. Gerakan Jawanan Muslim.

96. Peranan Salafiyah dalam jihad Afghanistan.

97. Bersama Syaikh Salafiy di Afghanistan.

98. Bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran.

99. Kesaksian dating dari kalangan mereka sendiri.

100. Peranan salafiyun arab dalam jihad Afghanistan.

101. Peranan Al-Ikhwan secara perorangan dalam jihad Afghanistan.

102. Fatwa konstitusional.

103. Peranan resmi Al-Ikhwan dalam jihad Afghanistan.

104. Siapakah yang menghalangi jihad?

105. Lempar batu sembunyi tangan.

106. Apakah ini adalah aqidah seorang ‘alim yang bertakwa ataukah seorang jahil penyembah berhala?

107. Mujaddidi berbaiat kepada raja Zhahir Syah.

108. Ia menganut Syirik Rububiyah.

109. Ia menganut Syirik Uluhiyah.

110. Ia beriman pada ilmu syariat dan ilmu ‘hakikat’.

111. Ia berwala’ kepada Syi’ah.

112. Pokok-pokok aqidahnya.

113. Apakah makna syirik menurut mereka?

114. Nukilan-nukilan tentang persoalan ini.

115. Apakah mereka ini orang-orang pilihan?

116. Mendahulukan politik dari syari’ah.

117. Percakapan bersama seorang pemimpin harokah.

118. Percakapan bersama seorang pemimpin salafiy.

119. Prinsip tidak tunduk kepada kepentingan.

120. Sikap-sikap mulia dalam al-Wala’ wal Baro’.

121. Tuduhan dusta berbahaya kepada salafiyah.

122. Aqidah al-‘Uluw bukan sekedar bait-bait syair.

123. Tauhid baru!!!

124. Mencampuradukkan antara azimah dan ushul.

125. Hak-hak tauhid.

126. apakah makna salafi dan salafiyah?

127. Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah dan ketaatan itu hanyalah semata-mata bagi Alloh.

128. Apakah yang diinginkan salafiyun dari salafiyin.

129. Bantahan terhadap orang yang mengucapkan tuduhan ini.

130. Suatu gambaran tentang fanatisme tercela.

131. Ya Syaikhuna, janganlah anda meniru al-Ghazali, sebab orang itu sudah cukup bagi kami!

132. Bukan sufiyah dan bukan pula Ghozaliyah.

133. Apa yang diinginkan syaikh?

134. Kebebasan mutlak.

135. Al-Ikhwan dan kebebasan mutlak.

136. menggunakan nash yang shahih dengan pemahaman keliru.



PENGANTAR PENULIS

(Asy-Syaikh ‘Utsman bin Abdus Salam Nuh)



Sebagian kaum muslimin menentang buku ini karena di dalamnya terdapat masalah-masalah kontroversial, terutama penyebutan nama tokoh-tokoh terkenal. Sebenarnya saya ingin menghindari sedapat mungkin penyebutan nama seperti itu. Namun, mengingat sekarang ini sulit sekali membuat orang percaya, apalagi para pembaca buku tidak gampang lagi membenarkan sesuatu kecuali dengan disebutkan siapa yang mengatakan, di sumber mana dikatakan, bahkan pada halaman berapa tertera. Juga dikarenakan saya melihat adanya ashobiyah (fanatisme golongan) yang mematikan dan loyalitas kelompok yang telah mengalahkan loyalitas aqidah Islam, dan saya melihat pula partai-partai serta jama’ah-jama’ah ini telah mengembangkan diri di atas landasan pemikiran tokoh-tokoh mereka itu, maka terpaksa saya harus menyebutkan hal ihwal (tingkah laku) para pemimpin tersebut berikut ucapan-ucapan mereka yang menyelisihi manhaj (salaf).

Semua ini kami lakukan –dan Allohlah yang menjadi saksi dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di balik maksud kami- semata-mata untuk mempersatukan kalimat kaum muslimin dan mengarahkan jiwa mereka kepada agama Alloh Azza wa Jalla, mengajak mereka untuk menolong aqidah pendahulu umat ini sebagai ganti membela produk pemikiran orang-orang tertentu, ikatan kelompok serta fanatisme golongan.

Tentu saja penyebutan tingkah laku dan ucapan para tokoh ini termasuk satu jenis ghibah. Namun, mengingat tidak adanya pemenuhan tujuan kecuali dengan cara ini, lebih-lebih untuk mentahdzir (memperingatkan) kaum muslimin dari aqidah dan pemikiran orang-orang ini yang sebagian amat mirip dengan pemikiran kaum kuffar seolah-olah bagaikan ‘pinang dibelah dua’, seperti pengakuan mereka terhadap “demokrasi”, “persatuan nasional”, “kebebasan mutlak”, “Sosialisme” dan sebagainya, dan juga mengingat para pengikut mereka sangat ghuluw (ekstrim) di dalam mengangkat kedudukan pemimpin-pemimpin mereka dan menempatkan mereka sejajar dengan ulama-ulama besar umat (seperti Ibnu Taimiyah dan lain-lain), sehingga otomatis akan menimbulkan fitnah besar dan membangkitkan sikap taqlid kepada aqidah sesat para pemimpin mereka, maka ghibah di dalam keadaan seperti ini dibolehkan oleh para ulama.

Mereka telah mengambil dalil-dalil syar’iyah tentang dibolehkannya hal ini. Bagi yang ingin menelitinya lebih lanjut, silahkan merujuk kitab Raf’ul Raibah ‘amma uyajuuzu minal ghiibah karya Imam asy-Syaukani dan Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi (di dalam bab ma Yajuuzu minal Ghibah, juga masih banyak kitab-kitab lainnya semisal a-Farqu bainan Nashihah wat Ta’yir, juga sebuah kitab yang bagus yang berjudul Ithaful ‘Abid yang merupakan kumpulan pelajaran al-Allamah Abdul Muhsin ‘Abbad, ed.).

Diantara dalil-dalil mereka adalah ijma’ (konsensus) ulama tentang bolehnya -atau bahkan wajibnya- mengatakan, “fulan kadzdzab (pendusta)”, “fulan lemah”, “fulan haditsnya munkar”, “fulan mudallis (suka mengkaburkan antara perawi yang kuat dengan yang lemah, ed)” dan seterusnya sebagai penjagaan terhadap hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari penodaan para pendusta. Sebagai dalil mereka adalag ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada seseorang yang mengetuk pintu : “Persilakan dia masuk! Dia adalah sejelek-jelek keluarga” (Muttafaq ‘alahi).

Para ulama mengatakan bahwa di dalam hadits ini terdapat isyarat tentang bolehnya ghibah terhadap orang-orang munafiq, fasiq dan ahlil bid’ah dengan tujuan memperingatkan umat dari kejahatan mereka.

Kami di sini, membicarakan apa yang benar sehubungan dengan tokoh-tokoh ini, karena mereka memiliki manhaj yang mereka dakwahkan kepada manusia, mereka telah mengembangkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari Islam, mempromosikannya dan mengejek orang yang menyelisihinya. Diantara penyimpangan mereka adalah memprioritaskan pendapat-pendapat dan berbagai produk pemikiran di atas nash-nash syari’ah, penentangan mereka terhadap upaya tashfiyah (pemurnian) aqidah umat dengan alasan demi memelihara persatuan dan membenci perpecahan, sikap penyerahan diri mereka di hadapan berbagai pemikiran dan ideology modern dan bahkan mengakui kebenarannya melalui media massa, dan juga cara mereka mengumpulkan harta kaum muslimin yang dikeluarkan untuk tujuan membela agama dan menolong aqidah serta meninggikan kalimat Alloh, tetapi kemudian dialihkan untuk memenangkan jama’ah dan partai mereka.

Penyimpangan yang terakhir ini (yakni mengumpulkan harta kaum muslimin dengan yayasan-yayasan mereka, ed.) amat tampak jelas di Afghanistan. Lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi ikhwaniyah seperti Lajnah al-Birr, Haiah al-Ighatsah al-Islamiyyah al-‘Alamiyyah dan Maktab al-Khidmat yang melakukan pengumpulan sedekah kaum muslimin untuk jihad dan meninggikan kalimat Alloh, lalu di Afghanistan dan juga Pakistan mereka tidaklah membantu kecuali partai-partai dan pemimpin-pemimpin yang berkecenderungan ikhwaniyah, bahkan kadang mereka menyaurkan bantuan tersebut untuk partai-partai penyebar khurafat dan kesyirikan (akan datang buktinya insya Alloh, ed.). tetapi, mustahil mereka mau membantu para pemimpin salafi dan penganut aqidah shahihah. Mereka melakukan semua penyimpangan ini tanpa dalil syar’i kecuali semata-mata hanyalah karena fanatisme golongan.

Jika seorang muslim yang memiliki ghirah (semangat/kecemburuan agama) menyampaikan kepada mereka yang haq, mereka berargumen bahwa para pemimpin salafiyah tersebut suka mengkafir-kafirkan manusia, memecah-mecah kekompakan barisan mujahidin dan menyempal keluar dari ‘aliansi’!! Padahal mereka tahu bahwa setiap organisasi (mujahidin) ini sebelumnya berasal dari satu organisasi, lalu mereka keluar dan masing-masing mendirikan organisasi sendiri-sendiri. Mengapa mereka tidak mencela perpecahan ini?!! Padahal perpecahan ini disebabkan oleh perkara-perkara non-fundamental (aqidah) sementara keluarnya para pemimpin salafiyin dari ‘aliansi’ hanya karena terdorong oleh aqidah dan dakwah.

Karena itulah, kami memandang pentingnya memberi nasehat dan penjelasan walau terpaksa harus menyebut kelakuan orang-orang yang telah dan terus menerima miliaran dana kaum muslimin padahal mereka bersikukuh pada bid’ah-bid’ah dan menyelisihi aqidah salafiyah.

Semua ini kami lakukan dengan bersandar pada dalil-dalil yang tersebut di depan dan dengan mengharap semoga Alloh Azza wa Jalla memperbaiki keadaan mereka. Sebab, suatu nasehat dan penyebutan aib atau cela seseorang walau mengandung faktor negatif dalam hal menjauhnya seseorang tokoh karena khawatir menuai kritikan, namun mengandung pula faktor positif yang besar di dalam memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan tokoh tersebut. Seandainya ia tidak mau menerima kebenaran pada saat mendapatkan nasehat, namun setelah itu ia akan mengoreksi diri lalu menerima dan terselamatkan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berkata kepada Abu Dzarr : “Engkau seorang lelaki yang memiliki sifat kejahiliyahan” (HR Bukhari) dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga pernah mengatakan kepada kaum muslimin yang masuk Islam pada saat Fathu Makkah : “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh” (Shahih, HR Tirmidzi). Ini semua menunjukkan bolehnya menghadapi orang bodoh dengan mengungkapkan kesalahan-kesalahannya jika memang dibutuhkan. Yang penting, tujuannya semata karena ghirah terhada agama dan menampakkan kebenaran serta membongkar kebatilan.

Alloh menjadi saksi atas semua yang kami utarakan. Jika saya bersalah maka kesalahan itu murni berasal dari saya dan dari setan. Dan apabila saya benar maka kebenaran itu berasal dari Alloh Azza wa Jalla. Keutamaan dan anugerah hanyalah dari-Nya. Semoga sholawat dan salam serta keberkahan senantiasa terlimpahkan kepada nabi kita Muhammad beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Akhir seruan kami hanyalah segala puji milik Alloh Tuhan seru sekalian alam.





1. Berpegang teguh kepada al-Kitab dan as-Sunnah



Alloh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) : “Dan berpegangteguhlah kamu semuakepada tali (agama) Alloh dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS Ali Imran : 103). Dan firman-Nya pula : “… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS ar-Rum : 31-32).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “beriltizamlah (tetaplah) kalian dalam jama’ah.” (hadits shahih).[1] Seluruh kalangan ahlussunnah bersepakat bahwa nash-nash suci di atas dan nash lain yang semakna dengannya adalah dalil pentingnya persatuan kaum muslimin. Persatuan itu harus didasarkan pada kitabullah Azza wa Jalla dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan menapaki jalan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum serta orang-orang yang mengikuti jejaknya dalam masalah-masalah ushul (pokok) yang telah mereka sepakati. Inilah dalil tentang wajibnya berpegang teguh kepada aqidah as-Salaf ash-Shalih Radhiyallahu ‘anhum.





2. Berpegang teguh pada aqidah as-salaf



Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin, maka kami biarkan ia leluasa dengan kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS an-Nisa’ : 115). Juga firman-Nya (yang artinya) : “Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah : 100)

Ayat pertama mengandung ancaman yang keras bagi orang yang membuat-buat atau mengikuti suatu jalan dalam Ushul ad-Dien yang bukan jalannya kaum mukminin. Saya katakan di dalam Ushul ad-Dien karena memang para sahabat tidak bersepakat di dalam masalah-masalah furu’.

Ayat kedua berkaitan dengan pujian dan sanjungan yang agung dan mulia bagi tiga golongan kaum mukminin :

Pertama : kaum Muhajirin, dan masa mereka telah berlalu.

Kedua : Kaum Anshor, dan masa mereka telah lewat pula.

Ketiga : setiap orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan golongan ini tetap eksis hingga hari kiamat.

Ketiga golongan itu telah ridha kepada Alloh dan Alloh pun ridha kepada mereka. Dia telah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka akan tinggal abadi di dalamnya tidak ada putus-putusnya, sama sekali tidak ada kesuksesan yang dapat menandinginya.

Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan masalah ini begitu banyak, cukuplah bagi kita salah satu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “sebaik-baik manusia adalah masaku, kemudian masa setelahnya kemudian masa setelahnya.” (Muttafaq ‘alaihi) dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 kelompok, semuanya masuk neraka kecuali satu, yakni mereka yang berada di atas (sunnah)ku dan (sunnah) para sahabatku.” (Shahih, riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi).





3. Bergabung dalam Jama’ah al-‘Umm (jama’ah Induk)



Kaum muslimin!

Anda semua mencintai Kitabullah Azza wa Jalla, mencintai sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan mencintai jama’ah kaum muslimin yang anda berasal darinya. Maka janganlah anda membenci jama’ah itu dan jangan pula menyimpang dari sendi-sendi yang telah mereka sepakati. Barangsiapa berpegang teguh dengan sendi-sendi itu, maka ia telah bergabung bersama jama’ah kaum muslimin, walaupun hanya seorang diri, sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu : “Sesungguhnya al-jama’ah itu adalah apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau hanya seorang diri.”[2]





4. Takdir Alloh dan Nubuwat[3] Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam



Saudaraku kaum muslimin!

Sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla telah menetapkan, memutuskan dan mentakdirkan bahwa umat ini akan ditimpa dengan sesuatu yang telah menimpa umat-umat sebelumnya, yakni iftiroq (perpecahan) dan ikhtilaf (perselisihan). Tidak ada seorangpun yang mampu menolak keputusan-Nya dan tak ada yang mampu mencegah perintah-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan takdir yang bakal terjadi ini. Beliau telah berdo’a untuk kita dengan tiga macam do’a, Alloh telah mengabulkan dua do’a dari kekasih-Nya ini dan menolak satu do’anya, yaitu : “Ya Alloh janganlah Engkau jadikan mereka berpecah belah…” (HR Ahmad). Penolakan ini mengandung hikmah yang hanya diketahui oleh-Nya, namun hal itu tidaklah menjadi halangan bagi kita untuk berupaya mempersatukan kaum muslimin, tepat seperti halnya keyakinan kita bahwa rezeki telah ditentukan di sisi Alloh sebelum kita lahir, namun tak menghalangi kita untuk berusaha mencari rezeki tersebut.

Demikian pula keyakinan bahwa umur manusia tak sesaat pun disegerakan atau ditunda tidak menghalangi kita berusaha untuk menjaga keselamatan diri. Yang terpenting, kita memahami melalui wahyu samawi bahwa al-Firqoh an-Najiyah (Golongan yang selamat) hanya ada satu. Maka wajib kiranya kita menyeru seluruh manusia untuk menuju kepada firqoh tersebut. Jika mereka menyambut seruan tersebut, maka kita berhak memperoleh pahala dari Alloh sesuai dengan derajat keikhlasan kita ditambah dengan pahala orang yang mengikuti kita tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Sebaliknya jika mereka menolak seruan tersebut, maka kita telah selamat dari takdir Alloh dan nubuwah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kita memohon kepada Alloh untuk melimpahkan pahalanya atas niat kita, sebab hati manusia ada di genggaman jari-jemari-Nya. Ia membolak-balikkan hati itu menurut kehendak-Nya.





5. Saudara kamu justru membenci kami



Kaum muslimin!

Kami adalah kaum yang beriman kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya seperti keimanan kalian. Kami telah pula membaca peringatan keras dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang menyelisihi aqidah as-Salaf ash-Sholih. Demikian juga hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberitakan bahwa setiap keyakinan atau kepercayaan yang menyelisihi ‘aqidah Jama’ah al-‘Umm maka akan berakhir dalam neraka. Karenanya kami amat takut terhadap ancaman Alloh yang tertera di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kami mendambakan keselamatan dari api neraka dan mengharapkan kesuksesan agung dalam surga. Al-Qur’an telah mengajarkan kepada kita –demikian pula sunnah yang suci- bahwa seorang manusia tidak boleh meyakini suatu aqidah lalu berdiam diri (berpangku tangan).

Ia harus mendakwahkan ‘aqidah itu kepada orang lain, karena itu kami berpendapat bahwa dakwah kepada manusia menuju ‘aqidah salimah adalah wajib hukumnya.

Lalu, anehnya saudara kami merintangi dakwah kami, mencela daya upaya kami dan menjuluki kami dengan berbagai macam sifat, diantaranya : malas dan lalai berdakwah, bodoh terhadap fiqhul waqi’, dakwah kami adalah ucapan belaka tanpa amalan, kami adalah golongan fiqhul awraq (textbook thinking) atau tukang hapal teks-teks kitab dan catatan kaki, bahkan mereka sampai kepada tuduhan bahwa kami in adalah kaki tangan penguasa. Mereka menyebut manhaj, pemikiran dan ‘aqidah kami sebagai filsafat dusta, dan masih banyak lagi filsafat yang lain. Padahal kami bersepakat di atas dasar iman kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta bersatu pendapat dalam menapaki jejak as-salaf ash-Sholih.

Karena itu, patut kiranya kami membeberkan ke hadirat pembaca kaum muslimin letak perselisihan kami lalu berhukum tentangnya kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menurut pemahaman kaum salaf yang saleh. Lalu kami akan meminta anda –wahai para pembaca- jika telah terbukti siapa yang benar agar anda mendukung kebenaran dan para penegaknya hingga datangnya hari kiamat.

Untuk memudahkan anda menuju jalan penyampaian nasehat dan mempersatukan kalimat kaum muslimin, anda telah mengenal siapa kami, mereka adalah saudara kami dari kelompok al-Ikhwan al-Muslimun. Sekali lagi kami mengingatkan anda untuk tidak menghindari pemberian nasehat kepada orang yang bersalah, baik kepada kami maupun selain kami. Kita semua sering melakukan kesalahan, dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.

Perlu diingat, hendaknya ukuran kebenaran yang kita gunakan adalah apa yang difahami dan dipraktekkan oleh kaum muslimin terdahulu, yakni generasi para sahabat dan tabi’in serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Sebab semua kalangan –bahkan syi’ah, shufi dan khawarij sekalipun- mengaku berpegang teguh kepada al-Kitab dan as-Sunnah, namun mereka menafsirkannya sekehendak nafsu mereka.





6. Kami bersepakat, namun pada hakikatnya berselisih



Saudaraku kaum muslimin!

Mungkin anda akan merasa heran ketika membaca judul di atas. Tapi, sebentar lagi kami akan jelaskan arti judul itu dan memecahkan ‘teka-teki’ ini untuk anda. Kami secara teoritis berada di dalam kesepakatan karena setiap orang di antara kami mengaku berpijak pada al-Kitab dan as-Sunnah. Yang membedakan kami dari firqah-firqah lainnya adalah penyerahan total kami kepada aqidah as-Salaf as-Sholih dan ijma’ mereka. Hal ini terdapat di dalam kitab-kitab kedua belah fihak (antara kami dan mereka, ed.). Namun dalam tataran amaliah praktis maupun dalam pergerakan serta pemikiran terjadi banyak perselisihan yang semakin memperdalam jurang pemisah di antara kami dan mencerai beraikan barisan kami. Tahukah anda watak perselisihan ini? Apa saja dalil-dalil yang dikemukakan oleh kedua belah fihak? Apakah perselisihan-perselisihan itu termasuk ke dalam masalah yang lebih baik didiamkan, terutama di saat situasi yang paling kritis di dalam sejarah kaum muslimin ini? Atau, apakah perselisihan itu menyentuh masalah ushul kaum muslimin yang tidak boleh didiamkan saja bagaimanapun keadaan kita?

Saudaraku kaum muslimin!

Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi jelas bagi anda lewat buku ini. Kita memohon kepada Alloh bagi kita dan kaum muslimin agar ia berkenan memberi petunjuk kepada kita dalam hal-hal yang kita perselisihkan tentang kebenarannya, sesunggunnya Ia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya menuju jalan yang lurus.





7. Poin-poin kesepakatan



Sebagaimana yang telah disebutkan di muka, terdapat kesepakatan teoritis di antara kedua belah fihak, yakni penyerahan diri sepenuhnya kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta ijma’ kaum as-Salaf ash-Shalih yang mulia.

Kami tidak perlu mengungkapkan pendapat para ulama dakwah salafiyah dalam bab ini (karena sikap ulama salafiyun telah jelas, ed.), tetapi kami cukupkan degan sedikit mencuplik pendapat para pemimpin dan syaikh kelompok al-Ikhwan agar kami dapat membuktikan adanya kesepakatan teoritis ini.

Asy-Syakh Hasan al-Banna[4] rahimahullahu mengatakan, “saudara-saudara, kami menyeru anda sekalian sedangkan Kitabullah di tangan kanan kami dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di tangan kiri kami, amalan generasi salaf yang shalih dari umat ini adalah tauladan kami.” (Lihat : Majmu’ah ar-Rosail hal 46).

Al-Ustadz Umar Tilmisani[5] berkata, “Cukuplah kiranya bagi kami jika menengok kembali salah satu risalah yang disusun oleh Imam al-Banna, bahwa beliau telah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kepada mereka yang melemparkan tuduhan kepada kami: bahwa kami adalah salafiyin sejati.” (Majalah al-Mujtama’, no. 476, 15 April 1980).

Berkata pula DR. Abdullah Azzam[6], “Adapun aqidah as-Salaf ash-Shalih, ia adalah aqidah mereka yang berpegang teguh kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Saya terbina dan terdidik dalam aqidah ini dan saya tetap menganutnya –bifadhlillah- serta berharap semoga Alloh senantiasa mengokohkan aqidah ini pada diri saya dan semoga saya mati dalam keadaan berpegang di atasnya. Barangsiapa memusuhi aqidah as-salaf ash-Sholih maka berarti ia memusuhi agama ini, bahkan ia bukan lagi muslim. Sesungguhnya tujuan kami adalah mendukung aqidah ini dengan izin Alloh.” (Majalah al-Mauqif, no. 68, 10 Jumadil Akhir 1410, diterbitkan oleh al-Hizb al-Islami di Afghanistan).





8. Poin-Poin Perselisihan



Saudaraku kaum muslimin!

Adapun poin-poin perselisihan di antara kami pada dasarnya adalah satu, namun kemudian bercabang-cabang hingga panjang sekali pembahasannya. Pada awalnya, sumber perselisihan itu dapat secara singkat terangkum dalam pertanyaan berikut, “apakah perkembangan situasi terkini harus tunduk pada hukum syara’ atau sebaliknya, hukum syara’ yang harus tunduk pada situasi dan perkembangan politik terkini???”

Jika anda menjawab bahwa pernyataan pertamalah yang benar, maka kami berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kebatilan sehingga harus kembali kepada kebenaran agar kaum muslimin dapat bersatu padu dan kokoh di dalam menghadapi musuh mereka. Jika pernyataan kedua yang benar, maka kami berada di atas kebatilan dan merekalah yang benar, maka kami wajib segera kembali kepada kebenaran. Jika tidak kami termasuk para penyeru perpecahan dan kesesatan.



HOME


(bersambung bagian 2)





[1] Kami tidak mendapati sumber hadits ini seperti tertera di atas, Allahu a’lam. Namun terdapat sumber lain, yaitu sebuah atsar dari ucapan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : “Tetaplah kalian dalam jama’ah dan berhati-hatilah! Jangan sekali-kali kalian jatuh ke dalam perpecahan, sesungguhnya setan itu bersama satu orang, sedangkan dengan dua orang dia akan lebih jauh. Barangsiapa yang menghendaki bagian tengah surga, maka hendaklah ia beriltizam dengan jama’ah (muslimin).” Diriwayatkan oleh Ahmad I/18, Tirmidzi 2254 dan Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah hal. 88 dari berbagai jalur. Pent. & ed.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam al-Madkhol, terdapat pula riwayat lain oleh al-Lalika’I dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah, juz I, hal. 109, cet. Darut Thayyibah, Riyadh tanpa tahun. Lihat pula al-Hawadits wal Bida’ oleh Abu Syamah hal. 22. pent. & ed.

[3] Banyak penterjemah ketika menterjemah kata nubuwah diartikan dengan kata ‘ramalan’. Padahal ini adalah suatu kesalahan fatal. Karena ramalan sangat jauh berbeda maknanya dengan nubuwah, karena ramalan dasar pijakannya adalah gejala fisika atau gejala metafisika alam, namun nubuwah dasar pijakannya adalah wahyu. ed.

[4] Pendiri dan pemimpin Ikhwanul Muslimin yang pertama. Beliau meninggal dibunuh penguasa Mesir pada 12 Februari 1949 dalam usia 43 tahun. Semoga Alloh merahmatinya dan mengampuni semua dosa-dosanya. pent. & ed.

[5] Beliau adalah Mursyid ‘Amm (Supreme Guide) tertinggi Ikhwanul Muslimin yang ketiga setelah periode kepemimpinan DR. Hasan Isma’il al-Hudhaibi rahimahullahu (1949-1954). Beliau memimpin Ikhwanul Muslimin setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1970 oleh rezim Anwar Sadat. Pemikiran beliau banyak diwarnai dengan kontroversi baik internal maupun eksternal organisasi. Semoga Alloh mengampuni kesalahan-kesalahan beliau. pent. & ed.

[6] Beliau adalah salah satu da’i al-Ikhwan yang paling dekat dengan salafiyun dari segi aqidah. Beliau pernah berguru kepada al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu dan senantiasa menisbatkan diri sebagai muridnya. Namun beliau berselisih dengan al-Allamah al-Albani setelah al-Albani mentahdzir jama’ah Ikhwanul Muslimin. DR. Abdullah Azzam aktif mempropagandakan Jihad Afghanistan ke seluruh dunia. Beliau gugur dalam serangan bom yang dipasang di mobilnya setelah mengisi khutbah jum’at beserta putera-puteranya. Semoga Alloh menerima amalnya dan menjadikannya sebagai salah satu syuhada’ dan mengampuni semua kesalahan-kesalahan beliau. ed.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar