يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Minggu, 01 Februari 2009

waspada..!! WAHDAH islamiyah BANDUNG

Wahdah Islamiyah Bandung

Di halaman situs utama WI Bandung, tertulis Wahdah Islamiyah adalah sebuah Organisasi Massa (Ormas) Islam yang mendasarkan pemahaman dan amaliyahnya pada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman As … ", dst, [33] juga di situs forum WI Bandung. [34] Marilah kita kenal WI Bandung dan siapa petingginya.

Suatu ketika ada tulisan yang santun : "Tetapi oleh syaitan-syaitan itu malah dibukakan ke publik, disiarkan ke umum, dengan label kerjasama "Lintas Agama Lintas Manhaj". Betapa degilnya akhlak dan pikiran mereka. Hanya syaitan saja yang akan melakukan perbuatan seperti itu.". Siapa pemilik tulisan itu ? Ternyata Joko Waskito di forum myQuran[35]. Siapakah dia gerangan ? Dengar-dengar dia adalah ustadz Wahdah Islamiyah Bandung ?

Iya, hari Sabtu kemarin, tanggal 9 Mei 2008 pukul 16:59:17, curahan untaian mutiara kata yang indah untuk penulis, kali ini kosakata yang dipakai "syaitan-syaitan". Pada hari yang sama, kebetulan Joko Waskito dinobatkan kembali sebagai pembicara di acara Wahdah Islamiyah Expo 2008 pukul 09.00 – 11.00 WIB.[36] Tentu saja acara ini diperuntukkan untuk menyemarakkan dakwah Wahdah Islamiyah di Bandung. Dan terang saja, yang dipilih sebagai pembicara adalah ‘orang dalam’ WI sendiri pada acara Expo itu.

Maka jelaslah tempat duduk Joko Waskito ini, ternyata juga kru da’i WI Bandung. Kini Joko membedah bukunya sendiri yang diterbitkan penerbit Khalifa – Pustaka Al Kautsar Grup, berjudul "Hidup Itu Mudah" di Masjid At-Takwa Komplek Perumahan Angkatan Darat (KPAD), Geger Kalong, Bandung. [37] Sepintas pembaca mungkin tersenyum, diantara "Dapatkan buku INILAH ISLAM untuk pendaftar 50 peserta VIP pertama !!!". Tentu saja hal ini akan membikin praktik judi terselubung di pentas WI Expo tersebut, karena akan ada gambling dari sekian pendaftar peserta VIP, akankah dia termasuk ke 50 atau 51 ? Wuih… aroma judi tercium disana demi melariskan dagangannya…

Apa dan siapakah Wahdah Islamiyah Bandung ? Bagaimana bisa Joko Waskito juga direkrut WI Bandung ? Baiklah kita crosscheck dengan browsing situs WI pusat. Bisa kita dapatkan informasi dengan search kata bandung, diantaranya adanya acara Parade Taubat" bahwa acara WI Bandung tanggal 20-21 Maret 2008 di Mesjid Al-Muhajirin Buahbatu Bandung berlangsung sukses. [38] "Dauroh ini diiisi oleh asaatidza teras WI Bandung, yaitu Ust. Ridwan Hamidi, Lc, Ust.Abu Yahya,S.Si, Ust.Wawan Kurniawan,S.HI serta Ust. Topan Setiadipura,M.Si.". Dari sini sedikit kita mendapati tentang da’i di WI Bandung.

Nah, penulis mencoba search di situs WI pusat ini pada bagian search dengan mengetik kata waskito. Muncullah tulisan "WI Bandung Gelar Syariah Expo 2008 (Serba Serbi Cabang/Serba Serbi Cabang) …tajuk "menuju sehat yang kaffah" ini akan menampilkan Bedah Buku ‘Hidup Itu Mudah’ oleh Ust.Joko Waskito (penulis) Juga akan diadakan seminar Thibbun Nabawi oleh Ust. Isa Sadrah (Apithera … 07 Mei, 2008". Sebagai informasi lengkapnya, bisa lihat pamfletnya.[39] Kali ini tidak perlu memakai Google agar tidak dibilang "Abu Google", antek Yahudi karena Google katanya milik Yahudi. Padahal bung Joko memakai email yang masih aktif yakni langitbiru1000@gmail.com[40]. Paradoks sekali bukan?

Masih menurut informasi situs WI pusat, disebutkan bahwa situs WI Bandung adalah www.wahdahbdg.heavenforum.com[41]. Nama "Isa Sadrah" yang menjadi pembicara di WI Expo 2008 itu ternyata sebagai Ketua Dewan Pengawas KSUS AL-WAHDAH Bandung. Juga ada nama lain Mochamad Budiman, S. Pd sebagai Ketua KSUS AL-WAHDAH. [42]

Pembaca bisa mendapatkan nama-nama siapakah dai-dai WI selain Joko Waskito dkk. Caranya, kita pakai Yahoo saja, mungkin gelar penulis nanti menjadi "Abu Yahoo". Kita ketik "wahdah islamiyah, bandung", dengan mudah pembaca akan mendapati nama-nama orang WI Bandung. Pada hasil search nomor 3, muncul Wahdah Islamiyah Bandung wahdahbandung.multiply.com. Kalau disimak pada diagram kepengurusan Wahdah Islamiyah DPC Kota Bandung bagian photos, nampak nama-nama yang identik bila kalau kita search bandung di situs Wahdah pusat. Kesimpulannya, berarti situs multiply tersebut juga situs WI Bandung.

Kalau di situs WI pusat, di WI Bandung ada nama Abu Yahya Purwanto, S.Si, juga muncul nama Ust. Wawan (nama lengkapnya Wawan Kurniawan, S.HI), Ust. Abu Ahmad Topan yang nama lengkapnya Topan Setiadipura, M.Si[43], Ust. Unang, Abu Hilyah[44] Adapun di situs yang numpang di multiply, muncul nama ketua Topan Setiadipura, M.Si, wakil ketua Wawan Kurniawan, S.HI, sekretaris Mochamad Budiman, S.Pd, bendahara Taufik Hidayat, A.Md.

Menurut situs resmi WI Bandung yang disebutkan oleh WI Pusat, Sekretariat WI Bandung menurut informasi per tanggal 28 Maret 2008 di Jl.H.Eme No.42 Rt7 Rw4 Sukajadi Bandung 40262, demikian ditulis situs forum WI Bandung.[45] Sementara Markaz WI Bandung terletak di Masjid Nurul Madinah yang dibangun di atas 1150 m, terletak di sebelah timur kota Bandung, atau terletak di bilangan di Jl. Asri Ds. Padasuka RT.07/07 Bandung.[46]

Dari situs forum WI Bandung, diperoleh informasi lebih lengkap, diantaranya nama ketua dewan pembina Abu Yahya Purwanto, S. Si (0811228839), pembina Ridwan Hamidi, Lc (08122775559), Dr. Trio Adiono (08122021133), drh. Ramdan (08112204773) . Pengurus WI Bandung disebutkan Ketua : Topan Setiadipura, M. Si (081388237859), Wakil Ketua : Wawan Kurniawan, S. HI (081355079420), Ketua Dep. Ekonomi Isa Sadrah (08156051276) dst. [47]

Cikal-bakal WI Bandung yang semula hanya daerah Binaan saja, lantas meningkat jadi cabang, bermula dari Yayasan Al Hikmah, lantas menjadi Forum Kajian Islam Nur Madinah sejak tahun 1999, lantas berubah Yayasan Islam Nur Madinah di tahun 2004, barulah menjadi WI Bandung sejak Februari 2007. Sumbangsih Ridwan Hamidi, Lc da’i L-Data/Taruna Al Quran Jogjakarta, yang juga ketua daerah Binaan Jogjakarta sangat penting disini.[48]

Sebagai tambahan, ternyata WI Bandung merekomendasikan situs-situs yang cocok dengan manhajnya, diantaranya Yayasan Al Sofwa sehingga di link oleh situsnya [49] di bagian teratas, juga situs Al Manhaj yang dikelola penjejak Turotsi dari Bandung, juga melink situs forum WI Bandung serta merekomendasi situs ‘tidak resmi’ WI cabang Jogjakarta atau Yayasan Al Madinah, belajarislam binaan Ridwan Hamidi, Lc. Demikianlah roh-roh yang sama saling berkumpul, bertautan dan saling merekomendasikan.

Wahdah Islamiyah Jogjakarta

Bilamana pembaca dapat mudah menelusuri nama-nama da’i Wahdah Islamiyah Bandung, ternyata tidak demikian untuk Wahdah Islamiyah Jogjakarta. Mungkin salah satu alasannya, karena WI Jogjakarta masih bersifat "Daerah Binaan". Nama yang muncul sebagai da’i WI Yogyakarta hanya satu, yakni Ridhwan Hamidi, Lc yang disebut-sebut WI pusat sejak tanggal 2 Juni 2006. [50]

Artikel yang di situs WI pusat juga tidak memadai menginformasikan pada pembaca. Hanya ada di link yang judulnya nampak berbau ikhwani ‘murabbi’ yang berbeda dengan manhaj tertulisnya. "Pelatihan Murabbi- Daurah Takwiniyah WI Yogyakarta" [51] Tertulis disana " Wahdah Islamiyah daerah binaan Yogyakarta melaksanakan Daurah Takwin, yang dirangkaikan dengan pelatihan murabbi (Pembina). Kegiatan berlangsung, Sabtu-Ahad/2-3 Februari, di Masjid Al Ihsan Sleman. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 25 orang pengurus WI binaan Yogyakarta, yang mayoritas Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Adapun pemateri pada kegiatan tersebut, di antaranya, H. Ridwan Hamidi, Lc (Ketua Daerah Binaan WI Yokyakarta), H. Jahada Mangka, Lc (Ketua Dep. Dakwah dan Kaderisasi DPP WI), Ishaq Shubuh (Sekertaris DPC WI Makassar). Sedangkan materi pada kegiatan tersebut, seperti; motivasi bertarbiyah, kenapa harus bertarbiyah, teknik pengelolaan halaqah, serta materi lainnya, sebagai bekal bagi pengurus, yang sebentar lagi akan dijadikan cabang." Dari sini jelas Ridhwan Hamidi, Lc adalah ketua WI Yogyakarta.

Pembaca yang budiman. Minimnya informasi lewat Internet terkait WI Jogjakarta memang menyulitkan langkah untuk menguak siapa sajakah nama-nama orang WI Jogjakarta. Kerjasama WI Pusat dengan personnya di Jogjakarta dengan tujuan mendirikan "Universitas Islam Online" seakan menjadi kabur. Mengingat situs WI Makassar semula merilis di situsnya http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1, lantas akses ke halaman HTMLnya ditutup.[52] 009 Akhirnya pembaca yang sempat menyimak di artikel "Turatsi..Wadah Ikhwaniyyah Keceplosan?", dapat menyimpulkan kerjasama lembaga LBIA a.k.a YPIA [53] dengan Wahdah Islamiyah pusat menjadi "safe mode". Akan tetapi WI masih menunjukkan adanya kerjasama ini lewat url lainnya. Yakni pamflet Ma’had ‘Aly Al Wahdah (STIBA milik Wahdah Islamiyah) masih menunjukkan kepastian adanya kerjasama ini tertulis "Kesempatan emas kuliah gratis di AL MADINAH INTERNATIONAL UNIVERSITY".[54] "Keunggulan Belajar di Ma’had ‘Aly al-Wahdah. Tersedia kelas khusus Al-Madinah International University (online system)". [55]

Menurut daftar situs yang direkomendasi WI Bandung, salah satunya tampak situs belajarislam. Situs belajarislam yang dikelola yayasan Al Madinah itu ternyata representasi gerakan Wahdah Islamiyah di Jogjakarta. Hanya ini yang penulis dapatkan dari situs belajarislam sbb : "Profil Yayasan Al-Madinah Yogyakarta. Nama Al-Madinah. Berdiri 2001.Alamat Purwodiningratan NG I/796 Yogyakarta 55261. Pembina PP Wahdah Islamiyah (Korwil Jawa). Misi Menjadi Lembaga Dakwah dan Tarbiyah yang berlandaskan manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah. Struktur Lembaga Yayasan Al-Madinah untuk masa kerja 1428-1430 H./2007-2009 M. Penasehat M. Agung Bramantya,S.T., M.T., M.Eng. Ikhwan Nuri, S.Ag. Ketua Abu Abdurrahman Beny. Sekjend Wandi Suwarno, S.E. Humas Irfan Rodli, S.Ag. Keuangan Rofik. Departemen Kaderisasi Abu ‘Ayyub Pardiono, S.PdI. Departemen Dakwah Yudi Wahyudi. Departemen Sosial & Ekonomi Rudi Hudzaifah. [56]

Bisa kita lihat juga situs Yayasan Al Madinah, yang menjadi cikal-bakal WI Jogjakarta ini, mensponsori kajian yang langsung diasuh oleh ketuanya sendiri Ridhwan Hamidi, Lc dan didampingi oleh rekan akrabnya di PP Taruna Al Quran, Aris Munandar, SS. Kutipan : "Pemateri Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. dan Ustadz Aris Munandar, S.S. Tempat Masjid Taruna Al-Qur’an Jl. Lempong Sari 4A Sariharjo Ngaglik, Sleman, Yogyakarta."[57] Selain itu juga muncul nama lainnya yakni : "Ustadz Alfi Sahr. Ustadz Yayat Hidayat. Ustadz Rudi Hudzaifah. Ustadz Ikhwan Nuri. Ustadz Rafiq dan Ustadz Yudi Wahyudi. Ustadz Abu Ayyub. Ustadz Abu Abdurrahman."[58] Kalau menurut pamflet MADINA (Madrasah Dirasah Islam N Arab) yang disponsori Departemen Dakwah Ma’had Al Madinah Yogyakarta, nampak nama Qashim Atha (Staff Pengajar Bh Arab al-Madinah), Alfi Sahr (Alumni Sudan), Yayat Hi (Staff Litbang Bahasa Arab al-Madinah). [59]

Tentang Ridwan Hamidi, Lc, untuk tidak memperpanjang tulisan disini, silakan mendalami sendiri profil Ridhwan Hamidi, Lc di artikel yang berjudul "Empat Puluh Satu Informasi tentang Ridwan Hamidi" di footnote ini.[60] Dari sinilah pembaca bisa menilai sendiri apakah saudara Ridwan Hamidi, Lc ini bermanhaj sesuai manhaj ‘tertulis’ WI atau ternyata seorang yang terpengaruh pemikiran gerakan Íkhwanul Muslimin.

Terakhir, ada nama yang disebut di pamflet kajian di Masjid Mu’allimin Yogyakarta yang disebutkan oleh situs WI Yogyakarta. Disana nampak nama-nama baru lagi, selain Ridwan Hamidi, Lc, juga Musthofa Amada, Lc dan da’i YPIA/LBIA Arifin Riddin, Lc[61]. Acara itu diberi judul Kajian Islam Masjid Mu’allimin Yogyakarta, disponsori oleh Yayasan al-Madinah Yogyakarta, Pusdam Al-Shohwah dengan alamat resmi belajarislam.

Kesimpulan

Sugeng rawuh kepada bapak Abu Muhammad Waskito, silakan buktikan sendiri kota Yogyakarta berhati nyaman. Kabar terbaru, akan ada acara yang digagas Yayasan Al Madinah alias WI daerah Binaan Yogyakarta, yang memadukan dua dai Wahdah Islamiyah, Ust. Ridwan Hamidi, Lc (Pemateri Kajian Ahad Masjid Kampus UGM) & Ust. Abu Muhammad Waskito (Penulis Buku dari Bandung). Akan tetapi para pembaca, sebelumnya harap menyimak kesantunan bapak Abu Muhammad Waskito dengan nickname AMW ini, seperti dimuat dalam BAUS Buas (2) di http://fakta.blogsome.com/2008/05/05/baus-buas-2-konspirasi-untuk-mengelabui-dakwah-ikhwani/. Siapa tahu ada manfaatnya.

Sekian pembahasan ini, potret Wahdah Islamiyah yang bersaling-silang dengan Turotsi, Pustaka Al Kautsar, Ikhwani, dll cukup membuat kita prihatin. Terbukti kini yang dulu malu-malu bergabung seperti Turotsi, kini tidak masalah lagi. Sururi – Turotsi Selalu Koordinasi (STSK). Yah, ruh-ruh itu menempatkan dirinya bersama-sama dalam satu jaringan. Baik di Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Makassar, di pelbagai kota, bahkan di luar negeri, dst.

Akhirnya ‘perjuangan’ yang melelahkan bagi penulis untuk menyusunnya, juga bagi hadirin sekalian untuk membacanya, berakhir sampai disini. Tak lebih tujuannya untuk demi mengungkap informasi sekelumit tentang ormas Wahdah Islamiyah. Semoga bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam bish showab.

Abu Abdillah Ibrahim Selengkapnya...

FATWA GEMAR TAHDZIR{1}

TAHDZIR ULAMA KIBAR TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR [MEMBOIKOT] DAN MENTABDI’ [MEMBID'AHKAN]

Oleh
Asy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan

Asy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan -hafidhahullahu- berkata saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/69) sebagai berikut :

“Diantara kerusakan-kerusakan perpecahan yang demikian ini adalah mengakibatkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, disebabkan disibukkannya mereka satu dengan lainnya dengan mentajrih (mencela) dengan gelar-gelar yang buruk. Tiap-tiap mereka menghendaki memenangkan diri mereka dari yang lainnya dan merekapun menyibukkan kaum muslimin dengan perihal mereka. Yang mana hal ini menjadi melebihi mempelajari ilmu yang bermanfaat.

Sesungguhnya banyak dan banyak dari para penuntut ilmu yang bertanya sampai kepada kami bahwa semangat dan kesibukan mereka hanyalah memperbincangkan manusia dan kehormatan mereka, baik di majelis-majelis maupun perkumpulan mereka, sembari menyalahkan ini dan membenarkan itu, memuji ini dan menyatakan itu sesat… Tidaklah mereka ini disibukkan melainkan hanya memperbincangkan manusia..”
Syaikh al-Allamah ditanya saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/57) sebagai berikut :

Pertanyaan.
“Apa pendapat yang mulia tentang merebaknya celaan-celaan baik yang tertulis maupun yang didengar yang merebak di kalangan para ulama?? Tidakkah Anda memandang bahwa duduknya mereka untuk diskusi adalah lebih mulia?? Karena betapa banyak aturan-aturan islam yang rusak karena hal ini!!”

Jawaban.
“Para ulama yang mu’tabar (dikenal keilmuannya) tidak ada pada diri mereka sedikitpun dari apa yang disebutkan dalam pertanyaan. Mungkin hal ini terjadi diantara para penuntut ilmu dan pemuda yang bersemangat, kami memohon hidayah dan taufiq Allah untuk mereka. Kami menyeru mereka untuk meninggalkan perbuatan tercela ini dan supaya mereka saling bersaudara di atas kebajikan dan ketakwaan, serta mengembalikan kepada para ulama terhadap perkara-perkara yang mereka sulit menentukan kebenarannya, dan agar mereka -para ulama- menjelaskan kepada mereka mana yang benar, dan supaya mereka tidak memberikan pengaruh pada fikiran dengan syubuhat sehingga mereka berpaling dari manhaj yang benar. Namun, janganlah difahami dari hal ini, meninggalkan bantahan terhadap kesalahan dan penyimpangan yang terdapat di sebagian buku-buku termasuk bagian nasehat bagi ummat.”

Syaikh ditanya pula saat pengajian Aqidah dan Dakwah (III/332) sebagai berikut :

Pertanyaan.
“Syaikh yang mulia, apakah nasehatmu bagi para pemuda yang meninggalkan menuntut ilmu syar’i dan berdakwah kepada Allah dengan menceburkan dirinya ke dalam masalah perselisihan diantara pada ulama tanpa ilmu dan bashirah??

Jawaban.
“Aku nasehatkan kepada seluruh saudara-saudaraku dan khususnya para pemuda penuntut ilmu agar mereka menyibukkan diri dengan menuntut ilmu yang benar, baik di Masjid, sekolah, ma’had maupun di perkuliahan. Agar mereka sibuk dengan pelajaran-pelajaran mereka dan apa-apa yang bermashlahat bagi mereka. Dan supaya mereka meninggalkan menceburkan diri kepada perkara ini -perselisihan ulama-, dikarenakan tidak ada kebaikannya dan tidak bermanfaat masuk ke dalamnya… hanya membuang-buang waktu saja dan merisaukan fikiran…

hal ini termasuk penghalang amal shalih, termasuk mencela kehormatan dan menghasut kaum muslimin. Wajib bagi kaum muslimin umumnya dan para penuntut ilmu khususnya, supaya meninggalkan perkara ini dan agar mereka mengupayakan perdamaian (ishlah) semampu yang mereka bisa. Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah kedua golongan saudara kalian tersebut, bertakwalah kepada Allah semoga engkau dirahmati.” (al-Hujurat : 10). Terhadap orang-orang yang anda lihat melakukan kesalahan, maka wajib bagi anda menasehatinya dan menjelaskan kesalahnnya secara empat mata, dan memohon kepadanya agar ia mau rujuk (kembali) kepada kebenaran. Inilah yang dibutuhkan nasehat.

Syaikh Hafidhahullahu berkata saat pengajian Dhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat takfir wa Dhawabithuha, sebagai berikut :

“Oleh karena itu, wajib bagi para pemuda Islam dan penuntut ilmu untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat dari sumbernya dan dari ahlinya yang dikenal akan keilmuannya. Kemudian setelah itu, mereka akan tahu bagaimana berbicara dan bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena Ahlus Sunnah dulu maupun sekarang mampu menjaga lisannya dan mereka tidaklah berucap melainkan dengan ilmu..”

[Dinukil dan di alih bahasakan oleh Abu Salma bin Burhan dari kutaib Aqwalu wa Fatawa Ulama fi tahdzir 'ala Jama'atil Hajr wat Tabdi']



Sumber: www. almanhaj.or.id Selengkapnya...

FATWA GEMAR TAHDZIR {2}

TAHDZIR ULAMA KIBAR TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR [MEMBOIKOT] DAN MENTABDI’ [MEMBID'AHKAN]

Oleh
Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Syaikh al-Imam Faqihuz Zaman, al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rahimahullahu- berkata saat Liqo`ul Babil Maftuh (Pertemuan terbuka) no 1322, sebagai berikut :

“Salafiyyah adalah ittiba’ terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!

Kaum salaf seluruhnya menyeru kepada Islam dan bersatu di atas Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka tidak menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya karena perkara takwil/penafsiran yang berbeda, Allahumma, kecuali dalam perkara aqidah, dikarenakan mereka berpandangan bahwa siapa-siapa yang menyelisihinya dalam perkara aqidah, maka telah sesat.

Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan manhajnya dengan menyesatkan setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan hal ini sebagai manhaj hizbiyah sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Dikatakan, ‘lihatlah kepada madzhab salafus shalih, apa yang mereka perbuat di dalam jalan mereka dan kelapangan dada mereka pada perkara khilaf yang memang diperbolehkan ijtihad di dalamnya, sampai pada taraf mereka berselisih di dalam perkara aqidah dan ilmu. engkau dapati mereka, misalnya, mengingkari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Rabbnya dan sebagian lagi menetapkannya, ada lagi yang berpendapat yang ditimbang pada hari kiamat nanti adalah anak dan sebagiannya berpendapat lembaran-lembaran amal-lah yang ditimbang õEngkau dapati pula mereka berselisih di dalam masalah fiqhiyah, baik dalam masalah nikah, faraidh, iddah, jual beli dan lain-lain. Walaupun demikian, mereka tidak saling menyesatkan satu dengan lainnya.

Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membeda-bedakan dan menyesatkan selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau ikut sakit.’ [Hadits Riwayat Muslim], maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”

[Dinukil dan di alih bahasakan oleh Abu Salma bin Burhan dari kutaib Aqwalu wa Fatawa Ulama fi tahdzir 'ala Jama'atil Hajr wat Tabdi']



Sumber: www. almanhaj.or.id

DIarsipkan di bawah: Fatwa Ulama
« Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Terhadap Jama’ah Yang Gemar Menghajr Dan Membid’ahkan Fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Terhadap Jama’ah Yang Gema Selengkapnya...

FATWA GEMAR TAHDZIR {3}

TAHDZIR ULAMA KIBAR TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR [MEMBOIKOT) DAN MENTABDI' [MEMBID'AHKAN]

Oleh
Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Abani

Berkata Syaikh kami yang mulia, al-Muhaddits al-Ashr al-Mujaddid al-Faqih Muhammad Nashirudin al-Albani -Rahimahullah- di dalam kaset Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shouthiyah no 784 side A, sebagai berikut :

“Syuf (perhatikan) wahai saudaraku! Aku menasehatkanmu dan para pemuda lainnya yang berada di jalan munharif (menyeleweng) sebagaimana tampak pada kami, wallahu a’lam, untuk tidak membuang-buang waktumu untuk mencela satu dengan lainnya dan sibuk dengan mengatakan fulan begini dan fulan berkata begitu. Dikarenakan, pertama, hal ini tidaklah termasuk ilmu sama sekali, dan yang kedua, uslub (cara) ini akan merasuk ke dada dan menyebabkan kedengkian serta kebencian di dalam hati. Wajib atasmu menuntut ilmu!!! Karena ilmulah yang akan menyingkapkan apakah perkataan ini yang mencela Zaid atau fulan dari manusia dikarenakan dirinya memiliki banyak kesalahan, apakah berhak bagi kita untuk menyebutkan shohibul bid’ah atau mubtadi’ ataukah tidak?? Apa yang harus kita lakukan dengan mendalami perkara ini?? Aku tidak menasehatkanmu untuk mendalami seluruh perkara ini dengan benar-benar, karena hakikatnya kita sekalian sedang mengeluhkan perpecahan ini yang terjadi di tengah-tengah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) pada dakwah al-Kitab dan as-Sunnah, atau sebagaimana kita menyebutnya, Dakwah Salafiyah.!!!
Perpecahan ini, wallahu a’lam, penyebab utamanya adalah dorongan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (an-Nafsul ammarah bis suu`) dan bukanlah perselisihan pada sebagian pemikiran. Inilah nasehatku. karena telah sering aku ditanya, ‘apa pendapatmu tentang fulan?’, dan aku langsung faham bahwa ia (penanya) orang yang memihak atau memusuhi. dan terkadang orang yang ditanyakan adalah diantara saudara-saudara kita terdahulu yang dikatakan dia menyimpang, maka kami bantah penanya tersebut, apa yang engkau inginkan terhadap fulan dan fulan??

Berlaku luruslah sebagaimana engkau diperintahkan! Tuntutlah ilmu! Dengan ilmu engkau akan dapat memilah-milah mana yang thalih dan mana yang shalih, mana yang bathil dan mana yang haq.!!! Kemudian janganlah engkau ini mendengki terhadap saudara seislam dikarenakan ia jatuh kepada beberapa kesalahan. Kami tidak mengatakan salah, namun kami katakan ia menyimpang dalam satu, dua atau tiga perkara, dan perkara lainnya ia tidak menyimpang.

Kita dapati para Imam Ahli Hadits yang menerima haditsnya (orang yang menyimpang) dan disebutkan di dalam riwayatnya ia khariji atau murji`i atau lainnya. Ini semua adalah aib dan kesesatan, namun diperoleh pada timbangan tersebut yang mereka berpegang teguh padanya. Kita tidak menimbang beratnya keburukannya dari kebaikan-kebaikannya atau dua atau tiga keburukannya terhadap banyaknya kebaikannya, dan yang terbesar adalah syahadat Laa ilaaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.”

Syaikh juga berkata tentang definisi siapakah mubtadi’ itu di dalam kaset Silsilah Huda wa Nur ash-Shouthiyah no 785 side B, sebagai berikut :

“Atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bermanfaat untuk menunjukkan contoh dari terjatuhnya seorang alim kepada bid’ah tidaklah serta merta menjadikannya mubtadi’ dan jatuhnya seseorang kepada perbuatan haram, dengan pernyataan memperbolehkan apa-apa yang diharamkan secara ijtihad, tidak serta merta menjadikannya sebagai pelaku keharaman. Saya katakan, atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwasanya ia dulu berdiri menasehati manusia pada hari Jum’at sebelum sholat, berfaidah untuk menunjukkan contoh yang shahih, bahwa bid’ah yang terkadang terjatuh kepada seorang alim, tidaklah dengan demikian ia menjadi seorang mubtadi’.

Sebelum masuk ke jawaban yang lengkap, aku katakan, al-Mubtadi’ adalah berawal dari kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama, dan tidaklah orang yang mengada-adakan bid’ah, walaupun ia mengamalkannya bukan karena ijtihadnya, namun dari hawa nafsunya, tidak serta merta dikatakan dia mubtadi’!! contoh terjelas yang paling dekat dengan perkara ini adalah, seorang hakim yang dhalim yang terkadang berlaku adil pada sebagian hukum-hukumnya, tidaklah bisa disebut hakim adil, sebagaimana pula seorang hakim yang adil yang terkadang melakukan kedhaliman di sebagian hukum-hukumnya, tidaklah dinamakan dirinya hakim dhalim. Hal ini berkaitan erat dengan kaidah fiqh islami yang menyatakan bahwasanya seorang manusia dilihat dari banyaknya kebaikan atau keburukannya. Jika kita telah mengetahui hakikat ini, maka kita dapat mengetahui siapakah mubtadi’ itu. maka, dengan demikian disyaratkan bagi mubtadi’ dua hal, yaitu pertama, dia bukanlah seorang mujtahid namun hanyalah pengikut hawa nafsu dan kedua, dia menjadikan bid’ahnya sebagai kebiasaan dan agamanya.”

[Dinukil dan di alih bahasakan oleh Abu Salma bin Burhan dari kutaib Aqwalu wa Fatawa Ulama fi tahdzir 'ala Jama'atil Hajr wat Tabdi']



Sumber:www. almanhaj.or.id

DIarsipkan di bawah: Fatwa Ulama
« Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Terhadap Jama’ah Yang Gemar Menghajr Dan Membid’ahkan Fatw Selengkapnya...

KIRA nya aku DI MASUKAN LIANG LAHAT..

Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman

Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.

Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)

Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar. Selengkapnya...

PERSELISIHAN SYAIKH ALI HASAN DENGAN DR AHMAD BAZMUL

PERSELISIHAN SYAIKH ALI HASAN DENGAN DR AHMAD BAZMUL
NASEHAT SYAIKH AL-MUHADDITS ABDULLAH AL-UBAILAN
2009 Februari 12
by abu salma

TENTANG PERSELISIHAN SYAIKH ALI HASAN DENGAN DR AHMAD BAZMUL

Pertanyaan :

شيخنا حفظكم الله ما رأيكم فيما يدور في المنتديات من نقل كلام وردود لهذا وذاك خصوصا في الآونة الأخيرة وما يجري بين الشيخ أحمد بازمول والشيخ علي الحلبي وعذرا هل قرأتم رسالة الحلبي الأخيرة منهج السلف الصالح وما تعليقكم عليها وزادك الله علما وتقوى؟

Syaikh kami –semoga Alloh menjaga Anda-, apa pendapat anda berkenaan dengan maraknya di forum-forum (internet) penukilan ucapan dan bantahan-bantahan antara satu dengan lainnya, terutama yang terjadi akhir-akhir ini antara Syaikh Ahmad Bazmûl dan Syaikh ‘Alî Hasan. Dan mohon maaf, apakah Anda sudah membaca artikel terbaru al-Halabi, “Manhaj as-Salaf ash-Shalih” dan apa komentar Anda terhadapnya? Semoga Alloh menambahkan ilmu dan ketakwaan bagi Anda.

Jawaban :

الجواب: كلا الرجلين من أهل السنة وأخونا الشيخ العلامة علي من كبار الدعاة السلفيين في الأردن وبلاد الشام نحسبه كذلك ولانزكي على الله احدا وأرجو أن الخلاف بينهما داخل في إطار الإجتهاد السائغ عند أهل السنة وقد جرى بين السلف ماهو أعظم من ذلك ولم يتهم أحد منهم الاخر في دينه قال شيخ الإسلام ابن تيمية

Keduanya (yaitu Syaikh ‘Alî dan DR Ahmad Bazmûl) termasuk ahlus sunnah. Saudara kami, asy-Syaikh al-‘Allâmah ‘Alî (Hasan al-Halabî) termasuk pembesar da’i salafî di Yordania dan negeri Syam. Kami menganggap beliau demikian bukan untuk mensucikan seorangpun di hadapan Alloh. Saya berharap semoga perselisihan keduanya masuk ke dalam kerangka ijtihad yang diperbolehkan menurut ahlus sunnah. Yang terjadi pada kaum salaf dahulu lebih besar daripada (perselisihan) ini namun mereka satu dengan lainnya tidak saling menuduh agamanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

وكذلك تنازع الفقهاء في الصلاة خلف أهل الأهواء والفجور منهم من أطلق الإذن ومنهم من اطلق المنع والتحقيق أن الصلاة خلفهم لا ينهى عنها لبطلان صلاتهم في نفسها لكن لأنهم إذا أظهروا المنكر استحقوا أن يهجروا وأن لا يقدموا في الصلاة على المسلمين ومن هذا الباب ترك عيادتهم وتشييع جنائزهم كل هذا من باب الهجر المشروع في إنكار المنكر للنهى عنه

“Demikian pula para ahli fikih berbeda pendapat tentang (hukum) sholat (bermakmum) di belakang ahli hawa dan pelaku keburukan (fujûr). Ada yang memperbolehkan secara mutlak dan ada pula yang melarang secara mutlak. Yang tepat, (hukum) sholat di belakang mereka tidaklah dilarang oleh sebab sholat mereka batal (tidak sah), akan tetapi dengan alasan apabila mereka menampakkan kemungkaran, maka mereka layak untuk dihajr (diboikot) dan tidak dikedepankan (baca : dijadikan imam) pada sholat (berjam’ah) dengan kaum muslimin. Termasuk bab ini pula adalah tidak mengunjungi mereka dan menghadiri jenazah mereka, kesemua ini termasuk bab hajr yang disyariatkan di dalam mengingkari dan melarang dari kemungkaran.

وإذا عرف أن هذا هو من باب العقوبات الشرعية علم أنه يختلف باختلاف الأحوال من قلة البدعة وكثرتها وظهور السنة وخفائها وأن المشروع قد يكون هو التأليف تارة والهجران أخرى كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يتألف أقواما من المشركين ممن هو حديث عهد بالإسلام ومن يخاف عليه الفتنة فيعطى المؤلفة قلوبهم مالا يعطى غيرهم قال في الحديث الصحيح إني أعطى رجالا وأدع رجالا والذي أدع أحب إلى من الذي أعطى أعطى رجالا لما جعل الله في قلوبهم من الهلع والجزع وأدع رجالا لما جعل الله في قلوبهم من الغنى والخير منهم عمرو بن تغلب ))منهاج السنة النبوية ج1/ص64

Apabila telah diketahui bahwa hal ini termasuk bab ‘Uqûbah (pemberian sanksi/pelajaran) yang syar’i, diketahui pula bahwa (penerapan) hal ini bervariasi menurut kondisi sedikit atau banyaknya kebid’ahan dan tingkat kesesuaiannya dengan sunnah. Terkadang yang disyariatkan adalah melakukan ta`lîf (pendekatan) dan kadangkala meng-hajr-nya, sebagaimana yang dilakukan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam yang men-ta`lîf sekelompok orang dari kaum musyrikin yang mengucapkan ikrar keislaman dan yang beliau khawatirkan tertimpa fitnah, maka beliau men-ta`lîf hati mereka dan tidak beliau lakukan pada sekelompok lainnya. Beliau bersabda di sebuah hadits yang shahih : “Saya melakukan (ta’lîf) pada seseorang dan tidak kulakukan pada orang lain. Orang yang tidak kusikapi dengan ta`lîf lebih aku cintai daripada yang kusikapi dengan ta’lîf. Aku lakukan ta’lîf pada orang yang Alloh berikan di dalam hatinya sifat keluh kesah dan mudah putus asa, dan tidak kulakukan pada orang yang Alloh anugerahkan di dalam hatinya kecukupan dan kebaikan, diantaranya adalah ‘Amrû bin Taghlab.” (Minhâj as-Sunnah juz I hal. 64)

Beliau juga berkata :

وقال ايضا (ومما يتعلق بهذا الباب أن يعلم أن الرجل العظيم في العلم والدين من الصحابة والتابعين ومن بعدهم إلى يوم القيامة أهل البيت وغيرهم قد يحصل منه نوع من الاجتهاد مقرونا بالظن ونوع من الهوى الخفي فيحصل بسبب ذلك مالا ينبغي اتباعه فيه وإن كان من أولياء الله المتقين

“Termasuk yang berkaitan dengan bab ini adalah, perlu diketahui bahwa seorang yang mulia di dalam ilmu dan agamanya, dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi setelahnya sampai hari kiamat, ahlul bait dan selain mereka, acapkali mereka memiliki ijtihad yang mengandung praduga (zhan) dan bentuk hawa nafsu yang ringan, yang oleh sebab hal ini berimplikasi kepada sesuatu yang tidak sepatutnya diikuti, walaupun ia termasuk wali Alloh yang bertakwa.

(ومثل هذا إذا وقع يصير فتنة لطائفتين طائفة تعظمه فتريد تصويب ذلك الفعل وابتاعه عليه وطائفة تذمه فتجعل ذلك قادحا في ولايته وتقواه بل في بره وكونه من أهل الجنة بل في إيمانه حتى تخرجه عن الإيمان وكلا هذين الطرفين فاسد والخوارج والروافض وغيرهم من ذوي الأهواء دخل عليهم الداخل من هذا

Semisal jika hal ini terjadi, akan menyebabkan fitnah pada dua golongan (kubu), yaitu kubu yang mengagungkan dan bermaksud membenarkan semua perbuatan dan menirunya, dan kubu yang mencela dan menjadikannya sebagai sarana untuk mencela ke-wali-an dan ketakwaannya, bahkan mencela kebajikan dan keadaannya sebagai penghuni surga (yaitu para sahabat), dan meragukan keimanannya sampai-sampai mengeluarkannya dari keimanan, maka kedua kubu/golongan ini adalah salah. Khawarij, Rafidhah dan selainnya dari kelompok pengikut hawa nafsu termasuk (salah satu) dari golongan ini.

ومن سلك طريق الاعتدال عظم من يستحق التعظيم وأحبه ووالاه وأعطى الحق حقه فيعظم الحق ويرحم الخلق ويعلم أن الرجل الواحد تكون له حسنان وسيئات فيحمد ويذم ويثاب ويعاقب ويحب من وجه ويبغض من وجه هذا هو مذهب أهل السنة والجماعة خلافا للخوارج والمعتزلة ومن وافقهم ) منهاج السنة النبوية ج4/ص544

Barangsiapa yang berjalan di atas metode i’tidâl (pertengahan), ia muliakan siapa yang layak untuk dimuliakan, kemudian ia cintai dan memberikan loyalitas kepadanya, memenuhi dan mengagungkan haknya dan mengasihi sesama makhluk serta mengetahui bahwa seseorang yang memiliki kebaikan dan keburukan, maka ia dipuji (kebaikan) dan dicela (keburukan)-nya, dihormati dan di-iqob (diberikan sanksi), dicintai pada satu sisi dan dibenci pada sisi lain, maka ini adalah madzhab ahlus sunnah wal jama’ah, yang berbeda dengan madzhab khowarij, mu’tazilah dan yang selaras dengan madzhab mereka.” (Minhâj as-Sunnah juz IV hal. 544).

وأخونا الشيخ أحمد لا أعرفه ولكن لا أعلم عنه إلا خيرا , وفق الله الجميع لمايحبه ويرضاه وجمع قلوبنا على الهدى صلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد واله وصحبه

Sedangkan saudara kami, Syaikh Ahmad, saya tidak mengenalnya. Namun, yang kutahu dari beliau adalah kebaikan. Semoga Alloh memberikan taufik-Nya kepada kita semua kepada jalan yang cintai dan diridhai-Nya, serta menyatukan hati kita di atas petunjuk Nabi kita Muhammad –semoga sholawat, salam dan keberkahan terlimpahkan kepada beliau, keluarga dan sahabat belaiu.


Sumber : http://www.obailan.net/news.php?action=show&id=185 Selengkapnya...

LANJUTAN DI MASUKAN LIANG LAHAT..

Fitnah Kubur

Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)

Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?

Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!

Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.

Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”

Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya. Selengkapnya...

CONTOHLAH.. Dakwah Syaikh Rabi’ di Sudan

Pelajaran Berharga Dari Dakwah Syaikh Rabi’ di Sudan
6 10 2008

Diantara anugerah Allahu ta’ala yang wajib disyukuri oleh setiap muslim adalah tersebarnya dakwah yang haq, dakwah salafiyyah, diseluruh penjuru dunia dengan begitu pesat pada dekade terakhir ini.

Tatkala Dakwah salafiyyah diemban oleh para da’i yang berilmu, memiliki hikmah dan memiliki sikap santun, mereka melaksanakan manhaj Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan mereka praktekan sesuai dengan kemampuan, maka Allah ta’ala mendatangkan manfaat dengan sebab mereka , dan tersebarlah dakwah Salafiyyah diseluruh penjuru dunia, dengan akhlak, keilmuan, dan hikmah mereka.

Hanya saja pada hari hari ini dakwah salafiyyah mengalami kendala didalam perjalanannya, yang sangat disayangkan bahwa kendala ini tidak datang dari faktor eksternal , justru datang dari dalam, yaitu dari sebagian orang-orang yang memiliki semangat tinggi didalam dakwah tetapi miskin dalam segi akhlak, keilmuan dan hikmah dalam dakwah.

Dan berikut ini sebuah pengalaman, pelajaran dan nasehat dari Asy Syaikh al Allamah Rabi’ bin Hadi al Madhkali hafidzhahullah sewaktu berdakwah di Sudan, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua…..

Tatkala aku pergi untuk berdakwah ke Sudan, aku singgah di Bur Sudan, maka aku disambut oleh para pemuda Ansharus Sunnah dan mereka berkata :

“Wahai Syaikh, kami menginginkan anda memperhatikan suatu hal”.

Aku menjawab : “silakan”
Mereka berkata :

“Berbicaralah apa yang anda kehendaki. Katkanlah : Allah berfirman, Rasulullah bersabda. celalah sekehendak anda segala kebid’ahan dan kesesatan, baik itu do’a kepada selain Allah, sembelihan, nadzar, istighotsah, dan selainnya. Tetapi janganlah anda mengatakan kelompok Fulan atau Syaikh Fulan ! , Janganlah anda menyebutkan tarekat Tijaniyah, Bathiniyah dan gembong-gembong mereka. Tetapi jelaskanlah aqidah-aqidah yang benar, maka anda akan merasakan sendiri diterimanya Al Haq darimu”

Aku berkata kepadanya : “Baiklah”

Dan aku tempuh cara ini lantas aku dapati sambutan yang luar biasa dari manusia.
Janganlah anda menduga wahai penuntut ilmu, bahwasanya termasuk kesempurnaan manhaj yang haq bahwasanya engkau harus mencaci gembong-gembong mereka dan mencela mereka karena sesungguhnya Allahu ta’ala berfirman :

………… وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kalian memaki berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (al-An’am : 108).

Engkau caci Tokoh mereka ! Atau engkau katakan : Dia sesat, Atau thoriqoh fulaniyyah, Maka mereka -dengan ucapan-ucapan mu ini- akan lari darimu, sehingga engkau berdosa, engkau telah mebuat manusia lari. Dan jika demikian engkau telah menjadi pembuat lari manusia.
Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala mengutus Mu’adz dan Abu Musa ke Yaman beliau berpesan :

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا وَ بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَتَطَوَّعَ وَلاَ تَخْتَلِفً

“Hendaknya kalian berdua mempermudah, jangan kalian mempersulit. Hendaknya kalian berdua memberi kabar gembira, jangan kalian membuat orang lari. Dan saling pengertianlah kalian berdua dan jangan berselisih.” [Hadits riwayat Al Bukhâri dan Muslim]

Maka ini termasuk cara-cara yang didalamnya terdapat kemudahan, kabar gembira, dan tidak membuat mereka lari. Dan demi Allah, tidaklah aku memasuki masjid melainkan aku melihat wajah mereka berbinar-binar, dan hampir-hampir aku tidak mampu keluar karena banyaknya orang yang datang menyambutku, menyalamiku serta mengundangku..
Kemudian gembong-gembong Shufiyyah melihat bahayanya cara dan metode dakwah ini sehingga mereka berkumpul dan bersekongkol, mereka rancang perkataan-perkataan untuk membantahku, dan mereka mengundangku untuk berceramah dimedan yang besar.

Maka berkumpullah kami dimedan tersebut. Aku sampaikan ceramah, dan berdirilah seorang gembong mereka memberi komentar terhadap ucapanku. Mulailah dia membolehkan istighotsah kepada selain Allahu ta’ala, membolehkan tawassul, menolak sifat sifat Allahu ta’ala, mengatakan dan mengatakan………. dia dukung setiap kebatilannya dengan takwil-takwil yang rusak !

Tatkala dia telah selesai, telah membawakan hadits-hadits lemah dan palsu, dan membawakan perkatan perkataan ahli filsafat, maka aku katakan :

Wahai jama’ah, kalian telah mendengar ucapanku, aku berkata : Allah berfirman, Rasulullah bersabda, Ulama’ umat yang mu’tabar berkata, dan orang ini datang dengan hadits palsu, dan aku tidak mendengar darinya al-Qur’an sedikitpun ! Apakah kalian pernah mendengar : Allah berfirman begini tentang bolehnya istighotsah kepada selain Allah??! Tentang bolehnya tawasul??! Apakah kalian pernah mendengarkan ucapan ulama besar seperti Malik dan semisalnya tentangnya??! Kalian tidak pernah mendengarnya!, yangkalian dengar hanyalah hadits-hadits palsu dan lemah, dan perkataan-perkataan orang-orang yang kalian telah mengenalnya sebagai khurofat !

Maka berdirilah orang tersebut seraya mencaci dan memaki dan aku hanya tertawa, aku tidak mencacinya dan tidak memakinya, aku tidak menambah atas ucapannya : Semoga Allahu ta’ala memberkahimu, semoga Allahu ta’ala membalasmu dengan kebaikan.

Kamipun berpisah, dan demi Allah yang tiada sesembahan yang haq kecuali Dia, ketika masuk waktu pagi –pada hari kedua- orang-orang sedang bercerita di masjid-masjid dan pasar-pasar bahwa kelompok sufi telah terkalahkan!

Maka pelajarilah wahai saudara-saudara sekalian metode syar’i ini. Karena tujuan yang hendak diraih adalah hidayah kepada manusia, dan tujuannya adalah menyampaikan al haq kedalam hati manusia.

Wahai daudaraku, hendaknya didalam rangka berdakwah dijalan Allahu ta’ala engkau gunakan setiap sarana syar’i yang engkau mampu, tidaklah boleh bagi kita menggunakan kaidah “ Menghalalkan segala cara” karena ini adalah sifat-sifat ahli bid’ah, yang mereka dengan sebab kaidah ini terjatuh kedalam kedustaan, pemutarbalikan ucapan dan fakta serta caci maki sebagaimana dikatakan oleh al Imam Ali bin Harb al Maushili : “Setiap ahli hawa selalu berdusta dab tidak peduli dengan kedustaannya”

Ini semua tidak ada pada kita, Kita adalah ahli kejujuran dan ahli haq, hanya saja kita paparkan cara cara syar’i yang bisa diterima oleh manusia dan bisa membekas dalam jiwa jiwa mereka…..

Maka gunakanlah ilmu yang bermanfaat, argumen yang kuat dan hikmah dalam dakwah kalian. Hendaknya kalian berakhlak dengan setiap akhlak yang indah dan agung, yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam , karena semua ini adalah faktor-faktor yang membawa kemenangan dan keberhasilan.

Dan yakinlah bahwa para sahabat radhyallahu ‘anhum tidaklah menyebarkan islam dan memasukkan islam kedalam hati, melainkan dengan hikmah dan keilmuan mereka, yang ini lebih banyak dari yang dilakukan oleh pedang-pedang, Hanya saja, orang yang masuk kedalam islam dibawah pedang kadang-kadang tidak bisa teguh, dan orang yang masuk islam dengan jalan ilmu, argumen dan bukti-bukti dengan idzin Allah dan TaufiqNya ta’ala…………….

( disadur dari Majalah Al Furqon, Tahun 6 edisi 8 Rabi’ul Awwal 1428 H ) Selengkapnya...

LANJUTAN DI MASUKAN LIANG LAHAT..

Bentuk-Bentuk Siksa Kubur

Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”

Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:

1. Dipecahkan kepalanya dengan batu, kemudian Allah tumbuhkan lagi kepalanya, dipecahkan lagi demikian seterusnya. Ini adalah siksa bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya dan juga siksa bagi orang yang meninggalkan sholat wajib.
2. Dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepala, demikian juga hidung dan kedua matanya. Merupakan siksa bagi orang yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta dan kedustaannya itu mencapai ufuk.
3. Ada kaum lelaki dan perempuan telanjang berada dalam bangunan menyerupai tungku. Tiba-tiba datanglah api dari bawah mereka. Mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan.
4. Dijejali batu, ketika sedang berenang, mandi di sungai. Ini merupakan siksa bagi orang yang memakan riba.
5. Kaum yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka.
6. Kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.

Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:

1. Dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah dan ‘ijma salaf yang menunjukkan tentang adzab kubur.
2. Sesungguhnya keadaan akhirat tidak bisa disamakan dengan keadaan dunia, maka adzab atau nikmat kubur tidaklah sama dengan apa yang bisa ditangkap dengan indra di dunia. (Diringkas dari Syarah Lum’atul I’tiqod, hal 65-66)

Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini.

Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi) Selengkapnya...