يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Jumat, 01 Mei 2009

membongkar manhaj IKHWANUL MUSLIMIN(3)

16. Metode Dakwah Massa Antara Al-Ikhwan dan Salafiyun



Massa tersebut telah masuk ke dalam dakwah al-Ikhwan namun tidak pernah mendengar bahwa mereka sebenarnya sedang tersesat, tidak pernah mendengar bahwa mereka mempraktekkan sesuatu jenis kemusyrikan. Maka sejumlah besar mereka masuk (menjadi) anggota al-Ikhwan sementara mereka tetap menyembah kubur, sekaligus aktif pula turun ke jalan berdemonstrasi. Mengapa? Sebab mereka tidak pernah mendengar bahwa berdo’a kepada kuburan adalah syirik. Mereka telah menghadiri banyak muktamar-muktamar, liqo’-liqo’, demonstrasi-demonstrasi, namun tak pernah mendengar kecuali puji-pujian kepada rakyat ini bahwa mereka adalah rakyat yang mulia, yang merdeka, yang berani, dan yang menolak kezhaliman. Mereka tidak mendengar kecuali tentang pentingnya cinta dan persatuan serta pensucian hati dari rasa iri hati dan dengki. Ketika mereka turun ke jalan pada saat yang lain, mereka mendapati kaum sekulair mengatakan hal-hal yang sama, lalu apa bedanya antara seruan ini (al-Ikhwan, ed.) denga seruan itu (partai sekulair, ed.)???

Adapun (penerapan) hukum syariah, al-Ikhwan hanya menyerahkan tanggung jawabnya kepada penguasa saja, karena itu massa mendengar di dalam berbagai ceramah dan muktamar, bahwa sasaran celaan seluruhnya adalah partai-partai politik (yang berkuasa), merekalah penyebab kehinaan kita, pendudukan negeri kita, kemunduran kita, kekurangan bahan pangan sehari-hari dan sebagainya. Mereka tiada sedikitpun mendengar celaan kepada diri mereka sendiri. Maka ada seorang penganut Asy’ariyah yang hadir dan mendengarkan rapat-rapat umum ini, lalu posisinya menanjak hingga menjadi pemimpin jama’ah, namun tidak pernah ia mendengar bahwa sesungguhnya Alloh bersemayam di atas ‘Arsy. Pertemuan-pertemuan itu bahkan dihadiri seorang pemeluk agama Syi’ah semisal Nawwab Showafy yang pernah berceramah di dalam ‘pengajian selasa’[9] yang terkenal di kalangan al-Ikhwan, namun tak ada seorangpun memberitahunya bahwa keyakinan Syi’ah al-Imamiyah[10] adalah kemusyrikan dan kekafiran[11]. Lebih ajaib lagi, pertemuan-pertemuan itu dihadiri pula oleh kaum Nasrani yang tidak pernah diberitahu bahwa aqidah mereka ketuhanan Yesus adalah kufur. Mereka hanya mendengar bahwa “kita semua adalah putera-putera Mesir, rakyat Mesir!!!” dan sebagainya[12].

Pendiri jama’ah ini tentunya mengetahui bahwa massa awam tersebut melakukan banyak macam kemusyrikan yang telah didebat oleh para pemimpin Anshorus Sunnah al-Muhammadiyah. Jawaban mereka adalah, “sekarang bukan waktunya untuk membahas hal itu, hingga nanti tegaknya pemerintahan Islam.” Dan telah berlalu masa yang panjang sementara pemerintahan yang diimpikan itu tak kunjung tiba, hanya Allohlah yang tahu kapan kita berhak berkuasa di bumi.

Yang terpenting, sebagian besar massa tadi kini telah menjumpai Rabb mereka. Seandainya Alloh Azza wa Jalla tidak mentakdirkan adanya orang-orang yang memperbaiki aqidah ummat, tentu Dia akan menerima sebagian besar mereka dalam keadaan musyrik tidak diampuni dosanya oleh Alloh kecuali setelah bertaubat sebelum dijemput sang maut. Bahkan terdapat salah seorang murid al-Banna yang terdekat yang telah menjulang namanya sebagai pemimpin al-Ikhwan, justru tidak mampu membedakan yang mana tauhid dan yang mana syirik!! Siapakah yang akan bertanggung jawab di hadapan Alloh tentang tentang mereka ini yang menjumpai-Nya dalam keadaan musyrik? Dan siapakah yang telah menyatakan kepada mereka bahwa massa awam tidak wajib diluruskan aqidahnya kecuali setelah berada di bawah penguasa daulah islamiyyah yang kokoh? Alloh mengetahui bahwa mereka tidak punya dalil melainkan sekedar konsep-konsep pemikiran politis!

Adapun Anshorus Sunnah, dakwah mereka diterima oleh orang-orang yang dikehendaki Alloh mendapatkan hidayah-Nya. Mereka telah menjumpai Alloh dalam keadaan bertauhid –insya Alloh-. Bahkan seandainya tuduhan pemusuhan kepada mereka dianggap benar, yakni mereka tidak pernah membahas “syirik politik” di depan para penguasa, maka sebagai ijma’ ahlus sunnah, manusia yang menjumpai Rabbnya dalam keadaan bermaksiat selain syirik akan dapat masuk surga walaupun harus disiksa terlebih dahulu di dalam neraka. Seandainya orang tersebut mengenal tauhid, namun ia seorang yang pengecut, maka sifat pengecut bukanlah kesyirikan namun sekedar bentuk kemaksiatan. Ini adalah kemungkinan terjauh untuk dituduhkan kepada Anshorus Sunnah tentang kelalaian mereka.

Maka demi Alloh, anda seharusnya memutuskan sesuai dengan timbangan syara’, dakwah fihak mana yang lebih dekat dengan kebenaran? Para pembaca budiman, berhukumlah dengan hukum Alloh dan tinggalkan cara-cara permainan bahasa dan konsep-konsep pemikiran produk manusia. anda telah mengetahui bahwa mereka (al-Ikhwan) tidak memiliki dalil jika kelak ditanya Alloh Azza wa Jalla tentang mengapa mereka tidak mendidik orang-orang yang bodoh bersama mereka? Adapun Anshorus Sunnah, jawaban mereka mudah saja, yakni besarnya tanggung jawab adalah sebatas kemampuan; “Kami hanya mampu menjangkau massa, kami didik mereka, kami ajak mereka untuk menunaikan kewajibannya kepada Rabb mereka. Adapun elit penguasa yang dikawal jutaan tentara, dilengkapi pesawat-pesawat tempur dan kendaraan lapis baja, maka kami terhalang dari mereka oleh sebab-sebab alamiah. Kami hanya bisa melihat tampang-tampang mereka dari media massa. Kami telah menempuh jalan para nabi dalam berdakwah dan khususnya di dalam upaya mencapai kekuasaan.”

Adapun kalangan elit pelaku syirik politik, sebagian besar mereka adalah para pembangkang yang keras kepala. Mereka tidak melakukan syirik itu dengan maksud mendekatkan diri kepada Alloh melainkan sengaja menghina agama Alloh berdasar asumsi bahwa syariat Islam telah menjadi pemikiran reaksioner yang usang dan ketinggalan zaman. Orang macam begini tak ada manfaatnya didakwahi (terus menerus karena hatinya telah terkunci, ed.), kecuali dengan jihad bersenjata dalam batas kemampuan dan perimbangan kekuatan (dan terpenuhi syarat-syaratnya, ed.). Apabila dikatakan, “Musa ‘alaihi Salam saja pergi menghadap Fir’aun seorang diri!”, maka kami jawab, “Musa ‘alaihi Salam menghadap Fir’aun dengan bekal mukjizat di luar hukum kausalitas. Di sini lain beliau memiliki peluang menghadapi Fir’aun atau lebih jelasnya berhubungan dengan Fir’aun bukanlah suatu hal yang mustahil baginya. Adapun sekarang, kami adalah rakyat biasa yang tidak mudah melakukan apa yang dilakukan Musa ‘alaihi Salam. Maka apakah kami harus berdiam diri dari kesyirikan masyarakat awam hingga sampai tibanya kesempatan berkuasa, kesempatan yang amat langka ataukah kita menghentikan dakwah ini hingga tiba kesempatan tersebut, yang hanya bakal diperoleh oleh satu orang tidak bagi jutaan lainnya? Atau katakan, apakah kami harus mengganti sesuatu yang telah tersedia dengan sesuatu yang masih dalam angan-angan, lalu kami meninggalkan apa yang kami masih mampu melaksanakannya dengan memburu sesuatu yang berada di luar kemampuan kita?!!





17. Pembelaan Al-Ikhwan



Sekarang kami akan berikan kesempatan kepada al-Ikhwan untuk memberikan pembelaan diri. Diantara argumen yang mungkin akan mereka kemukakan adalah: tuduhan bahwa al-Ikhwan tidak memperhatikan dakwah menuju aqidah yang benar dan pemberantasan bid’ah adalah tuduhan yang zhalim, keji dan tidak pada tempatnya. Bukankah telah disebutkan di dalam risalah al-Ushul al-‘Isyrin[13] bahwa “memasang pelita di atas kuburan, membangun masjid di atasnya, thowaf di sekitarnya adalah perkara mungkar yang wajib diberantas.[14]” Bukankah pula banyak ulama al-Ikhwan yang menulis berbagai buku tentang tauhid, semisal Arkanul Iman oleh Muhammad Na’in Yasin dan Haqiqotut Tauhid oleh DR. Yusuf al-Qordhowi, dan masih banyak lagi lainnya. Lantas mengapa kalian menuduh murid-murid asy-Syaikh al-Banna buta terhadap tauhid, sebuah tuduhan yang tanpa bukti dan dalil!!! Yang benar adalah, dakwah al-Ikhwan itu syumul (sempurna mencakup seluruh aspek) dan tidak terfokus hanya pada satu bidang saja tanpa menghiraukan bidang yang lain”. Inilah jawaban dan pembelaan yang biasanya sering mereka kemukakan.



(bersambung ke bagian IV)





Baca Bagian II


Home


Baca Bagian IV



[1] Charles Darwin (1809-1882) seorang naturalis dan ahli biologi berkebangsaan Inggris, cucu dari seorang filosof dan naturalis yang bernama Erasmus Darwin. Dia adalah pencetus teori evolusi yang menyatakan bahwa makhluk hidup memiliki hubungan kekerabatan antara satu dengan lainnya dan berasal dari nenek moyang yang sama yang mengalami perubahan secara lambat (perlahan-lahan) dan yang terkuat adalah yang dapat selamat (the strongest will survive) dan adanya seleksi alam (Nature selection). Diantara karyanya yang fenomenal adalah The Origin of Species ,The Descent of Man dan Selection in Relation to Sex. Pemikiran Darwin ini menjadi dasar pijakan kaum evolusionis atheis untuk menjustifikasi ketiadaan pencipta, bahkan pemahamannya merupakan pendorong munculnya faham rasialis ektsrim semisal NAZI dan semisalnya. Banyak sekali problematika ilmiah di dalam teorinya dan banyak pula para saintis modern meragukan keabsahan teori ini, diantaranya sanggahan yang diberikan oleh ilmuwan Perancis yang bernama Dr. Maurice Bucaille yang membantah faham Darwinisme dengan cukup pedas namun saintifis. Namun sayangnya masih banyak pula para ilmuwan sekuler yang masih berpegang dengan teorinya dan masih pula diajarkan di perguruan-perguruan tinggi, bahkan sekolah-sekolah negeri kaum muslimin. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ed.

[2] Sigmond Freud (1856-1939) adalah seorang ahli kejiwaan dari Austria dan perintis teori psikoanalisa. Namanya sangat terkenal di dunia psikologi dan teorinya sering digunakan di dalam ilmi psikiatri. Freud memiliki teori yang kontroversi dan menyelisihi syariat Islam dan terkesan atheisme. Konsep berpijaknya yang atheis serupa dengan Darwin sehingga seringkali namanya dihubung-hubungkan dengan Darwin. Diantara teori Freud adalah dia menyatakan bahwa kebutuhan seksual manusia itu sama dengan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Padahal, di dalam Islam, kebutuhan seksual bukanlah merupakan suatu kebutuhan pokok, namun dia adalah suatu gharizah (naluri/insting) yang dimiliki manusia yang akan muncul apabila distimulasi oleh faktor eksternal, yang apabila tidak dipenuhi hanya menimbulkan gangguan psikis semisal kegelisahan dan semisalnya yang tidak membahayakan langsung tubuh sebagaimana kebutuhan akan makan dan minum. ed.

[3] Lihat : Al-I’tisham karya al-Imam asy-Syathibi, tahqiq oleh al-Allamah Muhammad Rasyid Ridha, Darul Fikro al-‘Araby, Beirut, vol. I, hal. 46. pent.

[4] Sungguh penulis telah benar, kami melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebenarnya dakwah (baca : seruan) mereka telah menyebar ke masyarakat umum, mulai dari tukang becak hingga orang-orang berdasi. Banyak diantara mereka hadir ke majelis-majelis mereka, namun sayangnya mereka hanya disibukkan dengan pembicaraan politik praktis dan kampanye-kampanye keparataian. Pembicaraan mereka hanyalah slogan-slogan partai dan segala atributnya, namun apabila mereka ditanya tentang masalah tauhid yang dasar, semisal “dimana Alloh?”, niscaya jawaban mereka akan beraneka ragam, ada yang menjawab, “Alloh ada dimana-mana”, “Alloh ada di dalam hati hamba”, “Alloh itu dekat”, “Alloh tidak bertempat” dan bahkan ada yang marah-marah sembari memprotes “mengapa antum bertanya dengan pertanyaan yang aneh begini? Pertanyaan semisal ini tidak penting, yang penting Alloh itu dekat!!! Memangnya antum ini siapa?!! Seakan-akan paling tahu tentang Alloh!! Lebih baik kita membicarakan saudara-saudara kita di Palestina yang dibantai… kaum kafir yang mulai turut intervensi ke negeri kita… pemerintah yang mulai korup… dst..” Wal’iyadzubillah. ed.

[5] Partai sekulair di Mesir yang menjajakan faham sekulerisme besar-besaran. Anehnya al-Ikhwan bergabung dengan partai al-Wafd pada pemilu tahun 1984. dan pada pemilu 1987, al-Ikhwan berkoalisi dengan partai buruh dengan mendirikian aliansi Islam. Mereka memnafaatkan slogan “Islam jalan keluar” untuk berkampanye dan menyerukan implementasi hukum Islam. ed.

[6] Partai as-Sa’dy al-Mishri adalah partai yang berkuasa di bawah pimpinan an-Nuqrashi Pasha ketika al-Ikhwan dibubarkan pada 8 Desember 1948. pent.

[7] Jamal Abdul Nashir (1918-1970) adalah kelahiran Bani Murr (Asyuth). Ia membentuk Harokah adh-Dhobbath al-Ahrar (Free Officers Movement) yang menggulingkan Raja Faruq Mesir pada tahun 1952. tahun 1956, ia menasionalisasi terusan Suez dan ia termasuk pimpinan dunia ketiga bersama Nehru (India), Tito (Yugoslavia) dan Soekarno (Indonesia). Pernah menulis buku yang berjudul Falsafah ats-Tsauroh (Revolution Philosophy) ed.

[8] Hal serupa juga terjadi di negeri ini. masih segar di ingatan kita bagaimana manuver partai ini yang berkoalisi dengan partai sekuler lainnya (walau dikatakan berbasis Islam) di dalam men’gol’kan Gus Dur untuk berlenggang di kursi kepresidenan dalam rangka menjegal Megawati, yang mana kemenangan Gus Dur ini disambut riuh pikuk takbir dan sholawat. Kemudian beberapa tahun berikutnya partai ini turut meng’impeach’ presiden Gus Dur dan membantu berlenggangnya Megawati ke kursi kepresidenan. Bahkan contoh terbaru adalah pada saat pilpres kemarin. Partai ini sempat mengalami dilemma antara memilih Jend. Wiranto ataukah Amien Rais. Bahkan tak segan-segan partai ini turut menyebarkan brosur dan pamphlet yang menjelek-jelekkan dan mendiskreditkan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun ketika dilihat bahwa dua pilihan mereka di awal tidak bakal menang, maka maneuver politik untuk merebut massa dan kekuasaan dirubah, mereka membanting stir dengan turut mendukung naiknya SBY ke kursi kepresidenan. Allahul Musta’aan.

[9] Al-Ikhwan memiliki tradisi mengadakan pertemuan para anggotanya untuk mengkaji Islam setiap hari selasa yang disebut Hadits Tsulatsa’. Tradisi ini dimulai pada awal dakwah al-Ikhwan oleh perndirinya Hasan al-Banna rahimahullahu. Beliau rahimahullahu memulai dakwahnya di warung-warung kopi kota Ismailiyah, terutama setiap hari Selasa yang diadakan rutin yang disebut ‘Athifah ast-Tsulatsa’ (Bisikan di hari Selasa). pent.

[10] Yakni satu sekte Syi’ah yang beriman kepada 12 imam yang ma’shum, tidak mengakui al-Khulafatur Rasyidah kecuali Khalifah ‘Ali dan mengkafirkan seluruh sahabat melainkan hanya beberapa orang saya. Syai’ah ini sama dengan Syi’ah Itsa Asyariyah yang dianut oleh Khomeini dan mayoritas rakyat Iran.

[11] Dalam hal ini, al-Ikhwan tampaknya tidak begitu ambil pusing dengan kekafiran Syia’h selama bisa merapatkan dan menyatukan barisan. Al-Banna pernah mengadakan pertemuan dengan pemimpin Iran, Ayatullah al-Kasyani di HIjaz tahun 1948 untuk mengeliminir perbedaan-perbedaan antara sunni dan syi’i. Tampak jelas bahwa mereka berdua telah mencapai beberapa titik temu kesepakatan dan mungkin akan mencapai titik pusat yang menjadi tujuan bersama apabila al-Banna tidak lebih dulu terbunuh, Allahu a’lam. Bahkan pada saat meletus revolusi Iran, al-Ikhwan dengan gegap gempita mendukung revolusi ini dengan menutup mata terhadap segala kekafiran revolusi ini dan bahkan malah memusuhi dan membenci ahlus sunnah sembari menuduh ahlus sunnah sebagai ‘pemecah belah umat’, ‘corong kaum kafir’ dan ‘tidak memiliki wala’ (loyalitas) terhadap kaum muslimin.’ (lihat pembahasan ini di dalam majalah al-Mujtama,’ Kuwait no. 434/25/2/1979M dalam artikel berjudul Bayaanu Tanzhim al-‘Alamin Ikhwanil Muslimin). Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin yang ke-3, Umar Tilmisani rahimahullahu dan yang ke-4, Muhammad Hamid Abu Nashr rahimahullahu pernah pula menyerukan persatuan suuni-syi’i, padahal hal ini sama dengan penyeruan persatuan tauhid-syirik, sunnah-bid’ah dan islam-kafir. Hal yang serupa, bahkan lebih parah lagi dilakukan oleh Hizbut Tahrir. ed.

[12] Di Zaitun misalnya, orang-orang Qosawiyah selalu mengunjungi al-Ikhwan manakala mereka mengalami kesulitan di dalam merayakan hari-hari besar keagamaan. Dan tatkala banyak anggota ikhwan yang dijebloskan ke dalam penjara, turut serta pula dijebloskan kaum nasrani yang turut berpastisipasi di dalam dakwah al-Ikhwan, diantaranya Prof. Amin Petrus, guru bahasa Inggris di sekolah menengah Ibnu Khaldun. Mereka ini dijebloskan ke dalam penjara bersama anggota al-Ikhwan lainnya di masa pemerintahan an-Nuqrashy. Di kantor pusat Ikhwanul Muslimin pernah dibentuk biro politik yang anggota-anggotanya berasal dari wakil organisasi Kristen Koptik, Wahib Daus, seorang sarjana hukum dan Luois Voneux bergabung dengan tiga orang tokoh terkemuka al-Ikhwan. pent.

[13] Risalah al-Ushul al-‘Isyrin adalah dua puluh asas gerakan Ikhwanul Muslimin yang dittulis oleh pendirinya, Syaikh Hasan al-Banna rahimahullahu. Risalah al-Ushul al-‘Isyrin ini dan Arkanul Bai’ah (Sepuluh Rukun Baiat) termuat di dalam Risalah Ta’lim yang ditujukan untuk abggota Ikhwanul Muslimin. al-Ushul al-‘Isyrin dimaksudkan sebagai “Common Platform” antara al-Ikhwan dengan jama’ah-jama’ah atau organisasi social keagamaan lainnya, seperti Anshorus Sunnah al-Muhammadiyah, Jam’iyah asy-Syari’ah, Syabab Sayyidina Muhammad, Jam’iyyah Syubbanul Muslimin, tarekat-tarekat shufiyah dan lain-lain. Adapun Arkanul Bai’ah sasarannya adalah akhun ‘amil (anggota aktif) al-Ikhwan, sebab setiap orang yang ingin pindah dari anggota ‘partisipatif’ atau simpatisan menjadi anggota aktif haruslah berbaiat kepada komandan dakwah atau wakilnya dengan baiat ini. banyak ulama al-Ikhwan yang berusaha mensyarah, menafsirkan dan menguraikan prinsip ini. Yang pertama kali melakukannya adalah Syaikh Abdul Mun’im Ahmad Thu’ailib. Beliau telah mensyarah risalah tersebut seluruhnya dengan ringkas dan cepat. Pada adal 1950-an terjadi polemik antara tokoh al-Ikhwan tentang siapa yang berhak mensyarah prinsip tersebut, yaitu antara al-Ustadz al-Bahy al-Khauly dengan al-Ustadz ‘Abdul ‘Aziz Kamil, yang keduanya adalah murid langsung Hasan al-Banna. Pada periode tahun 1980-an, berbagai syarah lain bermunculan. Yang cukup terkenal adalah uraian al-Ustadz Muhammad al-Ghozzali yang berjudul Dustur al-Wahdah ats-Tsaqofiyyah bainal Muslimin dan uraian DR. Yusuf al-Qordhowi yang berjudul Nahwa Wahdah Fikriyyah lil ‘Amilin lil Islam.pent.

[14] Prinsip ke-14 dari ­al-Ushul al-‘Isyrin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar