يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Kamis, 01 Januari 2009

Sampai Kapan Kelalaian Ini Berakhir?

Sampai Kapan Kelalaian Ini Berakhir? PDF Cetak E-mail

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling. (Al Anbiyaa’: 1)

Siapa saja yang memperhatikan keadaan manusia sekarang ini, niscaya akan menemukan kesamaan keadaan mereka dengan ayat di atas. Anda akan melihat mereka lalai terhadap akhirat, lalai terhadap kewajiban agama, lalai terhadap fitrah mereka yang mana mereka diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka rela memeras otak dan tenaganya demi mendapatkan dunia dan perhiasannya, namun untuk agama terasa berat memerasnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah mereka mau mengerjakan kewajiban agama bila ujung-ujungnya mereka mendapatkan dunia –‘iyaadzan billah-,

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan–Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (terjemah Huud: 15-16).Orang yang seperti ini kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Celaka hamba dinar, hamba dirham dan hamba khamiishah (pakaian mewah), jika diberi ia senang, jika tidak ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah, kalau terkena duri semoga tidak tercabut.” (HR. Bukhari)

Semua aktifitas mereka didasari karena dunia, mereka cinta kepada seseorang karena dunia meskipun orang yang dicintainya adalah orang kafir, bencipun karena dunia meskذipun orang yang dibencinya adalah orang mukmin, bertengkar karena dunia, bahkan karena dunia mereka tinggalkan perintah Rabb mereka…

Lihat! Karena urusan dunia mereka rela meninggalkan shalat berjama’ah, karena pertandingan sepak bola mereka rela mengorbankan harta dan tenaga adapun untuk berinfak dan bersedekah berat rasanya, karena olahraga mereka rela meninggalkan shalat, karena pentas musik mereka rela bermaksiat, karena kenikmatan yang rendah inikah mereka rela meninggalkan perintah Rabb mereka yang telah mengaruniakan bermacam-macam nikmat?, Sampai kapankah kelalaian ini berakhir???

Untuk rapat ada waktu, untuk olahraga ada waktu, untuk bisnis ada waktu, untuk jalan-jalan ada waktu, untuk semuanya ada waktu namun untuk membaca Al Qur’an, menghadiri majlis ilmu syar’i, shalat berjama’ah, mengerjakan kewajiban agama dan mengerjakan amalan sunat ma’af “TIDAK ADA WAKTU”.Sampai kapan kelalaian ini berakhir???

Kita lihat di antara mereka amat pandai dan cerdas terhadap urusan dunia, namun tidak pandai menggunakan akalnya untuk mencari hal yang bermanfa’at buat akhiratnya,Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar Ruum: 7)Penyair mengatakan

,يَا مُتْعِبَ الْجِسْمِ كَمْ تَسْعَى لِرَاحَتـِهِأَقْبِلْ عَلَى الرُّوْحِ وَاْستَكْمِلْ فَضَائِلَهَاأَتْعَبْتَ جِسْمَكَ فِيْمَا فِيْهِ خُسْــرَانٌفَأَنْتَ بِالرُّوْحِ لَا بِالْجِسْمِ إِنْسَــانٌ

Hai kamu yang memeras tenaga, berapa banyak tenaga yang kamu keluarkan,Sudah, beralihlah memperbaiki rohani anda dan kejarlah keutamaan,Apakah kamu akan tetap terus memeras tenaga untuk hal yang ada kerugian di dalamnya,Karena kamu sebagai manusia karena ruh, bukan badan.

Alangkah semangatnya mereka mengejar harta dan dunia, namun alangkah beratnya mereka melangkahkan kakinya memenuhi panggilan Tuhannya. Waktunya berlalu begitu saja tanpa faedah, bahkan penuh terisi dengan maksiat dan meninggalkan perintah,

Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.–Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (Al Infithaar: 6-7)

Ia mengira perbuatannya itu mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan, padahal sebenarnya mendatangkan kesengsaraan sadar atau tidak sadar,

Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”(Thaha: 124)

Kepada mereka ditujukan perkataan penyair yang bijak

,نَهَارُكَ يَا مَغْرُوْرٌ سَهْوٌ وَغَفْـلَةٌوَشُغْلُكَ فِبْمَا سَوْفَ تَكْرَهُ غِبَّهُوَلَيْـلُكَ نَوْمٌ وَالرَّدَى لَكَ لاَزِمٌكَذَلِكَ فِي الدُّنْيَا تَعِيْشُ الْبَهَائِمُS

iangmu hai orang yang lalai adalah lupa dan tak sadar.Sibukmu hanya untuk hal-hal yang kelak kamu akan menyesali akibatnya,Malammu tidur, sudah layak kerugian menimpamu,Seperti itulah binatang hidup di dunia.

Dosa di matanya ibarat lalat menempel di hidung, ia lupa dan lalai kepada siapa sebenarnya ia berbuat maksiat.

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? (Nuh: 13)

Di pagi dan siang hari dosa-dosa dijalaninya dari mulai dosa kecil hingga dosa besar. Ghibah (gosip), namimah (adu domba), dusta, menuduh orang lain menjadi hal yang biasa. Khianat, mengambil harta orang lain tanpa kerelaannya, menyakiti tetangga, memutuskan tali silaturrahim, bermusuhan menjadi bagian hidupnya. Sombong, ‘ujub (bangga diri), hasad dan ghisy (menipu orang) menjadi akhlaknya. Mengumbar aurat bagi wanita dan memakai wewangian ketika keluar, mencukur habis janggut bagi laki-laki, memakai sutera dan perhiasan emas bagi laki-laki, memakai sarung atau celana isbal (melewati mata kaki) maupun lainnya sudah terbiasa. Dosa kecil dan besar dilaluinya seakan-akan tak pernah terlintas di hatinya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dosa kecil,



إِيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ فَإِنَّهُنَّ إِذَا يَجْتَمِعْنَ عَلىَ الرَّجُلِ حَتًَّى يُهْلِكَنَّهُ

“Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa itu bila berkumpul pada seorang hamba maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ 2687)

juga tidak pernah didengarnya perkataan ulama

,لاَصَغِيْرَةَ مَعَ اْلِاسْتِمْرَارِ وَلاََ كَبِيْرَةَ مَعَ اْلاِسْتِغْفَارِ“

Tidak ada dosa kecil bila dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar bila diiringi dengan istighfar.

Dan tak pernah terlintas di hatinya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dosa besar bahwa ia (dosa besar) dapat membinasakan dunia-akhirat (muubiqaat) yang di antaranya,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

“Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan”, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja itu ?” Beliau menjawab, “Syirk kepada Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh wanita mu’minah yang baik-baik yang sudah menikah berzina.” (HR. Bukhari)

Ia tidak lagi sempat bertanya kepada dirinya “Apa akibat dari tindakannya itu?” “Apa yang akan terjadi setelah puas mengerjakan perbuatan itu?”

Apakah mereka masih saja lalai terhadap kematian? Apakah mereka masih saja lalai terhadap hisab, apakah mereka masih saja lalai terhadap kubur? Apakah mereka masih saja lalai terhadap neraka dan apakah mereka masih saja lalai terhadap ‘adzab cepat atau lambat???

Relakah mereka menanggung ‘adzab yang pedih hanya karena ingin mendapatkan keseanangan yang sesaat???Sampai kapan kelalaian ini berakhir???

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka) (Al Hijr: 3).

Yakni biarkan saja mereka menikmati hidupnya seperti halnya binatang, yang diurusnya hanya makan, minum dan kesenangan semata, kelak mereka akan mengetahui dan menyesali perbuatannya.

Pernahkah terlintas di hatinya hakikat kehidupan di dunia ini dan pernahkah terlintas di benaknya tujuan ia diciptakan di dunia ini???

أَمـَا وَاللهِ لَوْ عَلِمَ اْلأَنَامُ # لِمـَا خُلِقُوْا لَمَا غَفَلُوْا وَنَامُوْالَقَدْ خُلِقُوْا لِمَا لَوْ أَبْصَرْتَهُ # مَمَاتٌ ثُمَّ قَـبْرٌثُمَّ حَشْـٌرعُيُوْنُ

قُلُوْبِهِمْ تاَهُوْا وَهَامُوْا # وَتَوْبِيْخٌ وَأَهْـوَالٌ عِظَـامٌ

Demi Allah, kalau sekiranya orang tahuUntuk apa mereka diciptakan, tentu mereka tidak lalai dan lelap tidurKamu akan lihat di depannyaMaut, kubur dan padang mahsyar,Mereka bingung tak tahu arah,
Ada ancaman dan peristiwa yang menegangkan.Sebelum menjauh pembicaraan ini mari menengok kepada diri sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang lalai itu atau tidak, jalan mana yang kita tempuh, apakah jalan yang menghubungkan kepada keridhaan Allah ataukah jalan yang menghubungkan kepada kemurkaan Allah, perhatikanlah baik-baik hal ini, karena masalahnya serius, bukan main-main, jangan biarkan dirimu terjatuh, bangkit dan perbaikilah sekarang, lihatlah apakah sikapmu selama ini sejalan dengan perintah Allah atau sejalan denagan larangan-Nya.

Ketahuilah, agama ini tidak bisa dipisah-pisahkan, karena berpegang dengan sebagiannya dan meninggalkan yang lain masuk dalam kategori bermain-main dengan perintah Allah, dan ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, bukankah Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? (Al Baqarah: 85).

Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim antara di masjid dan di luar masjid tetap mempraktekkan ajaran Islam, bicaranya dibatasi dengan ajaran Islam dan sikapnyapun demikian, bicaranya tidak jauh dari kebaikan dan sikapnya tidak jauh dari nilai-nilai Islam.

Anda bisa memulai hal ini dari sekarang, tidak ada kata “Sudah terlanjur basah”, ini adalah putus asa, dan putus asa adalah akhlak orang-orang kafir.

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.( Yusuf: 87)

Inginkah anda surga yang di dalamnya penuh kenikmatan, tidak ada kematian, tidak ada masa tua, tidak ada sakit dan tidak ada lagi penderitaan? Inginkah anda berkumpul bersama orang-orang yang mendapatkani kebaikan (para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih)? Maka ta’atilah Allah dan Rasul-Nya, jauhilah segala larangan dan kerjakanlah perintah sesuai kemampuan,

Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi,
Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (An Nisaa’: 69)

Bandingkanlah dengan neraka yang di dalamnya penuh kesengsaraaan dan penderitaan, bila lapar diberi makan Zaqqum dan bila haus diberi nanah dan air mendidih,

Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai–Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas–Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya–Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman–Selain air yang mendidih dan nanah–Sebagai pambalasan yang setimpal–Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. (An Naba’: 21-28)

Semoga dengan ini anda semakin cinta untuk memperbaiki diri.Tempuhlah jalan ini dan jangan ragu!Hati-hatilah anda jangan sampai tertipu oleh dunia, betapapun terasa lama menikmati dan hidup di dunia ini, namun anda tetap akan pergi meninggalkannya dan maut akan mendatangi anda. Berapa banyak orang yang sebelumnya mengira akan hidup lama, namun ternyata besoknya atau lusanya telah pergi hanya tinggal namanya, orang-orang membawanya ke liang kubur yang akan menjadi nikmat atau ‘adzab baginya.Sungguh sangat rugi dan rugilah dia, bila maut datang sedangkan dirinya belum sempat bertaubat, sungguh sangat rugi dan rugilah dia bila ada seruan bertaubat namun ia tidak mau menanggapi.

Berpikirlah matang-matang, persiapkan amalan karena di depanmu ada maut bersama sekaratnya dan kubur bersama kegelapannya.

Ingat, Rabbmu akan bertanya kepadamu tentang amalanmu besar maupun kecil,Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua—tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (Al Hujr: 92-93)

Demi Allah, sungguh sangat tidak masuk akal bila ada seseaorang yang santai begitu saja, tidak beramal padahal di depannya ada peristiwa-peristiwa dahsyat, maut-kubur-kebangkitan dan pembalasan.

Sungguh, saat-saat sekarang ini adalah kesempatan bagi anda untuk beramal dan nanti tidak ada lagi saat beramal,كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا“Semua manusia berusaha, usahanya itu ada yang menyelamatkan dirinya (dari ‘adzab) dan ada juga yang malah yang menceburkan diri ke dalamnya.” (HR. Muslim)

Usaha yang menyelamatkan dirinya dari ‘adzab adalah iman dan amal shalih dan usaha yang menceburkan dirinya ke dalam’adzab adalah kufur dan kemaksiatan.

Lihat ke kanan dan ke kiri, berapa banyak orang yang dijemput kematian tanpa membawa amalan, lihat ke kanan dan ke kiri berapa banyak orang yang dijemput kematian dalam keadaan berbuat maksiat, ini semua akibat menunda-nunda taubat, thuulul amal (panjang angan-angan) dan menyangka masih jauh kematian.

Jangan sampai kamu seperti orang yang dijemput kematian baru menyadari akan kelalalaiannya, seraya mengatakan,

“Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)–Agar aku berbuat amal yang saleh yang telah aku tinggalkan” (Al Mu’minuun: 99-100)

akan tetapi,

Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (Al Munaafiqun: 11)



Abu Yahya Marwan Al Hadidi




Maraaji’: Al Ghaflah Al Muhlikah (Maktab ta’aawuni’y lid da’wah wal irsyaad), Uriid an atuub wa laakin (Syaikh M. bin Shalih Al Munajjid) dll. Selengkapnya...

JAGALAH ALLOH NISCAYA...

Dari Abil Abbas Abdullah bin Abbas dia berkata :
"Dahulu aku pernah berada di belakang Rasulullah, lalu beliau bersabda :
"Wahai anak kecil sesungguhnya aku ingin mengajarimu beberapa kata, jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkanmu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah di angkat pena dan telah kering tinta" (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits hasan shohih).

Di dalam riwayat selain Tirmidzi :
"Jagalah Allah maka engkau akan mendapatkan-Nya dihadapanmu, kenalilah Allah di kala senang maka Dia akan mengenalmu di kala susah. Ketahuilah sesungguhnya apa yang tidak menimpamu maka dia tidak akan menimpamu dan apa yang akan menimpamu pasti dia akan menimpamu (tidak akan meleset). Dan ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan."

Takhrij Hadits

Hadits shohih, hadits ini memiliki 7 jalan dan lafadznya berbeda-beda. Dan yang paling baik adalahiwayat Hanasy ash-Shon'ani dari Ibnu Abbas, dia berkata :
"Dahulu aku pernah dibelakang Rasululllah ......"
Riwayat ini dikeluarkan oleh Tirmidzi 2635 bersama Tuhfatul Ahwadzi dan ini lafadz beliau, Ahmad 1/293, Ibnu Wahab dalam Al-Qodr 28, Abu Ya'la dalam musnadnya 2556, Ibnu Sunny dalam Amalul Yaum Wal Laila 327 dan Thobrani dalam Do'a 42 dari jalan Laits bin Sa'ad dari Qois bin Hajjaj dari Ibnu Abbas.

Syaikh Salim bin 'Id Al-Hilali mengatakan : Isnadnya shohih dan perowi-perowinya tsiqoh.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad 1/203&207, Baihaqi dalam Asma' Wa Sifat hal 97, Lalikai dalam Syarh Ushulu I'tiqod Ahli Sunnah Wal Jama'ah 1094&1095 dari jalan lain dari Qois bin al-Hajjaj. Dan juga dikuatkan oleh Yazid bin Abi Habib dari Hanasy, dan ini dikeluarkan oleh al-Ajuri dalam Syari'ah hal 198)

Syaikh Salim mengatakan : "Isnadnya shohih, meskipun sebagian jalan-jalannya yang lain tidak luput dari kelemahan tapi pegangannya adalah yang telah di sebut di atas. Wallahu a'lam.1 1. Shohih kitabul Adzkar wa dhoifuhu Syaikh Salim bin 'Id Al-Hilaly 2/999-1000.

Kedudukan Hadits

Ibnu Rojab berkata : "Hadits ini mengandung wasiat yang berharga dan kaidah-kaidah umum tentang hal-hal penting dalam agama, sampai-sampai sebagian Ulama mengatakan 'ketika aku merenungi hadits ini aku sangat tertarik sekali dan hampir-hampir aku gemetar.' Maka sangat disayangkan jika ada yang tidak tahu dan tidak memahami makna hadits ini."

Penjelasan Hadits

Nabi bersabda :

"Jagalah Allah maka Allah pasti menjagamu".

Maknanya adalah jagalah perintah-perintah, larangan-larangan dan batasan-batasan serta hak-hak Allah yaitu dengan menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan serta menjauhi apa yang di larang. Barangsiapa yang melaksanakan hal itu maka Allah telah memujinya dalam firman-Nya :

"Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat." (QS.Qoof: 32-33)

Termasuk hal yang penting untuk di jaga adalah sholat sebagaimana firman Allah ta'ala :

"Jagalah segala sholatmu dan sholat wustho (shalat ashar)." (QS. Al-Baqoroh : 238)

Allah sangat memuji orang yang menjaga sholatnya:

"Dan orang yang selalu menjaga sholat mereka." (QS. Al-Ma'arij : 34)

Allah juga memerintahkan untuk menjaga sumpah:

"Dan jagalah sumpahmu" (QS. Al-Maidah : 89)

Dan memerintahkan untuk menjaga kemaluan :
"Dan orang laki-laki dan orang perempuan yang menjaga kemaluan-kemaluan mereka." (QS. Al-Ahzab: 35).

Sabda Nabi : "Maka pasti Allah menjagamu" maknanya adalah barangsiapa yang menjaga perintah-perintah Allah serta menjalankan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan yang dilarang maka pasti Allah menjaganya, karena balasan itu tergantung dari perbuatannya.

Allah berfirman :

"Jika kalian menolong Allah maka pasti Allah menolong kalian" (QS. Muhammad : 7).

Penjagaan Allah kepada hamba-Nya di dunia ini berupa penjagaan terhadap kebaikan dan kemaslahatan dunia, badan, harta serta keluarganya.

Allah berfirman :

"Sedang ayahnya adalah seorang yang sholeh" (QS. Al-Kahfi : 82).

Imam Ibnu Katsir berkata (tentang tafsir ayat tersebut) : "Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa orang yang sholih itu keturunannya akan di jaga oleh Allah. Barokah ibadahnya akan meliputi mereka di dunia dan di akhirat. Dan dengan syafaatnya di hari akhir kelak mereka akan di angkat derajatnya di surga untuk menyejukkan pandangan orang tua mereka, sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, Said bin Jubair mengatakan bahwa Ibnu Abbas menafsirkan ayat di atas dengan ucapan beliau : Mereka berdua di jaga dengan sebab kesholehan kedua orang tua mereka." 2 2. Tafsir Ibnu Katsir 3/134.

Barangsiapa yang menjaga Allah pasti Allah menjaganya dari segala mara bahaya. Sebagaimana perkataan salaf :
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka dia telah menjaga dirinya, dan barangsiapa yang tidak bertakwa maka dia telah menelantarkan dirinya sendiri sedang Allah tidak butuh kepadanya."

Diantara penjagaan Allah yang amat menakjubkan adalah penjagaan-Nya bagi seseorang yang bertakwa dari binatang buas. Bahkan binatang buas tersebut menjadi penjaganya seperti yang terjadi pada Safinah pembantu Rasulullah ketika perahunya pecah dan dia terdampar di sebuah pulau. Lalu dia melihat seekor harimau tapi harimau tersebut malah menunjukinya jalan keluar hingga harimau itu berhenti seraya bersuara (meraung) seakan-akan dia mengucapkan selamat berpisah dan akhirnya harimau itupun kembali ketempatnya semula. 3 3. Diriwayatkan oleh Tabrani dalam "Al-Mu'jam Al-Kabir" dengan sanad yang hasan lihat juga "Jami'ulum Wal Hikam" hal 468 oleh Ibnu Rajab.

Penjagaan Allah bagi hamba-Nya juga berupa penjagaan terhadap agama dan keimanannya dari segala syubhat yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan hingga dia bertemu Allah dalam keadaan diridhoi-Nya. Oleh karena itu Nabi berdoa agar di jaga oleh Allah ta'ala :

"Ya Allah, jika engkau mewafatkan diriku maka ampunilah aku, dan jika engkau membiarkan diriku hidup maka jagalah aku sebagaimana engkau menjaga orang-orang yang sholeh.". HR. Bukhari 8/169.

Nabi Yusuf di jaga oleh Allah dari fitnah yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan, Allah berfirman :

"Demikianlah kami palingkan dia dari kejelekan dan kekejian, sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba kami yang ikhlas" (QS. Yusuf : 24)

Kebersamaan Allah Dengan Hambanya yang Bertakwa

Nabi bersabda :

"Jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu."
Barangsiapa yang menjaga perintah-perintah Allah dalam diri dan keluarganya serta istiqomah di atas al-Quran dan Sunnah, maka Allah pasti bersamanya. Arti kebersamaan ini bukan seperti yang diyakini orang-orang wihdatul wujud (Manunggaling Kawulo Gusti) dari kalangan extrim sufi yang meyakini Allah bersatu dalam diri makhluk-Nya atau hamba-Nya yang sholeh -Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan-. Ini bukan dari Islam bahkan ini adalah aqidah orang-orang Nashara tentang Isa q. Sesungguhnya Allah bersemayam di atas Arsy-Nya di atas langit ketujuh :
"Allah yang Maha Penyayang bersemayam di atas Arsy" (QS. Thoha : 5)

Allah bersama dengan hamba-Nya dengan penglihatan, pendengaran, pengawasan atau pertolongan-Nya,-pent. dalam setiap keadaan. Allah akan memberinya petunjuk dan taufik, melindungi, menolong dan menjaganya. Allah ta'ala berfirman :

"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl : 128).

Dan Allah berfiman kepada Musa dan Harun :

"Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian. Aku mendengar dan melihat" (QS. Thoha : 46).

Allah juga berfirman menceritakan tentang Musa :

"Sesungguhnya Rabbku bersamaku Dialah yang memberiku petunjuk" (QS. Asy-Syu'ara : 62).

Dan Nabi Muhammad pernah berkata kepada Abu Bakar :

"Janganlah kau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita" (QS. At-Taubah : 40).

Inilah kebersamaan Allah yang khusus (bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa-pent) yang berupa pertolongan, penjagaan dan bantuan seperti yang dijelaskan oleh para Ulama. Hal ini berlainan dengan kebersamaan-Nya secara umum (bagi semua makhluk-Nya yang kafir atau yang mukmin yang berupa pengawasan dan pendengaran serta penglihatan-pent) seperti dalam firman-Nya :

"Tiada pembicaraanahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya" (QS. Al-Mujaadilah : 7)

Dan firman-Nya :

"Tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah padahal Allah beserta mereka" (QS. An-Nisaa : 108).

Kebersamaan ini berupa pengetahuan Allah, pengawasan-Nya terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan ini mengandung ancaman.

Hukum Minta Pertolongan

Nabi bersabda :

"Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah". Yang di maksud dengan meminta di sini adalah berdo'a dan do'a itu adalah ibadah.
Allah ta'ala berfirman :

"Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya" (QS. An-Nisaa : 32)

Allah ta'ala mengancam orang sombong yang tidak mau berdo'a kepada-Nya.

"Dan Robb kalian berfirman : Berdo'alah kepadaku maka pasti aku akan kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembah kepada-Ku maka pasti mereka akan masuk ke neraka jahannam dalam keadaan hina." (QS. Al-Mukmin : 60)

Maka wajib bagi seorang Muslim untuk dia tidak meminta/berdo'a kepada selain Allah dalam hal-hal yang tidak sanggup untuk melakukannya kecuali Allah. Barangsiapa yang meminta/berdo'a kepada selain Allah maka dia terjerumus kedalam kesyirikan yang Allah telah melarang hamba-Nya darinya. Allah berfirman :

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdo'a kepada selain Allah yang tidak bisa memperkenankan do'anya sampai hari kiamat" (QS. Al-Ahqof : 5).

Ibnuajab berkata: "Ketahuilah bahwa meminta kepada Allah adalah suatu yang wajib dilakukan. Karena meminta itu mengandung arti merendahkan diri, tunduk serta mengharapkan dan membutuhkan dari sang peminta (hamba). Dan hal tersebut juga mengandung pengakuan akan kemampuan yang di minta (Allah) untuk menghilangkan kesusahan dan mendatangkan kemanfaatan. Tidak ada yang patut untuk seorang Muslim itu merendahkan diri dan mengharapkan kecuali kepada Allah saja. Dan inilah hakikat ibadah. Jamiul ulum wal hikam hal. 181

Adapun meminta manusia dalam perkara-perkara dunia yang mereka sanggup melakukannya maka hal ini (sebenarnya tidak dibolehkan kecuali pada waktu darurat-pent). Banyak hadits-hadits yang mencela meminta kepada manusia dan menganjurkan untuk bersikap memelihara diri dari meminta-minta. Nabi pernah bersabda : "Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta itu tidak dibolehkan kecuali dalam salah satu dari tiga hal, yaitu :

1. Seseorang (yang mendamaikan pertikaian antara manusia lalu) dia menanggung beban biayanya maka boleh baginya meminta hingga dia mendapatkannya kemudian dia berhenti dari meminta.

2. Seseorang yang tertimpa bencana hingga musnah hartanya maka boleh baginya untuk meminta hingga dia mendapatkan hal yang bisa menopang hidupnya.

3. Seseorang yang tertimpa kemiskinan yang sangat hingga 3 orang yang cerdik dari kaumnya berkata: telah menimpa orang itu kemiskinan yang sangat maka boleh bagi orang ini untuk meminta sampai dia mendapatkan hal yang bisa menopang hidupnya.

Selain ketiga hal ini -wahai Qobishoh- meminta-minta itu termasuk memakan harta yang haram" (HR Muslim)

Hadits di atas ini menunjukkan akan haramnya meminta-minta dan hal tersebut tidak dibolehkan kecuali karena terpaksa seperti yang disebutkan dalam hadits atau yang semisalnya.

Allah memuji hamba-hamba-Nya yang memelihara diri mereka dari meminta-minta kepada manusia. Allah ta'ala berfirman :

"Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah ; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi ; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak." (QS. Al-Baqoroh : 273)

Nash-nash tentang hal ini banyak sekali, sebagiannya mengharamkan (seperti hadits di atas) dan sebagiannya lagi memakruhkan, semisal seorang meminta kebutuhan pribadinya kepada sahabatnya seperti kendaraan, bejana, pensil dll. Nabi pernah membaiat sekelompok dari sahabatnya untuk mereka tidak meminta kepada manusia sesuatupun (diantaranya Abu Bakr, Abu Dzar dan Tsauban). Pernah salah satu dari mereka suatu ketika jatuh cemeti atau tali kendali untanya, maka diapun tidak mau meminta seseorang untuk mengembalikan kepadanya. Maka sebagian Ulama ketika mengomentari hadits di atas berkata : "Didalamnya ada penjelasan bolehnya berpegang dengan keumuman (hadits) karena mereka dilarang meminta (secara umum) dan didalamnya juga terdapat anjuran untuk memelihara diri dari meminta-minta walaupun sesuatu yang kecil"

Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allah Saja
Nabi bersabda :

"Apabila engkau meminta pertolongan mintalah kepada Allah."

Seorang hamba meskipun memiliki kedudukan, kehormatan dan kekuasaan dia masih lemah dan fakir (membutuhkan) untuk mendapat manfaat dan untuk terhindar dari kemudharatan. Oleh karena itu wajib baginya meminta pertolongan kepada Allah saja untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Barangsiapa yang di tolong Allah maka dialah yang beruntung dan di beri petunjuk. Dan barangsiapa yang tidak di tolong Allah dan dibiarkan saja maka dia orang yang merugi dan gagal. Oleh karena itu besar sekali kedudukan ucapan (laa haula wala quwwata illa billahi). Ucapan tersebut adalah harta karun dari surga sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah. Karena ucapan tersebut mengandung pengakuan bahwa tidak ada daya kekuatan bagi seorang hamba untuk berbuat kecuali dengan pertolongan Allah ta'ala.

Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah saja baik dalam menjalankan ketaatan atau meninggalkan kemaksiatan atau dalam bersabar atas semua yang menimpanya dan dalam istiqomah (di atas agama-Nya) hingga dia bertemu Allah di hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak keturunan. Allah ta'ala berfirman :

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" (QS. Al-Fatihah : 5).

Nabi bersabda :
"Bersungguh-sungguhlah untuk berbuat yang bermanfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan engkau lemah" (HR. Muslim 5/521)

Iman Kepada Qodo' dan Qodar

Nabi bersabda :
"Ketahuilah seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditaqdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkamu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah di angkat pena dan telah kering tinta"

Di dalam hadits Rasulullah inilah terdapat penjelasan tentang Qodho' dan Qodar, maka wajib bagi seorang hamba untuk mengimaninya. Allah ta'ala mengetahui segala sesuatu yang dikerjakan hamba-Nya berupa kebaikan dan kejelekan dengan terperinci dan ilmunya tidak didahului oleh ketidak tahuan. Dan Allah maha mengetahui apa yang menimpa seorang hamba dari kebaikan (atau musibah) dan dia telah menuliskannya di lauhul mahfudz.
Nabi bersabda:
"Sesungguhnya Allah menuliskan takdir semua makhluk ini sejak 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi" (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda :
"Sesungguhnya makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah al-Qolam lalu Allah mengatakan kepadanya : Tulislah (takdir semua makhluk ini -pent), maka sejak itupun berjalan takdir Allah hingga hari kiamat" (HR. Ahmad 5/317 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Syarh Aqidah Thohawiyah hal. 294)

Seorang hamba tidak akan di timpa oleh sesuatu pun dari kebaikan dan musibah melainkan yang telah Allah takdirkan baginya. Barangsiapa yang akan Allah beri kebaikan maka tidak ada seorang pun dari penghuni langit dan bumi yang bisa menghalangi kebaikan tersebut, meskipun mereka bersatu-padu. Hal ini telah Allah jelaskan dalam al-Qur'an :

"Katakanlah : tidak ada yang menimpa kami melainkan yang telah Allah tuliskan untuk kami" (QS. At-Taubah : 51).

Dan Allah berfirman :

"Katakanlah : sekiranya kamu berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ketempat mereka terbunuh" (QS. Ali-Imran : 154).

Oleh karena itulah Nabi bersabda :

"Telah di angkat pena dan telah kering tinta".

Ibnu Rojab berkata :
"Ini adalah kinayah/perumpamaan kan berlalunya/berjalannya semua takdir dari waktu yang lampau. Karena sebuah buku yang telah selesai penulisannya dan telah di angkat pena serta berlalu lama maka tinta pena yang di buat menulis itupun kering begitu pula yang dibuat menulis di kitab tersebut. Ini adalah seindah-indahnya perumpamaan/kinayah". Jami'ul Ulum Wal Hikam hal. 182

Kenalilah Allah di Kala Senang Maka Allah Akan Mengenalimu di Kala Susah.

Ini adalah kata-kata mutiara Nabi yang selayaknya untuk diingat dan disebarkan. Didalamnya ada seruan untuk selalu ingat kepada Allah di kala senang, aman, sehat, dan kaya serta gagah perkasa. Mengingat-Nya adalah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan-Nya serta dengan melaksanakan yang sunnah/nafilah. Barangsiapa yang ingat Allah di kala bahagia maka Allah pasti akan mengenalinya di kala kesempitan, kemiskinan, kesusahan dan di saat dia berduka cita serta menderita. Berapa banyak kesusahan di dunia ini yang menimpa seorang muslim, akan tetapi jika Allah mengenalinya maka Allah akan membantu dan menguatkannya di atas kebenaran dan menolongnya.

Sesungguhnya Nabi Muhammad selalu mengenal Rabb-Nya di kala senang dan bahagia hingga Allah pun mengenali/menolong beliau di kala di gua (tsaur), di perang Badar & Ahzab. Dialah yang menolong Nabi-Nya dan meninggikan benderanya. Demikian pula dengan Nabi Yunus q beliau selalu mengenali Rabbnya di kala suka cita maka Allah pun mengenalinya di kala di dalam perut ikan dan Allahlah yang menyelamatkannya.

Kemenangan Bersama Kesabaran

Nabi bersabda :

"Ketahuilah bahwasanya kemenangan itu bersama kesabaran".

Hal ini dikuatkan oleh firman Allah ta'ala :

"Berapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak dengan seizin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar" (QS. Al-Baqarah : 249)

Dan firman-Nya :

"Jika ada diantara kalian seribu orang maka mereka akan mengalahkan 2000 (pasukan musuh) dengan seizin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar" (QS. Al-Anfal : 66)

Sabar adalah perangai mulia yang selalu dibutuhkan oleh seorang muslim hingga dia dapat melaksanakan perintah Allah. Bencana yang ditimpakan Allah kepada hamba-hamba-Nya juga membutuhkan kesabaran. Begitu pula gangguan-gangguan danintangan-rintangan yang dihadapi oleh seorang muslim dalam perjalanan dakwahnya memerlukan kesabaran. Meninggalkan nafsu syahwat dan larangan-larangan Allah sangat membutuhkan kesabaran. Karena hawa nafsu itu selalu menggoda manusia akan tetapi yang bisa selamat hanyalah yang di jaga oleh Allah ta'ala. Menjaga keta'atan kepada Allah membutuhkan kesabaran dan demikian juga dengan memerangi musuh-musuh Allah sangat menbutuhkan kesabaran. Karena jihad didalamnya banyak onak dan duri. Bersabar dalam menghadapi mereka merupakan sebab kemenangan seperti yang di jelaskan oleh Rasulullah. Kemenangan yang dijanjikan oleh Rasulullah ini mencakup 2 bentuk jihad, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Rajab :

"Kemenangan itu mencakup 2 bentuk jihad, Jihad melawan musuh yang dhohir/nampak dan jihad melawan musuh yang batin/tidak nampak (yaitu hawa nafsu). Barang siapa yang bersabar menghadapi keduanya maka dia akan mendapat kemenangan dan pertolongan. Dan barang siapa yang tidak bersabar menghadapi keduanya maka dia akan kalah dan menjadi tawanan atau terbunuh." (Jami'ul Ulum wal Hikam 186)

Kelapangan Datang Setelah Kesempitan

Nabi bersabda :

"Sesungguhnya kelapangan datang setelah kesempitan."

Musibah, fitnah, ujian dan cobaan kadang menghujani diri seorang muslim, semakin lama terkadang semakin bertambah dan seolah-olah dunia terasa sempit baginya. Maka kesedihan dan kesusahan pun menghimpitnya, tapi apabila dia bersabar dan mengharapkan pahala Allah atas musibah tersebut serta dia meyakini bahwa semua ini telah ditaqdirkan dan ditentukan oleh Allah dan dia tidak putus asa akan pertolongan/rahmat Allah maka dia akan mendapatkan pertolongan, pengampunan danahmat Allah. Dan akan datang kelapangan padanya. Dan dibalik musibah itu sebenarnya banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa dipetiknya. Allah ta'ala berfirman :

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan macam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat" (QS. Al-Baqarah : 214).

Rasulullah pada waktu perang Ahzab ditimpa dan diuji dengan berbagai macam ujian,asa takut, lapar, dingin dan kesulitan akan tetapi mereka para sahabat bersama beliau selalu tegar menghadapi semua itu seperti tegarnya gunung batu yang kokoh. Lalu datanglah pertolongan Allah.

Kemudahan Pasti Datang Setelah Kesulitan

Nabi bersabda :

"Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan."

Hal ini juga tercantum dalam firman-Nya :

"Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan" (QS. Ath-Tholaq : 7)

Dan firman-Nya :

"Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan dan sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan" (QS. Asy-Syarhu : 5-6)

Sesungguhnya kesulitan, kesedihan, kesempitan dan musibah-musibah itu akan menjadikan seorang muslim suci dan bersih dari kotoran-kotoran (dosa dan noda) dan akan menjadikan hatinya selalu bergantung kepada Allah dan semakin bertambah ketergantungan ini seiring dahsyatnya musibah dan cobaan. Seorang Muslim akan selalu merendahkan dirinya kepada Allah dengan niat yang ikhlas. Dan inilah sebab dihilangkannya kesulitan. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi'i pernah mengatakan :

Bersabarlah, karena kelapangan itu akan datang secepatnya
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala perkaranya maka dia akan bahagia
Barangsiapa yang selalu menyerahkan diri kepada Allah maka dia tidak akan ditimpa bencana
Dan barangsiapa yang mengharap kepada Allah dia akan mendapatkan harapannya

Di dalam hadits di atas Rasulullah menekankan bahwa kemudahan tidak akan kekal abadi selama dia mau bersabar dan mengharap pahala serta yakin bahwa semua itu telah ditaqdirkan oleh Allah ta'ala dan tidak ada tempat untuk melarikan diri darinya, lalu diapun tetap istiqomah di atas agama-Nya.

Pelajaran-Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Hadits

1. Diharapkan bagi seorang guru untuk memusatkan perhatian murid sebelum dimulainya pelajaran. Hal ini diambil dari sabda beliau : "Wahai anak kecil, aku ingin mengajarimu beberapa kata"

2. Anjuran untuk mendidik dan mengajari anak-anak ilmu agama

3. Anjuran untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dalam hal-hal yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sebagaimana Rasululllah menggunakan kesempatan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain dengan memberikan wasiat berharga bagi Ibnu Abbas yang membonceng di belakang beliau.

4. Anjuran untuk bersifat jantan dan berani tapi dengan memakai akal pikiran dan mengerahkan daya upaya. Barangsiapa yang meyakini bahwa madharat dan manfaat itu hanya di tangan Allah dan bahwasanya yang menimpa dirinya dari manfaat dan madharat itu dari taqdir Allah maka hal ini semua akan menjadikannya gagah berani.
Maraji':
Qowaaid Wa Fawaid Minal Arbain An-Nawawiyah oleh Nadzim Muhammad Sulthon, hal. 169-178. Selengkapnya...

MACAM MACAM HATI

Hati itu bisa hidup dan bisa mati. Sehubungan dengan itu, hati dapat dikelompokkan menjadi:

[1]. Hati yang sehat
[2]. Hati yang mati
[3]. Hati yang sakit

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Pada hari kiamat nanti, barangsiapa menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa membawanya tidak akan selamat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat." [Asy-Syu'ara : 88-89]

Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam . Ubudiyahnya murni kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala . Iradahnya, mahabbahnya, inabahnya, ikhbatnya, khasyyahnya, roja'nya, dan amalnya, semuanya lillah, karenaNya. Jika ia mencintai, membenci, memberi, dan menahan diri, semuanya karena Allah Subhanahu wa Ta'ala . Ini saja tidak dirasa cukup. Sehingga ia benar-benar terbebas dari sikap tunduk dan berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hatinya telah terikat kepadanya dengan ikatan yang kuat untuk menjadikannya sebagai satu-satunya panutan, dalam perkataan dan perbuatan. Ia tidak akan berani bersikap lancang, mendahuluinya dalam hal aqidah, perkataan atau pun perbuatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kalian bersikap lancang (mendahului) Allah dan RasulNya, dan bertaqwalah kepada Allah Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Al-Hujurat : 1]

Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya. Ia tidak beribadah kepadaNya dengan menjalankan perintahNya atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridlaiNya. Hati model ini selalu berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala . Ia tidak peduli dengan keridlaan atau kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala . Baginya, yang penting adalah memenuhi keinginan hawa nafsu. Ia menghamba kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala . Jika ia mencinta, membenci, memberi, dan menahan diri, semuanya karena hawa nafsu. Hawa nafsu telah menguasainya dan lebih ia cintai daripada keridlaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hawa nafsu telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya. Kebodohan adalah sopirnya, dan kelalaian adalah kendaraan baginya. Seluruh pikirannya dicurahkan untuk menggapai target-target duniawi. Ia diseru kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan negeri akhirat, tetapi ia berada di tempat yang jauh sehingga ia tidak menyambutnya. Bahkan ia mengikuti setiap setan yang sesat. Hawa nafsu telah menjadikannya tuli dan buta selain kepada kebatilan.[1]. Bergaul dengan orang yang hatinya mati ini adalah penyakit, berteman dengannya adalah racun, dan bermajlis dengan mereka adalah bencana.

Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadang-kadang ia cenderung kepada 'kehidupan', dan kadang-kadang pula cenderung kepada 'penyakit'. Padanya ada kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala , yang merupakan sumber kehidupannya. Padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad [2], kibr [3], dan sifat ujub, yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada diantara dua penyeru; penyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan hari akhir, dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat, paling akrab.

Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu', tawadlu', lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati, Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.


[Diketik ulang dari: "Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf", Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali. Pentahqiq: Dr. Ahmad Farid. Penerjemah: Imtihan Asy-Syafi'i. Editor: Abu Fatiah Al Adnani . Penerbit: Pustaka Arafah, Solo. Cetakan Pertama: Februari 2001/Dzul Qa'dah 1421 H, hal.22-24] Selengkapnya...

WASIAT UMAR BIN DZAR TENTANG RENUNGAN MENGENAI PEMUTUS KENIKMATAN

WASIAT UMAR BIN DZAR TENTANG RENUNGAN MENGENAI PEMUTUS KENIKMATAN

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali
Dari Nadhar bin Ismail yang berkata: Saya pernah mendengar Umar bin Dzar [1] berkata:

Kamu sekalian telah cukup mengerti tentang kematian, maka kamu menunggu-nunggu kedatangannya siang dan malam.

Mungkin kamu meninggal sebagai seorang yang sangat dicintai oleh keluarganya, dihormati oleh kerabatnya, dan dipatuhi oleh masyarakatnya, dipindahkan keliang yang kering dan batu-batu cadas yang bisu. Tidak ada seorangpun dari keluarga yang bisa memberikan bantal, kecuali hanya menempatkannya di tengah kerumunan binatang serangga. Adapun bantal pada saat itu berupa amal perbuatannya.

Atau mungkin kamu meninggal sebagai orang yang malang dan terasing. Di dunia, ia telah ditimpa banyak kesedihan, usaha yang dilakukan sudah berkepanjangan, badan telah kepayahan, lantas kematian tiba-tiba menjemput sebelum ia meraih keinginannya.


Atau mungkin kamu adalah seorang anak yang masih disusui, orang yang sakit, atau orang yang tergadai dan tergila-gila dengan kejahatan. Mereka semua diundi dengan anak panah kematian.

Tidak adakah pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan para juru nasihat?!

Sungguh, seringkali saya berkata: "Maha Suci Allah Jalla Jalaluhu. Dia telah memberi tempo kepada kamu sehingga seakan-akan menjadikan kamu lalai." Kemudian saya kembali melihat kepemaafan dan kekuasaan-Nya, lantas berkata: "Tidak, tetapi Dia mengakhirkan kita sampai pada batas ajal kita, sampai pada hari di mana mata menjadi terbelalak dan hati menjadi kering."

"Artinya : Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." [Ibrahim : 43]

"Ya Rabbi, Engkau telah memberikan peringatan, maka hujjah-Mu telah tegak
atas hamba-hamba-Mu”

Kemudian ia membaca:

"Artinya : Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit." [Ibrahim : 44]

Kemudian ia berkata:

"Wahai pelaku kezhaliman! Sesungguhnya kamu sedang berada dalam masa penangguhan yang kamu minta itu, maka manfaatkanlah sebelum akhir masa itu tiba dan bersegeralah sebelum berlalu. Batas akhir penangguhan adalah ketika kamu menemui ajal, saat sang maut datang. Ketika itu tidak berguna lagi penyesalan.

Anak Adam ibarat papan yang dipasang sebagai sasaran dari panah kematian. Siapa yang dipanah dengan anak panah-anak panahnya, tidak akan meleset. Dan bila kematian itu telah menginginkan seseorang, maka tidak akan menimpa yang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kebaikan yang paling besar adalah kebaikan di akhirat yang abadi dan tidak berakhir, yang kekal dan tidak fana, yang terus berlanjut dan tak kenal putus.

Hamba-hamba yang dimuliakan bertempat tinggal di sisi Allah Ta'ala di tengah segala hal yang menyenangkan diri dan menyejukkan pandangan. Mereka saling mengunjungi, bertemu, dan bernostalgia tentang hari-hari mereka hidup di dunia.

Tentramlah kehidupan mereka. Mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan dan meraih apa yang mereka cari, karena keinginan mereka adalah berjumpa dengan majikan Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Anugerah. [2]


[Disalin ulang dari: "Wasiat Para Salaf", Penulis Syaikh Salim bin 'Ied Al Hilali, Penerjemah: Hawin Murtadho. Penerbit: At-Tibyan, Solo. Cetakan kedua: Juli 2000 M, hal.111-114]
_________
Foote Note
[1]. Dia adalah Umar bin Dzar biun Abdillah bin Zaraqah Al-Hamdani Al-Murhabi, seorang tabi'it tabi'in yang tsiqah, wafat pada tahun 135 H. Riwayat hidupnya ada dalam "Tahdzibut Tahdzib" (VII:144), "Hilyatul Auliya" (V:108) dan lain-lain
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam 'Al-Hilyah' (V:115-116) Selengkapnya...

Kamis, 27 November 2008

....KAMI BUKANLAH SURURI....seperti ....APA YANG MEREKA KATAKAN...

Sebagian orang menuduh kami (redaksi dan ustad-ustad Salaf lainnya –pen) sebagai sururi, yakni mengikuti pemahaman sesat Muhammad bin Surur, kemudian mereka memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kami.
Padahal sifat-sifat sururi tidak ada pada kami. Bahkan sifat-sifat itu banyak melekat pada orang-orang yang telah menuduh.

Maka disini kami nasehatkan dengan beberapa ayat dan hadits tentang bahaya menyakiti kaum muslimin, dan memfitnah mereka dengan perkara yang tidak ada pada mereka. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada mereka sehingga segera kembali ke jalan yang benar. Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti akan dicatat dan tidak akan dilupakan!

Allah Ta’ala berfirman:
“Artinya : (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu usapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Al-Israa : 17-18]

Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti dimintai pertanggung-jawaban!

Allah Ta’ala berfirman:
“Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. [Al-Israa : 36]

Ketahuilah bahwa menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, merupakan kebohongan dan dosa yang nyata!

Allah ta’ala berfirman:
“Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. [Al-Ahzab :58]

Ketahuilah bahwa satu kalimat saja dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat!.

Rasulullah bersabda:
“Artinya : Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dia fikirkan (baik atau buruknya) pada kalimat itu. Kalimat itu menyebabkan dia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari timur dan barat”. [HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah].

Rasulullah memperingatkan bahaya tuduhan yang tidak benar dengan sabdanya:
“Artinya “ Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya jika yang dituduh tidak seperti itu”. [HR. Bukhari dari Abu Dzar].

Beliau juga memberitakan ancaman bagi orang yang membuat fitnah atas seorang mukmin dengan abdanya:
“Artinya : Barangsiapa berbicara tentang seorang mukmin apa yang tidak ada padanya, niscaya Allah tempatkan dia di dalam lumpur racun penghuni neraka sampai dia keluar dari apa yang telah dia ucapkan, dan dia tidaklah akan keluar!” [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Baihaqi, dari Ibnu Umar, di shahihkan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam Ru’yah Waqi’iyyah hal: 84]

Hendaklah saudara-saudaraku mengetahui, kalau hanya sekedar tuduhan, maka dengan sangat mudah setiap orang akan dapat melakukannya.
Tetapi hal itu bukanlah manhaj Salaf. Karena manhaj mereka adalah mengawasi apa saja yang muncul dari lisan, atau apa yang digerakkan oleh lisan, dan menegakkan hujjah terhadap setiap kalimat yang dibicarakan oleh bibir. Adapun melepaskan tuduhan-tuduhan, melepaskan istilah-istilah kasar, menyelinapkan prasangka-prasangka rusak, memunculkan gelar-gelar keji, semua itu merupakan kebatilan dan perkataan yang dusta.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengetahui seluruh isi hati hamba-Nya terakhir, ingatlah sabda Rasulullah :
Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan segala yang telah dia dengar. [HR. Muslim di dalam Muqaddimah dari Hafsh bin ‘Ashim]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Hal.4-7] Selengkapnya...

WASPADA VIRUS SURURI

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan terus berlanjut hingga hari kiamat, masing-masing dari kebenaran dan kebatilan memiliki penyeru dan pembela. Penyeru kebenaran berusaha menyelamatkan umat dan membawanya ke jalan yang lurus agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, sedangkan penyeru kebatilan berusaha menyesatkan dan merusak umat agar mereka celaka.

Merupakan hal yang menakjubkan bahwa penyeru kebatilan menampakkan diri kepada umat bahwa mereka adalah du’at Salafiyyin untuk mengelabui umat sehingga mengikuti pemikiran-pemikiran mereka dan menganggap baik manhaj mereka.

Mereka gunakan perkataan-perkataan yang mujmal (global) dan samar yang mengandung seribu makna, tercampur di dalamnya yang haq dan batil. Inilah cara-cara ahlu bid’ah dari masa ke masa sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim, karena suatu bid’ah jika berupa kebatilan yang murni maka tidak mungkin di terima oleh manusia, setiap orang akan bersegera membantah dan mengingkarinya. Seandainya bid’ah itu kebenaran yang murni maka itu bukanlah merupakan bid’ah, tetapi adalah sunnah. Maka bid’ah tersebar di kalangan manusia awam karena mengandung kebenaran dan kebatilan. Di antara kelompok yang sangat lihai mengelabui umat dengan kalimat-kalimat yang sangat mujmal dan samar adalah kelompok sururiyyah. Kelompok ini lebih berbahaya di bandingkan kelompok sesat lainnya karena lebih sulit dideteksi kesesatannya, tetapi Allah tidak membiarkan gerakan mereka, Allah siapkan pasukan-pasukanNya dari para pembela Sunnah untuk membeberkan kepada umat makar-makar dan membuka kedok-kedok mereka.

Dalam bahasan ini kami meminta taufik kepada Allah untuk menukil sedikit dari penjelasan para ulama tentang keadaan mereka dengan harapan bisa ikut menyumbangkan saham dalam membentengi umat dari kejahatan mereka. Selengkapnya...

ORMAS SURURI

Organisasi Kelompok Sururiyah

Kelompok ini dimotori Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin, pendiri yayasan Muntada Al-Islami yang berpusat di london Inggris. Dia juga pendiri dari redaktur majalah As-Sunnah Al-Britaniyyah dan majalah Al-Bayan bersama Muhammad Al-Abduh, Muhammad Mis’ary dan kawan-kawannya. Muhammad Surur adalah kelompok yang masyhur dengan penyimpangan dan permusuhan mereka kepada para ulama salaf di dalam majalah mereka yang terbit dari London dan dalam tulisan-tulisan mereka.

Kelompok ini merupakan jamaah yang terorganisir rapi sebagaimana di katakan Muhammad Surur kepada Syaikh Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, “Kami tidak menyembunyikan kepada kalian bahwa kami adalah sebuah jamaah, kami loyal kepada setiap muslim dan kami tidak taa’shshub.” (Risalah Syaikh Muqbil kepada Syaikh Abdullah bin Ubailan sebagaimana dalam kitab Al-Quthbiyyah cet. Selengkapnya...

TUJUAN UTAMA SURURIYYUN

Tujuan Utama Kelompok Sururiyyah

Tujuan utama kelompok sururiyyah adalah mendirikan dan merebut kekuasaan dan mendirikan Khilafah Islamiyyah (negara islam), mereka berkata, “Gerakan-gerakan islam yang ada sekarang ini adalah seperti kumpulan pasukan yang mengumpulkan umat dengan perbedaan pemikiran-pemikirannya, untuk menanggulangi fitnah kekufuran… maka gerakan-gerakan islam ini adalah pengganti Daulah Islamiyyah…” (Madkhal Ila Tarsyid ‘Amal Islamy hal. 116 sebagaimana dalam Al-Quthbiyyah hal. 20).

Salman Al Audah berkata, “Daulah Khilafah berlangsung lebih dari 13 abad… adapun realita sekarang ini, maka sangat menyedihkan karena semua misal yang dipandang mata adalah misal-misal yang tidak Islami…” (kaset Ummah Ghaibah?! sebagaimana dalam Al-Quthbiyyah hal. 23).

Safar Al Hawaly berkata: “Kita sangat merindukan Afghanistan akan menjadi batu pertama bagi Daulah Islamiyyah…” (Syarh Thahawiyyah 266/2 sebagaimana dalam Al-Quthbiyyah hal. 23). Selengkapnya...

REFERENSI KELOMPOK SURURI

Referensi Kelompok Sururiyyah

Di samping majalah Al Bayan oleh Al Abduh dan majalah As-Sunnah Al-Britaniyyah oleh Surur, kelompok ini memiliki referensi-referensi yang diharuskan kepada pengikutnya untuk membacanya dengan urutan-urutan yang rapi dan seragam, di antara referensi-referensi mereka adalah, Kitab-kitab Sayyid Quthb seperti Fi Zhilalil Qur’an, ‘Adalah Ijmaiyyah, Ma’rakatul islam wa Ra’sumaliyyah, dan Ma’alim Fi Thariq, Mausu’ah Haraqiyyah oleh Fathi Yakan, Munthaliq, ‘Awaiq, dan Bawariq oleh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid (nama samaran dari Abdul Mun’im bin Shalih Al-illy Al-’Izzy), Harakatun Nafs Zakiyyah oleh Muhammad Al-Abduh, Ahlussunnah wal Jamaah Ma’alim Inthilaqatil Kubra oleh Muhammad Abdul Hadi Al-Mishry, Jahiliyyah Abad 20 oleh Muhammad Quthb, Al-Islam Al-Hadits oleh Jamal Sulthan, Wa Ja’a Daurul Majus oleh Abdullah Muhammad Al Gharib (nama samaran dari Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin!), Da’wah Islamiyyah Faridhan Syar’iyyah oleh Shadiq Amin (nama samaran dari Abdullah Azzam) dan masih banyak lagi yang senafas dengan kitab-kitab di atas.

Penyimpangan Kelompok Sururiyyah Selengkapnya...