يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Jumat, 01 Mei 2009

membongkar manhaj IKHWANUL MUSLIMIN(2)

KOREKSI TOTAL MANHAJ IKHWANUL MUSLIMIN
Silsilah Rudud (Bantahan) terhadap Dakwah Ikhwanul Muslimin

(Bagian 3)



Baca Bagian 2
Sumber : Ath-Thariiq ila Jama’atil ‘umm

Penulis : Asy-Syaikh ‘Utsman ‘Abdussalam Nuh

Penterjemah : Abu Ikrimah Bahalwan

Editor : Abu Salma al-Atsari





15. Beban Kewajiban Sesuai Dengan Tingkat Kemampuan



Saudara pembaca!

Agar permasalahan ini semakin bertambah jelas, saya akan kemukakan sebuah misal, lalu saya akan bertanya kepada anda dengan sebuah pertanyaan yang syar’i, lalu meminta jawaban anda secara syar’i pula dan –maaf- jika anda seorang harakiy –sebagaimana sebutan mereka- maka hendaknya anda tidak mempergunakan logika berfikir harakiy dalam permasalahan ini. Sebab, pertanyaan saya nanti sifatnya syar’i, sehingga tidak menerima cara pandang politis atau sekedar logika manusiawi. Jawaban itu haruslah berlandaskan dalil-dalil yang dapat diterima oleh Rabb manusia.

Seandainya anda berada di suatu negeri atau masyarakat yang diperintah oleh penguasa sekuler, berjuta-juta penduduknya sebagian menyembah kuburan, sebagian lagi penganut syi’ah yang telah meyakini bahwa Al-Qur’an telah diitahrif (dirubah) dan Imam Ali mengetahui masalah ghaib serta mengimani Al-Qur’an yang berbeda dengan Al-Qur’an yang ada saat ini –yang konon diturunkan kepada Fathimah, sebagian lagi penganut faham Asy’ariyah yang tidak tahu apakah Alloh berada di telapak kaku mereka ataukah berada di atas Arsy-Nya dan mereka lebih mendahulukan postulkat-postulat Yunani daripada syariat Alloh. Ada sebagian lagi yang mengimani teori Darwin[1] tentang Al-Baqo’u lil Ashlah (The Survival of the fittest, ed.) atau teori-teori Freud[2] dan semacamnya. Sebagian mereka adalah para pelaku dosa besar seperti meninggalkan sholat, meminum khamr dan lain sebagainya. Sebagian yang lain mengikuti bid’ah dan lebih mengutamakannya di atas sunnah nabawiyah sehingga seakan-akan menganggap agama ini masih kurang lengkap sebagaimana ucapan Imam Malik, “Barangsiapa mengada-adakan bid’ah dan menganggapnya baik (hasanah), maka sungguh ia telah menuduh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam mengkhianati risalah”, dan yang semisal dengan hal ini masih banyak.[3]

Anda misalnya berada di dalam masyarakat seperti itu, sedangkan anda tahu dalil-dalil dan argumentasi yang shahih menunjukkan bahwa perbuatan penguasa sekuler adalah kesyirikan yang menyebabkan pelakunya menjadi murtad. Perbuatan itu jelas merupakan syirik, bahkan sebelum anda dan rekan-rekan anda mengenal kebenaran dan sebelum munculnya kelompok dari ikhwan anda –yakni para pemuda tanpa senjata-. Namun penguasa itu telah lama memegang kekuasaan dan telah menciptakan bagi dirinya dan para penyokongnya mesin perang yang tangguh untuk perlindungan dan kelanggengan rezimnya. Mereka menguasai semua lembaga-lembaga dan kantor pemerintahan, di tangan mereka terletak kendali pesawat-pesawat tempur dan kendaraan lapis baja, sehingga keinginan anda untuk mengungguli mereka adalah khayalan yang jauh. Sedangkan di sisi lain, jutaan manusia adalah para penganut berbagai jenis kemusyrikan, kekufuran, kemaksiatan dan bid’ah-bid’ah, sedangkan mereka berkumpul dengan anda sepanjang siang malam, anda hidup di tengah-tengah mereka, bahkan sebagian mereka menghadiri majelis-majelis anda di masjid-masjid dan tempat pengajian mendengarkan ceramah anda[4]. Padahal, jarang didapatkan diantara mereka orang-orang yang keras kepala dan fanatik, namun sebaliknya sebagian besar mereka bodoh dan menganggap syirik dan bid’ah sebagai pendekatan diri kepada Alloh yang paling utama. Bahkan para penganut aqidah Asy’ariyah dan Jahmiyah yang menganggap filsafat mereka sebagai tauhid dan tanzih (mensucikan Alloh dari sifat makhluk), padahal mereka berkeyakinan tuhan ada di mana-mana. Demikian pula golongan hululiyah (Pantheisme) yang menganggap bahwa tauhid adalah persatuan wujud yaitu dalam tauhid mereka tidak membedakan antara kholiq (pencipta) dan makhluq (yang diciptakan), bahkan mereka menganggap siapa saja yang memisahkan keduanya adalah musyrik!!! Andaikan anda pernah mencoba berdakwah bersama berbagai kelompok dan golongan ini, lalu Alloh memberikan hidayah-Nya kepada banyaka di antara mereka, lalu jika kemudian anda mengatakan, “kita tinggalkan mereka (untuk sementara) hingga dapat merebut kekuasaan”, maka saya bertanya kepada anda, “manakah dalilnya?”

Apakah anda dapat menunjukkan seorang saja dari para rasul atau para sahabat, atau ulama salaf yang melakukan seperti perkataan anda di atas tersebut? Terutama jika mengingat sesuai dengan sebab-sebab alamiah (sunnatullah, ed.) yang Alloh menjadikannya sebagai ukuran pembebanan kewajiban hukum masih terdapat waktu yang amat panjang sebelum rezim itu tumbang sehingga anda bersama dengan rekan-rekan pemuda anda dapat merebut kendali pemerintahan, bahkan kemungkinan cita-cita itu tidak bakal terealisasi pada masa kini. Sedangkan kita memiliki contoh pengalaman anda dari Jama’ah al-Ikhwan yang dakwah mereka tampil dalam situasi yang mirip dengan keadaan tersebut di atas, disamping terdapat pula dakwah lain yang dinamakan Anshorus Sunnah. Yang terakhir disebut ini (Anshorus Sunnah, ed.) berjuang keras di antara masyarakat awam mengajarkan kepada mereka tauhid dan aqidah yang lurus, mencegah mereka dari berbagai maksiat dan bid’ah, sedangkan al-Ikhwan bekerja keras menghimpun massa untuk melawan dan berkompetisi dengan partai-parti politik hingga menghabiskan waktu lebih dari 60 tahun dalam berbagai pemilu lalu disusul berbagai pemalsuan dan kecurangan, mengadakan konferensi-konferensi, menggelar berbagai unjuk rasa dan menggubah nasyid-nasyid perjuangan, lalu disusul dengan penjara, kemudian pergelaran pertunjukan sandiwara dan sebagainya.

Dalam selang masa itu, pendiri dakwah dan sebagian besar rekannya telah wafat, demikian pula telah mati satu atau mungkin lebih generasi yang seharusnya menjadi lawahn dakwah. Massa dalam jumlah besar memang telah menerima dan menyambut dakwah al-Ikhwan, tetapi selalu disertai dengan makar kaum sekuler hingga seolah-olah dakwah ini menjadi ‘pekerja sukarela’ yang menghimpunkan massa untuk kepentingan mereka. Berapa kali partai al-Wafd[5] yang sekuler itu mencapai jenjang kekuasaan lantaran ‘bantuan’ massa al-Ikhwan yang awam?! Berapa kali partai as-Sa’dy[6] mengambil keuntungan besar atas ‘bantuan’ massa al-Ikhwan?! Bahkan Jamal Abdul Nashir[7], musuh bebuyutan al-Ikhwan tak akan dapat meraih kekuasaan kecuali atas sokongan al-Ikhwan pula[8]. Lalu apa lagi?! Lalu massa yang itu-itu juga mulai bersorak menyambut keputusan-keputusan yang dibuat Nashir untuk melawan para pemimpin al-Ikhwan. Dan kini, sebagian besar mereka sedang menjumpai Rabb mereka dan amal-amal mereka yang lalu telah dibeberkan. Namun, sebagai bahan kontemplasi dan demi tergaknya dakwah di atas manhaj syar’i, kami akan membahas hal berikut :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar