يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Kamis, 30 Oktober 2008

Benarkah Pustaka Qaulan Sadida Mengkritik Pustaka Al-Kautsar??

Benarkah Pustaka Qaulan Sadida Mengkritik Pustaka Al-Kautsar??
Apr
11
11 April 2008, admin @ 21:39

Berikutnya, Abduh Zulfidar meletakkan pembahasan : Catatan 2 Pustaka Qaulan Sadida pun Bicara Tanpa Ilmu. Di sini Abduh mempunyai gaya tersendiri dalam menjatuhkan suatu penerbit buku, dalam hal ini Pustaka Qaulan Sadida.

Abduh mengawali pembahasannya dengan mengatakan :

“Kami tidak mengetahui dan tidak mendengar serta belum pernah melihat buku-buku apa saja yang telah diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Qaulan Sadida yang berada di kota Malang, Jawa Timur, ini selain dua buku saja. Kedua buku tersebut yaitu, “Sebuah Tinjauan Syari’at Mereka Adalah Teroris!” dan “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij.” … .”
[BAUS hal. 15]

Orang berakal tahu kalimat ini tidak perlu diucapkan oleh Abduh ZA. Karena kalau memang tidak tahu kenapa bicara tentang Pustaka Qaulan Sadida? Namun di sisi lain orang berakal sehat dan waras akan tahu bahwa dengan kalimat ini menunjukkan pengakuan Abduh sendiri bahwa informasi yang sampai padanya tentang Pustaka Qaulan Sadida sangat minim. Oleh karena itu ketika Abduh mengatakan :

“Tampaknya, Penerbit Pustaka Qaulan Sadida akan mengidentikan dirinya sebagai penerbit spesialis buku-buku bantahan dan buku-buku karya Al Ustadz Luqman Ba’Abduh, wallahu a’lam. “
[BAUS hal. 15]

Maka orang berakal sehat dan waras akan menilai bahwa ini dugaan semata, yang muncul dari orang yang tidak banyak tahu tentang Penerbit Pustaka Qaulan Sadida. Kata Nabi  bahwa zhan (persangkaan) itu merupakan ucapan yang paling dusta.

Kondisi Abduh ZA yang tidak banyak tahu tentang Pustaka Qaulan Sadida ini, ternyata punya cara sendiri untuk menjatuhkan Pustaka Qaulan Sadida. Perhatikan ucapannya :

“Yang menarik, sebagai penerbit, Pustaka Qaulan Sadida telah melakukan suatu terobosan baru dalam dunia kritik mengkritik sesama penerbit. Jika kita pernah mendengar istilah “Sesama bisa kta dilarang saling mendahului,” tampaknya hal ini tidak berlaku lagi bagi Penerbit Pustaka Qaulan Sadida. Pustaka Qaulan Sadida telah berani menabrak suatu pakem yang dianggap tabu dalam hal ini. secara demonstratif buku MDMTK yang diterbitkan oleh Pustaka Qaulan Sadida memuat bab khusus yang bernada mendiskreditkan penerbit lain, dalam hal ini Pustaka Al-Kautsar. Pembahasan tentang Pustaka Al-Kautsar oleh Pustaka Qaulan Sadida ini terdapat dalam Bagian Pertama: “Mengenal Penerbit dan Penulis Buku “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?,” Bab I: “Sekilas Tentang Penerbit Pustaka Al-Kautsar,” dari halaman 58 sampai halaman 70. Cukup fantastis. … .”
[BAUS, hal. 16. cetak tebal dari kami]

Dengan paragraf ini, maunya Abduh ZA menjelaskan bahwa tidak pantas Pustaka Qaulan Sadida mengkritik Pustaka Al-Kautsar. Sesama penerbit kok saling mengkritik. Namun sayang, ditengah-tengah pembahasannya tersebut, Abduh ZA menyelipkan kata-kata yang sebenarnya justru menunjukkan ketidakjujuran Abduh ZA.

Perhatikan kata-kata yang bercetak tebal pada nukilan di atas. Siapapun yang membaca MDMTK pasti tahu bahwa pembahasan Bagian Pertama : Penerbit dan Penulis Buku “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?,” itu dari penulis MDMTK -yaitu Al-Ustadz Luqman- bukan dari Penerbit Pustaka Qaulan Sadida. Bahkan sejak Pengantar Penulis, Muqaddimah, Bagian Pertama, … dst itu sudah dari penulis MDMTK. Adapun yang dari penerbit adalah sebatas : Pengantar Penerbit.

Berikutnya, Abduh masih ‘menyempatkan’ membahas permasalahan yang sepele, yang pembahasan seperti ini kata Abduh ZA pada Catatan I merupakan perbuatan “mengabaikan kemanusiaan seorang manusia.” atau kalau di tempat lain Abduh mengatakannya sebagai “kurang kerjaan”. Namun demikian jangan heran jika ternyata dalam BAUS-nya ini pun Abduh justru banyak “mengabaikan kemanusiaan seorang manusia” dan “kurang kerjaan”.

Yaitu ketika mengomentari kesalahan ketik yang terdapat pada Pengantar Penerbit :
“… sebagaimana akan kami jelaskan oleh penulis.”
Di sini Abduh memberikan catatan kaki no. 25 dengan mengatakan :

“MDMTK, hlm. 6. Beberapa kata terakhir yang berbunyi, “… akan kami jelaskan oleh penulis,” memang tertera demikian. Mungkin maksudnya, “… akan dijelaskan oleh penulis.” Wallahu a’lam.”

Kalau Abduh ZA berniat baik dan cenderung tidak mengabaikan kemanusiaan seorang manusia tentu dia akan berhenti sampai di sini. Namun ternyata Abduh melanjutkan :

“Atau, bisa jadi karena yang menulis pengantar penerbit ini adalah penulis MDMTK sendiri, maka tertulis kata “kami.” Namun sekali lagi walllahu a’lam.”

Perhatikan, dia melanjutkan dengan komentar yang membuat orang yang membacanya akan turut berkesimpulan –atau setidaknya turut menduga—seperti ucapan dia. Apakah cara yang demikian santun dalam membetulkan kesalahan yang bersifat manusiawi?
Kemudian Abduh minta ma’af :

“Kepada Penerbit Pustaka Qaulan Sadida, kami mohon maaf jika ada kesalahan dalam menukil.”

Perhatikan bukan minta ma’af dari cara dia mengkritik yang tidak sopan itu. Tapi malah minta ma’af kalau ada salah nukil.
Demikianlah pembaca sekalian, cara Abduh ZA dalam mengabaikan kemanusian seorang manusia. Dari kesalahan manusiawi itu, dia punya cara-cara tersendiri (khas) untuk bisa menjatuhkan pihak lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar