يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Jumat, 31 Juli 2009

ABDUH ZA DAN ABU AZZAM

Kenapa saudara Abduh ZA terkesan bersemangat membersihkan nama ‘Abdullah ‘Azzam?
Jun
30
30 Juni 2007, admin @ 03:51

Kemudian, suatu tanda tanya besar yang perlu dikemukakan di sini, yaitu kenapa saudara Abduh ZA sangat terkesan bersemangat membersihkan nama ‘Abdullah ‘Azzam dari bentuk keterkaitan apapun dengan tokoh Khawarij yang satu ini (Usamah bin Laden)? Kami terheran-heran dengan hal ini, terkhusus ketika kami melihat saudara Abduh ZA cepat-cepat berupaya membersihkan dirinya dari kemungkinan adanya asumsi sekecil apapun bahwa dirinya membela atau minimalnya simpati kepada tokoh-tokoh yang telah dicap sebagai teroris. Hal ini tampak dari perkataan dia pada beberapa tempat di bukunya tersebut, antara lain:

Halaman 301, catatan kaki no. 575:

“Dalam buku beliau disebutkan juga; Usamah bin Laden, Mullah Omar, dan Jendral Khaththab; namun sengaja tidak kami masukkan. Tampaknya, Al Ustadz Luqman memang sengaja membuat opini tertentu dengan sering menyandingkan Usamah bin Laden, Aiman Azh-Zhawahiri, Mullah Omar, atau Jendral Khaththab;dengan para ulama besar dengan segala keilmuan, pengorbananan, dan karyanya yang sudah diakui umat. Itu pun, Al Ustadz Luqman sering sekali ketika menyebutkan tokoh ulama yang beliau anggap sebagai teroris, beliau akhiri dengan “dll” (dan lain-lain). Artinya, memang banyak sekali daftar ‘ulama teroris’ yang telah beliau koleksi. Sedikit catatan, kami belum bisa memberi banyak komentar tentang; Bin Laden, Azh-Zhawahiri, Mullah Omar, dan Jendral Khathab;sebelum jelas benar bagi kami tentang profil mereka yang sesungguhnya.”

Perhatikan, dengan sengaja saudara Abduh ZA menghapuskan nama-nama tersebut (Usamah bin Laden, Mullah Omar, dan Jendral Khaththab) dari deretan tokoh-tokoh berpaham Khawarij yang kami sebutkan dan dia tampak sangat keberatan untuk menyandingkan nama-nama mereka dengan nama ‘Abdullah ‘Azzam, sampai-sampai dia berani menghapus nama-nama tersebut dari apa yang telah dia nukil dari buku kami MAT. Semestinya deretan nama-nama tersebut adalah: Usamah bin Laden, ‘Abdullah ‘Azzam, Salman Al-’Audah, Safar Al-Hawali, ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rantisi, Mullah Omar, Abu Sayyaf, Jendral Khaththab …dll sebagaimana termaktub dalam buku kami MAT hal. 167 cetakan I atau halaman 176 cetakan II.

Cara penukilan saudara Abduh ZA di atas, yaitu dengan menghapuskan sederetan nama yang ada pada sumber asli, merupakan sikap tidak bertanggung jawab dan telah menyelisihi janji yang selalu digembar-gemborkannya. Mari kita sedikit belajar untuk bersikap objektif, proporsional, ilmiah dan bertanggung-jawab.

Perlu diketahui bahwa penghapusan ini sengaja dia lakukan dengan alasan belum adanya kejelasan tentang profil mereka yang sesungguhnya, berbeda dengan “para ulama besar” yang telah diakui oleh umat “segala keilmuan, pengorbanan, dan karyanya.” Alasan ini dia pertegas dalam ucapannya pada halaman 248:

“Dan, nama-nama orang yang dituduh sebagai teroris oleh sebagian kalangan (seperti; Usamah bin Laden dan Aiman Azh-Zhawahiri, misalnya) pun ternyata tidak dikenal sebagai ulama, atau setidaknya belum terdengar peran mereka dalam dunia ilmu-ilmu keislaman, baik berupa buku-buku ataupun ceramah-ceramah.”

Sungguh luar biasa. Tokoh “tenar” semacam Usamah bin Laden dan Aiman Azh-Zhawahiri serta kawan-kawannya, dia nyatakan tidak dikenal sebagai “ulama” 253) dan belum terdengar peran mereka. Berbeda dengan “ulama-ulama” –-menurut versi Abduh ZA— yang telah diketahui “keilmuan” dan “pengorbanan”-nya. Tentu hal ini akan dirasakan sebagai pelecehan bagi para simpatisan Usamah bin Laden dan Aiman Azh-Zhawahiri serta para pengusung paham mereka berdua semacam Abu Bakar Ba’asyir, Imam Samudra, begitu pula Fauzan Al-Anshari, dan tokoh-tokoh berpaham Khawarij lainnya yang sangat membanggakan Usamah bin Laden bahkan memposisikannya sebagai syaikh.

Lihat pernyataan Imam Samudra berikut ini dalam memuji Usamah bin Laden:

“Pernyataan Syaikh Usamah bin Laden, dalam kapasitas sebagai mujahid ahluts-tsughûr, di balik segala pernyataannya itu, bertebaran sekian banyak dalil syar’i dalam rangka melaksanakan operasi istisyhsdiyah global. Beliau bukan seorang Nabi, tidak pula luput dari kesalahan (ma’shûm). Akan tetapi, fatwa, pandangan, pernyataan beliau tentang operasi jihad dengan segala ragamnya, adalah lebih mendekati kebenaran dari pada mereka yang sama sekali yang tidak pernah menginjak tanah jihad apalagi angkat senjata menghadapi kaum kafir, sekalipun sebagian manusia menggelari mereka dengan “ulama”.” 254)

Begitu juga Abubakar Ba’asyir dalam menyanjung Usamah bin Laden. Yaitu dalam pengantarnya terhadap buku terjemah: BUKAN.. Tapi Perang terhadap Islam, Ba’asyir berkata:

“Di samping itu, penulis juga menjelaskan siapa sebenarnya Taliban dan Mujahid Usamah bin Ladin, yang dijadikan sasaran fitnah dan kambing hitam…” 255)

Tak kalah juga Fauzan Al-Anshari dalam salah satu tulisannya, menyebutkan “ketokohan” dan “peran” Usamah bin Laden dalam –katanya— menuntut pembebasan tanah suci dari pendudukan tentara kafir Zionis Israel dan Salibis AS. 256)

Bahkan dalam ceramahnya pada acara bedah buku STSK, dia berani menantang kami untuk bermubahalah dan siap disambar petir dalam rangka mempertahankan dan membela “ketokohan” serta “peran” Usamah bin Laden.

DR. Mu hammad ‘Abbâs dalam bukunya Bal Hiya Harbun ‘alal Isl am -yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Ibnu Bukhori dengan judul BUKAN.. Tapi Perang terhadap Islam – menyebutkan “peran” dan “pengorbanan” Usamah bin Laden.

Bahkan telah diterbitkan secara khusus, buku karya Usamah bin Laden dengan judul Nasehat dan Wasiat Kepada Umat Islam Dari Syaikh Mujahid Usâmah bin Lâden, yang merupakan terjemah dari buku aslinya yang berjudul Taujîhât Manhajiah I & II. Buku tersebut menggambarkan “ketokohan”, “kepahlawanan”, dan “keilmuan” Usamah bin Laden yang tertuang dalam “fatwa-fatwa” dan “wasiat-wasiat”nya.

Perhatikan, mereka (Imam Samudra, Abu Bakar Ba’asyir, Fauzan Al-Anshari, DR. Mu hammad ‘Abbâs) dengan tegas dan penuh kebanggaan telah memposisikan Usamah bin Laden sebagai seorang “Syaikh”, “Mujahid” yang “fatwa-fatwa”, “peran”, dan “ketokohan”nya benar-benar telah diakui.

Tak jauh berbeda dari Usamah bin Laden, kondisi Aiman Azh-Zhawahiri, salah satu pendiri kelompok Jama’atul Jihad. Ia dipuja oleh para pengikut dan simpatisannya, disanjung dan dielu-elukan “peran” serta “pengorbanannya yang besar” untuk umat sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Hani As-Siba’i dalam bukunya Balada Jama’ah Jihad Melacak Kiprah Dr. Aiman Azh-Zhawahiri (terjemah dari buku asli yang berjudul Qishshatu Jam a’atil jihad). Dalam buku tersebut diungkapkan pula bahwa Aiman Azh-Zhawahiri adalah seorang tokoh yang sangat terkesan dan terpengaruh dengan paham Sayyid Quthb (salah satu pembesar IM) dan dia (Aiman) menganggap Sayyid Quthb ini sebagai seorang dokter yang mampu mendiagnosis semua penyakit umat manusia secara rinci dan mendalam. 257)

Namun yang sangat mengherankan, dengan mudah dan entengnya saudara Abduh ZA menganggap Usamah dan yang lainnya itu tidak dikenal sebagai ulama, atau setidaknya belum terdengar peran mereka dalam dunia ilmu-ilmu keislaman, baik berupa buku-buku ataupun ceramah-ceramah.

Dengan alasan yang nampak diplomatis, agar tidak menyinggung perasaan para simpatisan Usamah bin Laden dan Aiman Azh-Zhawahiri, saudara Abduh ZA mengatakan pada halaman 339, catatan kaki no. 656:

“Telah kami sampaikan sebelumnya, bahwa untuk Usamah bin Laden, Mullah omar, dan Jendral Khaththab; kami mengambil sikap tawaqquf (menahan diri) dan belum bisa menghukumi mereka sebelum mengetahui secara pasti profil mereka. Sebab, kami juga mendapatkan sejumlah tulisan yang memuji mereka, termasuk dari beberapa ulama Saudi Arabia. Namun, kami belum mengecek validitas sejumlah informasi yang kami peroleh.”

Masya Allah, betapa pandainya saudara Abduh ZA bersilat lidah dan bermain kata. Innalillah wa Inna ilaihi Raji’un. Sungguh ini adalah suatu hal yang sangat kontradiktif. Pada pernyataan sebelumnya, saudara Abduh ZA telah berani memvonis dan mengeluarkan Usamah bin Laden dan Aiman Azh-Zhawahiri dari deretan nama-nama “ulama” yang telah diakui umat “keilmuan”, “karya”, dan “pengorbanannya”. Bahkan saudara Abduh ZA telah berani menuduh kami sengaja membuat opini tertentu dengan sering menyandingkan Usamah bin Laden, Aiman Azh-Zhawahiri, Mullah Omar, atau Jendral Khaththab; dengan para “ulama besar”.

Perlu diketahui, sebenarnya yang menyandingkan nama Usamah bin Laden, Aiman Azh-Zhawahiri, Mullah Omar, atau Jendral Khaththab, dengan para “ulama besar” adalah Imam Samudra dalam bukunya Aku Melawan Teroris!, yang ia lakukan tidak sekali atau dua kali, namun beberapa kali. Bisa dilihat contohnya pada halaman 69-70 Aku Melawan Teroris!, Imam Samudra berkata:

“Berikutnya dikenal pula ahluts-tsugûr ternama seperti, Syaikh asy-Syahîd DR. Abdullah Azzam (syahid pada tahun 1987 di Pakistan), Syaikh Aiman Az-Zawahiri, Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Mullah Omar, Syaikh Usamah bin Ladin. Mereka semua berada di front jihad Afganistan.”

Bahkan pada halaman 65 dan 174, Imam Samudra menyandingkan foto-foto Abdul Aziz Ar-Rantisi, Syaikh Ahmad Yasin, Jendral Khattab, Mulla Muhammad Omar, Usamah bin Ladin. Contoh lain bisa dilihat pada buku Aku Melawan Teroris! tersebut halaman 64, 91,173, tak ketinggalan juga sang editor pada halaman 11 juga “turut terlibat” dengan menyandingkan nama Usamah bin Ladin dengan Yusuf Qardhawy! 258)

Bahkan Imam Samudra tidak mengakui “ke-’ulama-an” DR. Yusuf Al-Qaradhawi, yang sangat dipuji dan dielu-elukan oleh saudara Abduh ZA dan dipromosikan oleh Pustaka Al-Kautsar. Tak tanggung-tanggung, Imam Samudra telah memposisikan Yusuf Al-Qaradhawi sebagai ‘ulama munafiqin yang tidak pantas menjadi rujukan umat. Dalam pernyataannya halaman 110, Imam Samudra menegaskan:

“Ucapan senada terdengar juga ketika terjadi operasi jihad WTC dan Pentagon pada 11 September 2001. Lalu Ulama-ulama yang tak pernah angkat senjata dan tak pernah berjihad itu, yang kehidupan mereka dipenuhi dengan suasana comfortable, segera menjilat penjajah Amerika dan mencari muka sambil ketakutan dituduh sebagai ‘teroris’ dengan mengeluarkan ‘fatwa’ agar kaum muslimin mendonor darah bagi korban tragedi WTC dan Pentagon, sekalipun korbannya jelas-jelas bangsa kafir penjajah.”

Siapa yang dimaksud oleh Imam Samudra? Dengan tegas ia menyebutkan namanya pada Aku Melawan Teroris! halaman 186:

“Tak sedikit pula ulama munafik dan qâ’idîn (hanya duduk-duduk; tidak berjihad) yang ikut mengutuk bahkan turut berduka cita atas kejadian itu.

Bahkan Yusuf Qardhawi tanpa merasa berdosa dan malu menyerukan agar masyarakat muslimin dunia mendonor darah untuk korban WTC.” [cetak tebal dari kami].

Pada halaman 185 Imam Samudra juga berani mencela Yusuf Al-Qaradhawi. Berikut ucapannya:

“Pembatasan bom syahid hanya boleh di Palestina, atau yang semisal, menunjukkan bahwa Yusuf Qardhawi kurang memahami atau menyadari hakekat Perang Salib yang bersifat global.”



*) Ralat : tertulis dalam buku MDMTK “Pembahasan”. Yang benar, sebagaimana dalam buku AMT, adalah “Pembatasan”. Ini sekaligus ralat untuk buku aslinya.



________________________________________

Catatan Kaki :



253) Memang benar kedua tokoh ini dan yang semisalnya bukanlah ‘ulama dalam pengertian yang sebenarnya, sebagaimana telah kami jelaskan tentang kategori dan definisi ‘ulama dalam buku kami MAT. Namun dalam permasalahan ini, motivasi apa yang mendorong saudara Abduh ZA untuk mengeluarkan kedua tokoh ini dan yang semisalnya dari deretan ‘ulama versi dia? Jawabannya bisa ditanyakan langsung kepada saudara Abduh ZA. Tapi yang jelas, sikap dia di atas mau tidak mau adalah tergolong perbuatan ghibah terhadap tokoh-tokoh tersebut menurut tinjauan atau metode dia sendiri dalam mendefinisikan ghibah. Sebagaimana telah kami paparkan pada halaman 74-96.

254) Aku Melawan Teroris!, karya Imam Samudra, hal. 187 (cet. I).

255) BUKAN.. Tapi Perang terhadap Islam, karya Dr. Mu hammad ‘Abbâs (penerjemah: Ibnu Bukhori), hal. xviii.

256) Terorisme & Konspirasi Anti Islam penerbit Pustaka Al-Kautsar, hal 162-163.

257) Balada Jama’ah Jihad Melacak Kiprah Dr. Aiman Azh-Zhawahiri hal. 15. lihat pula halaman-halaman sebelum dan sesudahnya.

258) Ma’af, demikianlah editor buku Aku Melawan Teroris!Menuliskannya





dari : Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij hal. 364-370

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar