يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ﴾ [الحشر:18

Jumat, 01 Januari 2010

WAHAI MUJAHIDDIN (1)

Wahai Mujahidin !!!
Sebuah Nasehat dan Klarifikasi bagi Mujahidin yang salah langkah
Oleh : Ustadz Abdurrahman bin Thoyib
di Post Abu Usamah Sufyan Al Atsari Al Bykazi



Dari Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda : “Akan muncul sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak menelusuri jejakku (petunjukku) dan tidak mengikuti sunnahku dan akan muncul pula diantara mereka orang-orang yang berhati setan dalam tubuh manusia. Aku berkata : Wahai Rasulullah apa yang harus saya perbuat jika saya menemui hal tersebut ? Beliau menjawab : Engkau wajib mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu, dengar dan taatilah“. [HR.Muslim no.4762 dengan Syarah Imam Nawawi]

Didalam hadits ini dengan jelas dan gamblangnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada umatnya terutama para Mujahidin, bagaimana menyikapi para penguasa yang tidak berhukum dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ataupun tidak menjalankan syariat Islam dan dia pun menyimpang dari sunnahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya agar tetap mendengar serta taat kepada sang penguasa dalam hal yang ma’ruf bukan maksiat, meskipun penguasa tersebut berbuat dzalim seperti merampas harta rakyat (korupsi) ataupun berbuat aniaya.

Seorang muslim yang telah mengikrarkan syahadat “Wa anna Muhammadan Rasulullah” tidak selayaknya untuk menyelisihi hadits/ajaran Nabi diatas ini, meski pahit rasanya tapi Insya Allah akibatnya akan baik, sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya : “…. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS.An-Nisa’ : 59)

Wahai Mujahidin yang ingin menegakkan kalimatullahi (agama Allah), dengarkan nasehat dari Rasulullah ini ! Pahamilah dengan baik sabda beliau ini ! Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu atau semangat yang membara untuk berjihad tapi buta dari petunjuk Al-Qur’an dan sunnah ! Wahai saudaraku Mujahidin, pejuang Islam, ingat dan ketahuilah bahwa niat dan tujuan yang baik haruslah dijalankan dengan cara yang baik pula yaitu mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan jalannya para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Artinya : “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang tidak sesuai dengan sunnahku maka amal tersebut tertolak”. (HR.Muslim)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ

Artinya : “Wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ Ar-rosyidin yang mendapatkan petunjuk dan gigit eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian”. (HSR.Abu Dawud)

Wahai Mujahidin, janganlah engkau memberontak kepada penguasa yang dzalim karena hal itu telah dilarang oleh Nabi kalian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari Ubadah bin Shomit Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :



“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyeru kami untuk membaiat beliau, diantara isi baiat tersebut adalah kami selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin kaum muslimin) baik kami dalam keadaan suka maupun benci, dalam keadaan susah maupun senang dan agar kami mendahulukan hak mereka serta tidak memberontak kepada mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti yang jelas dari Allah tentangnya”.[ HR.Muslim no.4748 dengan Syarah Imam Nawawi]



Perlu kalian ketahui bahwa masalah takfir/pengkafiran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Imam Al-Qurthubi Rahimahullahu mengatakan :

“Pemikiran takfir itu sangat berbahaya sekali, banyak manusia yang terjerumus kedalamnya hingga mereka jatuh berguguran. Adapun para ulama mereka berhati-hati sekali dalam masalah ini hingga mereka itu selamat, dan tidak ada yang sebanding dengan keselamatan dalam perkara ini”. [Al-Mufhim 3/111 oleh Imam Qurthubi]

Dan seandainya kita dapati seorang pemimpin mengucapkan suatu ucapan kufur atau melakukan perbuatan kufur, tidaklah boleh kita langsung menvonisnya kafir dan menyeru manusia untuk memberontak hingga terpenuhi syarat-syarat takfir dan hilang darinya pencegah-pencegah takfir. Lihat dan ambillah pelajaran dari sejarah ulama salaf seperti Imam Ahmad Rahimahullahu yang tidak mudah mengkafirkan maupun memberontak kepada penguasa dizamannya yang dengan jelas-jelas mengucapkan ucapan kufur bahkan memaksa para ulama untuk mengikuti kekufurannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu berkata :

“Yang benar dari Imam Ahmad dan para Imam Ahlus Sunnah yang lain adalah pengkafiran kelompok Jahmiyah* dan yang semisalnya…meskipun Imam Ahmad tidak mengkafirkan individu-individunya atau tidak pula mengkafirkan orang-orang yang divonis sebagai Jahmiyah atau beliau tidak mengkafirkan orang-orang yang menyepakati Jahmiyah dalam sebagian bid’ahnya, bahkan beliau sholat dibelakang orang-orang Jahmiyah yang menyeru manusia kepada ucapan mereka serta menguji dan menyiksa manusia yang tidak sesuai dengan aqidah mereka dengan penyiksaaan yang amat pedih. Imam Ahmad dan para Imam-imam (Ahlu Sunnah wal jama’ah) yang lain tidak mengkafirkan mereka bahkan meyakini akan keimanan dan kepemimpinan mereka serta mendoakan mereka dengan kebaikan. Beliau berpendapat bolehnya sholat dibelakang mereka, haji dan berperangbersama mereka.Dan beliau beserta para imam-imam amat melarang dari memberontak terhadap penguasa. Meskipun demikian beliau tetap mengingkari ucapan batil yang merupakan suatu kekufuran tersebut walaupun mereka sendiri terkadang tidak mengetahui akan kekufuran itu. Beliau senantiasa mengingkari dan berusaha untuk membantah ucapan tersebut sesuai dengan kemampuan. Maka dengan inilah beliau telah menyatukan antara ketataatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menegakkan sunnah serta agama ini dan pengingkaran terhadap bid’ahnya Jahmiyah dengan memperhatikan hak-hak kaum mukminin baik para penguasa maupun umat secara umum meskipun mereka itu jahil, pelaku bid’ah, dzolim dan fasik”. [Majmu' Fatawa 7/507-508 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]

Catatan : * Kelompok Jahmiyah dipelopori oleh Ja’ad bin Dirham yang dihukum (sembelih) oleh seorang gubernur yang bernama Kholid bin Abdillah Al-Qosri atas perintah Kholifah Hisyam bin Abdil Malik dengan persetujuan para ulama tabi’in pada zaman itu. Dan kesesatannya diwarisi serta disebarkan oleh Jahm bin Sofwan. Diantara kesesatannya adalah meniadakan semua nama dan sifat Allah, tidak mengakui bahwa Nabi Ibrahim adalah kholilullah (kekasih Allah) serta Musa kalimullah (pernah diajak bicara oleh Allah) dan lain-lain. (Lihat Maqoolathut ta’thil oleh Syaikh Kholifah At-Tamimi).

Wahai Mujahidin, janganlah kalian menuduh orang yang tidak mengkafirkan penguasa sebagai penjilat atau antek pemerintah ! Jangan kalian menganggap atau menyangka bahwa kalau orang tersebut tidak mengkafirkan penguasa berarti dia ridho dengan kedzaliman yang ada pada mereka !

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa “ (QS.Al-Hujurat : 12)

Bedakan antara mengkafirkan dan mengingkari kemungkaran! Orang yang tidak mengkafirkan pezina –misalnya-, apakah bisa dikatakan orang itu ridho dengan perbuatan maksiat tersebut ?! Ikutilah jejak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para salafush sholeh seperti Imam Ahmad Rahimahullahu diatas.

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

Artinya : ” Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. “ (QS.Al-An’am : 90)

Wahai Mujahidin, janganlah tergesa-gesa meneriakkan suara (Shoutu) jihad sebelum kalian memahami dengan benar sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam khususnya yang berkaitan dengan penguasa. Tergesa-gesa bukan perangai yang baik bahkan akan mengakibatkan madharat yang banyak sekali bagi Islam dan kaum muslimin. Para ulama ushul (fiqih) mengatakan :

من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه

Barangsiapa yang tergesa-gesa (untuk meraih) sesuatu sebelum waktunya maka dia akan dicegah darinya [Al-Qowaaid Al-Fiqhiyah hal.68 oleh Syaikh Abdurrohman As-Sa'di]


Selengkapnya...

WAHAI MUJAHIDDIN (2)

di Post : Abu Usamah Sufyan Al Atsari AL bykazi
Wahai Mujahidin, ingatlah tatkala seorang sahabat yang bernama Khobab bin Arot berkata : Kami pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Wahai Rasulullah, mengapa anda tidak meminta pertolongan (kepada Allah) untuk kami ?
Mengapa anda tidak berdoa kepada Allah untuk kami ?” Maka beliaupun menjawab : “Sesungguhnya ada diantara orang-orang sebelum kalian yang digergaji mulai kepalanya hingga kakinya, tapi hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Dan ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga mengenai tulang dan dagingnya, tapi hal itu tidak memalingkannya dari agamanya”. Kemudian beliau mengatakan : “Demi Allah, sungguh Dia akan menyempurnakan agama-Nya ini hingga seorang yang berjalan dari Shon’a (Ibukota Yaman) hingga Hadramaut tidak takut kecuali hanya kepada Allah dan tidak takut srigala yang memangsa kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa“. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/328 tentang tafsir ayat 214 surat Al-Baqarah]

Ingatlah wahai Mujahidin, kemenangan dan kemuliaan Islam ada ditangan Allah. Dan Allah telah menjanjikannya kepada kaum muslimin dan kepada para Mujahidin, tapi dengan syarat mereka mau kembali kepada agama Islam yang murni dan kepada tauhid yang bersih dari segala bentuk kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : “ Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (QS.Ali Imron : 26) dan Dia juga berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS.An-Nuur : 55)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لاينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم

Artinya : “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah (sejenis riba) dan kalian mengambil ekor-ekor sapi serta rela dengan persawahan (cinta dunia) dan kalianpun meninggalkan jihad maka pasti Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. [ HR.Abu Daud no.3462]

Di dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan jalan keluar dari kehinaan yang menimpa umat Islam yaitu dengan cara kembali mempelajari Islam yang murni berdasarkan kepada Al-Qur’an, hadits serta atsar dari para sahabat dan mengamalkan Islam yang murni tersebut. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memerintahkan umat untuk berjihad saja, tapi lebih dari itu “…hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian” terutama dalam masalah aqidah. Bagaimana kalian menyeru umat Islam untuk berjihad melawan orang-orang kafir sekarang, sedang kalian mengetahui sendiri keadaan kaum muslimin dengan setumpuk kesyirikan, kebid’ahan, kemaksiatan dan lain sebagainya dari penyimpangan-penyimpangan ?! Bagaimana mungkin Allah akan menurunkan pertolongan-Nya, sedangkan kaum muslimin belum menolong (menjalankan agama) Allah ?! Allah telah berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS.Muhammad : 7)

Wahai Mujahidin, ambillah pelajaran dari kisah perang Uhud ! Satu kemaksiatan saja dapat memporak-porandakan pasukan kaum muslimin, lalu bagaimana jika kemaksiatan tersebut telah mengakar dalam diri kaum muslimin dan menumpuk dimana-mana ?! Allah mengisahkan tentang sebab kekalahan diperang Uhud dalam firman-Nya :

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.Ali Imron : 165)

Catatan hitam untuk Buletin Shoutul Jihad edisi 25

1- Shoutul Jihad menukilkan ucapan Yunus bin Ubeid Rahimahullahu salah seorang ulama salaf yang mengatakan : “Bila ada pemerintah yang menyimpang dari As-Sunnah, dan masyarakat berkata : “Sungguh kita telah diperintahkan untuk taat kepadanya (pemerintah kita) maka Allah akan menanamkan keraguan dihatinya dan akan ditimpa (diwariskan) kepadanya sifat saling mencela”.

Kita sangat amat menghormati ulama salaf dan ucapan mereka kita jadikan hujjah selama tidak bertentangan dengan nash Al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun sayang Shoutul Jihad tidak menjelaskan dari mana mereka menukil atsar ini. Imam Malik Rahimahullahu mengatakan :
ليس أحد بعد النبي إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي



“Setiap ucapan manusia bisa diterima dan bisa juga ditolak melainkan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”. [Lihat Sifat Sholat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hal.24 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani]

Wahai Mujahidin, bukankah ucapan Yunus bin Ubeid bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diatas ?! Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tetap memerintahkan untuk taat kepada pemerintah kaum muslimin meski mereka menyimpang dari sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ?! Manakah yang kalian pilih ucapan Yunus bin Ubeid ataukah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ?! Allah ta’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Hujurat : 1)



Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata : “Aku melihat mereka akan binasa, aku mengatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (membolehkan haji tamattu’) sedang mereka (membantahnya) dengan mengatakan Abu Bakar dan Umar (melarangnya)”. [Lihat Sunan Ad-Darimi 1/129]



Jika sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak boleh dibantah dengan ucapan orang termulia dikalangan para sahabat, maka bagaimana dengan ucapan orang yang lebih dibawah mereka derajat dan keutamaannya ?! Renungkanlah hal ini baik-baik wahai Mujahidin sebelum kalian meneriakkan jihad !!! Sungguh bagaimana bila seorang salafusshaleh seperti Abdullah bin Abbas hidup pada zaman sekarang dan melihat tingkah laku shoutul jihad ?!

2- Shoutul Jihad mengkritik Buletin Al-Hujjah (terbitan Mataram-Lombok Barat) dengan mengatakan : “Di Indonesia para pencatut nama salaf ini dilanda penyakit mencela. Sebagai contoh dalam bulletin Al-Hujjah terbitan ’salafy’ Mataram risalah yang ke 13….Penyakit suka mencela telah nampak dalam tulisan ini dalam kalimat doyan. Kata ini merupakan celaan yang sangat tidak sopan baik menurut ukuran umat Islam atau yang bukan…”

Ya meskipun saatnya Mujahidin berbicara [Buletin Shoutul Jihad mempunyai slogan "Saatnya Mujahidin berbicara".] tapi ya bercermin dulu dong kalau mau berbicara ! Lihat apakah ucapan kalian ini memang bisa dipertanggung jawabkan di hadapan Allah nanti atau tidak ! Apakah setiap ucapan kalian berdasarkan dalil atau hanya berdasarkan semangat yang membabi buta tanpa petunjuk rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ?! Kalimat “doyan” kalian anggap sebagai bentuk celaan, padahal dalam buletin kalian banyak kalimat-kalimat yang lebih parah lagi semisal : Penyakit para pengaku salaf ’salafy’ (Tanda Kutip), menjilat pemerintah, sok salaf, para pengaku salaf (sok salaf) ini sikapnya sama dengan Khawarij…Murjiah….Syiah Rafidhah…Sufi…anjing penjilat dan lain-lain. Apakah kalimat-kalimat tersebut udah sopan menurut kalian ?! Inikah sikap seorang Mujahidin ?! Orang lain diharamkan mencela tapi kalian justru pandai dan ahli mencela. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ(*)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS.Shaaf : 2-3) Seorang penyair mengatakan :

أحلال على البلابل الدوح حرام على الطير من كل جنس ؟!

Apakah pohon itu dibolehkan bagi burung Bulbul saja

dan diharamkan bagi semua jenis burung ?!

3- Shoutul Jihad mengatakan “Al-Madkhaly dengan pikirannya telah banyak melahirkan takfiriyyiin sesama para dai (baca tulisan terbuka Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi hafidzahullaah kepada Robi’ al-Madkhaly).

Wahai Mujahidin, kalau ucapan atau tuduhan kalian ini benar, tolong buktikan kepada para pembaca bahwa Al-Madkholi melahirkan takfiriyyiin ?! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya : “Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar“.” (QS.Al-Baqarah : 111)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

البينة على المدعي

Artinya : “Wajib bagi para penuduh untuk mendatangkan bukti…” [HR.Baihaqi]

Shoutul jihad mencela Syaikh Robi’ Al-Madhkholi –hafidzahullahu- dan menuduh beliau melahirkan takfiriyyin dengan tidak membawakan bukti atau tidak ada bukti yang jelas dalam hal ini. Tapi yang aneh justru shoutul jihad memuji Abu Muhammad Al-Maqdisi yang merupakan dedengkot takfir/pengkafiran pada zaman ini. Inikah yang dikatakan : Gajah di pelupuk mata tidak tampak namun debu diseberang lautan tampak.

Abu Muhammad ini telah mengkafirkan negara Saudi Arabiah tempat dua masjidil Haram dan sekaligus kiblat kaum muslimin dalam bukunya yang berjudul “Al-Kawaasyif Al-Jaliyah fi kufri Ad-Daulah As-Su’udiyah” (Menyingkap kekufuran Negara Saudi Arabiah). Dari judulnya saja sudah cukup untuk mengetahui isinya. Kalau Saudi Arabiah sudah dikafirkan, apalagi yang tersisa ?! Ataukah kalian sudah punya negara Islam ?! Takutlah kepada Allah wahai Mujahidin !!!

4- Shoutul jihad mengambil ucapan Abu Muhammad yang menyamakan Dakwah Salafiyah dengan Khawarij, Murjiah, Syiah Rafidhah, dan Sufi. Abu Muhammad mengatakan : “Para pengaku salaf (sok salaf) ini sikapnya sama dengan Khawarij ketika mendudukkan permasalahan sesama para dai, terbukti sikapnya terhadap Sayyid Qutub rahimahullahu.”

Entah Abu Muhammad atau shoutul jihad yang tidak mengerti siapa Khawarij itu ?! Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :



“Kelompok Khowarij adalah orang pertama yang mengkafirkan kaum muslimin dan mengatakan kafir bagi setiap pelaku dosa. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka serta menghalalkan darah serta hartanya”. [Majmu fatawa 7/279.]



Silahkan pembaca yang menghukumi siapa yang Khawarij, Abu Muhammad Al-Maqdisi yang mengkafirkan Negara Saudi Arabiah ataukah Shoutul jihad pembeo Abu Muhammad ???

Apakah orang (Dakwah Salafiyah) yang membela para Nabi dan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari celaan dan caci maki Sayyid Qutub dikatakan Khawarij ?! Tidakkah para pengagum Sayyid Qutub tahu bahwa sang pujaan mereka telah berani-beraninya mencaci maki sebagian Nabi dan para sahabat ?! Sayyid Qutub mengatakan :



“Kita ambil Musa sebagai contoh pemimpin yang cepat naik pitam…” [At-tashwir al-fanni fil Qur'an" hal 200 oleh Sayyid Qutub]



Sayyid Qutub juga mengatakan :

“Ketika Mu’awiyah dan temannya memilih jalan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan, suap dan membeli kehormatan, maka Ali tidak dapat melakukan perangai yang buruk ini. Oleh karenanya, tidak heran kalau Mu’awiyah dan teman-temannya berhasil sedang Ali gagal, tapi kegagalan ini lebih mulia dari semua kesuksesan” . [Kutubun wa syakhshiyaat hal.242 oleh Sayyid Qutub]

- Abu Muhammad mengatakan :

“Para pengaku salaf (sok salaf) sikapnya sama dengan Murjiah ketika berhadapan dengan penguasa terbukti dalam menghadapi penguasa yang ada”.

Wahai Mujahidin, jangan gegabah dalam menvonis sebelum engkau tahu apa dan siapa Murjiah itu !!! Dakwah Salafiyah ketika menghadapi penguasa selalu bernaung dibawah cahaya Al-Qur’an dan hadits Nabi serta metode para ulama salaf. Dakwah Salafiyah tidak mudah mengkafirkan para penguasa karena mengikuti ajaran Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (seperti hadits diatas) dan juga mengikuti sikap para ulama salaf seperti Imam Ahmad rahimahullahu. Apakah Imam Ahmad Rahimahullahu yang tidak mengkafirkan penguasa dizaman beliau dan tidak mau memberontak, meskipun sang penguasa amat dzalim bahkan memiliki keyakinan yang kufur dikatakan Murjiah ?!

- Abu Muhammad mengatakan :

“Para pengaku salaf (sok salaf) sikapnya sama dengan Syiah Rafidhah terbukti dalam mengamalkan ibadah jihad mereka berdalih menunggu bimbingan ulama yang besar (baca buletin Al-Hujjah, risalah ke 13) sedang Syiah Rafidhah menunggu ulama yang ma’shum alias Imam Mahdi“.

Mungkin para pembaca tidak habis pikir, bagaimana Dakwah Salafiyah bisa disamakan dengan Syiah Rafidhah ?! Ya kita maklumi saja lah, mungkin Abu Muhammad dan Shoutul jihad tidak paham atau tidak tahu tentang siapa Syiah atau siapa Salafy.

Sesungguhnya menunggu bimbingan ulama kibar (besar) dalam masalah jihad atau masalah besar lainnya yang berkaitan dengan umat merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini berlainan dengan orang-orang munafik atau orang-orang yang ngelama’ (sok jadi ulama) yang tidak mau mengembalikan urusan umat kepada para ulama’nya. Allah ta’ala berfirman :

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya : ” Dan apabila datang kepada mereka (orang-orang munafik) suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS.An-nisa’ : 83) yang dimaksud dengan ulil amri adalah para ahli ilmu (ulama) dan ahli fiqh (fuqoha’). [Lihat tafsir Imam Al-Qurthubi 5/278]

- Abu Muhammad mengatakan :

“Para pengaku salaf (sok salaf) sikapnya sama dengan sufi dalam manhajnya tashfiyah wat tarbiyah“.

Sungguh malang nasib Abu Muhammad yang tidak tahu arti tashfiyah dan tarbiyah. Tashfiyah adalah memurnikan Islam dari segala virus dan kotoran yang menempel kepadanya seperti memurnikan Islam dari aqidah sesat, hadits lemah atau palsu ataupun dari virus takfir yang dilakukan oleh takfiriyyun semisal Abu Muhammad. Apakah sufi mengenal istilah pemurnian Islam dari hadits lemah atau palsu ?! Sadarlah wahai Mujahidin, boleh kalian berbicara tapi jangan ngelantur !!! Adapun tarbiyah artinya mendidik umat diatas Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shaleh. Apakah sufi juga mengamalkan seperti ini ?! Bukankah Sufi itu lebih identik dengan khurafat dan bid’ahnya ?! Wahai Mujahidin, janganlah kalian menyamakan antara Dakwah Salafiyah yang selalu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shaleh dengan ahli bid’ah diatas !

Allah ta’ala berfirman :

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَلَا الْمُسِيءُ قَلِيلًا مَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya : “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS.Ghafir : 58)

5- Shoutul jihad hanya bisa lempar batu sembunyi tangan, tidak berani menunjukkan batang hidung ataupun identitasnya. Sebuah buletin misterius, yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keilmiahannya. Kalau kalian takut, jangan teriakkan suara (shoutul) jihad dong !!! Mujahidin apaan tuh !!! Kelas teri atau keras gadungan ?! Apakah ini yang disebut tong kosong nyaring bunyinya ?! Menyeru orang berjihad tapi tidak berangkat jihad, bahkan menulis majalah saja takut menulis jati dirinya. Inna lillahi wa inna ilahi Roji’un.

Para pembaca yang budiman, ulama hadits terdahulu tidak mau menerima hadits/ilmu agama dari orang yang misterius seperti buletin shoutul jihad ini dan hal itu dikenal dengan istilah mubham. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolaani Rahimahullahu berkata : “Dan tidak diterima (hadits) dari orang yang mubham (misterius)…” [Lihat An-Nukat 'ala nuzhatin nazhor oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi hal.135]

Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata : “Adapun mubham yang tidak bernama (mr x) atau ada namanya tapi tidak diketahui jati dirinya (misterius), maka orang seperti ini tidak diambil riwayat haditsnya (ilmunya) oleh seorangpun (dari para ulama) yang kita ketahui”. [Al-Ba'itsul hatsits hal.69 oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir]

Selamat jalan wahai Mujahidin, semoga Allah selalu memberimu hidayah dan taufiq serta menyelamatkan kalian dari jaring-jaring Khawarij. Dan semoga bendera Jihad selalu berkibar dibawah naungan para ulama Robbaniyyin Ahlus sunnah wal jama’ah.

Ya Allah tunjukkanlah yang haq itu haq dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah yang batil itu batil serta berikan kami kekuatan untuk menjauhinya.



=== Majalah adz-Dzakhirah===


Selengkapnya...

PAMBANTAIAN GAZA

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ar-Râjihî
diPost : Abu Usamah Sufyan Al atsari Al Bykazi

Segala sanjungan hanyalah milik Alloh semata. Sholawat dan Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabat beliau serta siapa saja yang loyal kepada beliau. Amma Ba’du :Telah kita ketahui bersama, bahwa apa yang menimpa saudara kita di Jalur Gaza berupa blokade ekonomi yang berlangsung semenjak dua tahun yang lalu[1], dan selama dua hari ini tersingkaplah awan kelam tipu daya dan kejahatan pun menjadi semakin jelas, yang mana hal ini disebabkan negeri Yahudi telah melaksanakan kesepakatan dan berkomplot dengan negara-negara kafir dan agen-agen mereka di wilayah/distrik (di Palestina) untuk melakukan pembantaian yang telah menghancurkan saudara-saudara kita yang teraniaya lagi lemah di jalur Gaza.

Lantas, apakah setelah ini masih mungkin kita mau menyerukan normalisasi keadaan dan tempat yang aman dari para pencaplok (Yahudi) yang melampaui batas ini? Hal ini sungguh merupakan musibah yang besar, tidak boleh kaum muslimin berdiam diri dan menelantarkan saudara-saudaranya (di Palestina) begitu saja. Karena sesungguhnya, kaum muslimin itu bagaikan tubuh yang satu, seorang muslim wajib bergembira dengan kegembiraan saudaranya dan bersedih dengan kesedihan saudaranya. Wajib bagi seorang muslim untuk menolong saudaranya seislam dan menunjukkan solidaritasnya di kala sengsara.

Berkenaan dengan musibah ini, kami mengarahkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza, untuk mempersenjatai dirinya dengan kesabaran dan ketakwaan, karena sesungguhnya Alloh itu

مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS an-Nahl : 128)

Barangsiapa yang Alloh besertanya, maka tidak ada tipu daya musuh yang dapat mendatangkan kemudharatan kepadanya sedikitpun. Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS Ali ‘Imrân : 120)

Dan diantara buah dari kesabaran dan ketakwaan adalah sikap tawakkal kepada Alloh yang sebenarnya, menyerahkan segala urusan hanya kepada Alloh, memohon pertolongan kepada-Nya, dan berdoa dengan menyandarkan diri hanya kepada-Nya, semua ini sebagai bentuk realisasi perintah Alloh yang berfirman :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan” (QS Ghâfir : 40)

Dan juga ini merupakan bentuk peneladanan terhadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, dimana mereka mengatakan sebagaimana yang dikatakan Nabi :

اللهم منزل الكتاب ومجري السحاب وهازم الأحزاب اهزمهم وانصرنا عليهم

“Ya Alloh yang menurunkan al-Kitab, yang menggerakkan awan dan yang mengalahkan pasukan (musuh), kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami atas mereka.”

Kami juga memberikan arahan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin pada umumnya, untuk mengingat hak-hak persaudaraan Islam. Alloh Ta’ala berfirman :

إنما المؤمنون إخوة

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara” (QS al-Hujurât : 10)

Nabi ‘Alayhi ash-Sholâtu was Salâm bersabda :

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

“Perumpaan orang-orang beriman di dalam kasih sayang, kecintaan dan kelemahlembutan bagaikan tubuh yang satu. Jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh kesakitan maka akan menyebabkan seluruh tubuh menjadi demam dan terjaga.”

Di antara hak mereka pula yang wajib kita tunaikan adalah, menolong mereka dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menghilangkan kezhaliman yang menimpa mereka dengan berbagai cara yang dimungkinkan. Diantara cara terbesar dalam hal ini adalah dengan menghadap Alloh Ta’ala dengan do’a.

Diantara bentuk pertolongan terhadap mereka pula adalah memberikan bantuan materi dan maknawi kepada mereka, semuanya menurut kesanggupannya. Kepada para penguasa, wajib bagi mereka memberikan pertolongan dengan kemampuan yang lebih besar. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

انصر أخاك ظالماً أو مظلوماً

“Tolonglah saudaramu yang melakukan penganiayaan dan yang dianiaya.”

Wajib atas kaum muslimin, baik penguasa maupun rakyatnya, supaya berhati-hati dari menelantarkan saudara-saudara mereka yang lemah lagi teraniaya. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

ما من امرئ يخذل امرءاً مسلماً في موطن ينتقص فيه من عرضه وينتهك فيه من حرمته إلا خذله الله تعالى في موطن يحب فيه نصرته

“Tidaklah seorang muslim itu menelantarkan muslim lainnya di tempat yang di dalamnya kemuliaannya direndahkan dan kehormatannya dilecehkan, melainkan Alloh Ta’ala akan menelantarkannya di tempat yang ia senang ditolong di dalamnya.” Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud.

Menolong itu tidak cukup dengan hanya sekedar ikut merasakan sedih dan pengingkaran belaka. Namun haruslah disertai dengan perbuatan nyata di dalam memberikan pertolongan. Diantaranya bentuknya adalah, penguasa Mesir hendaknya membuka persimpangan Refah[2] untuk selama-lamanya. Jika mereka menutupnya di saat sulit seperti ini, maka ini dianggap sebagai bentuk penelantaran dan akan mewujudkan tujuan musuh.

Kami memohon kepada Alloh untuk mengangkat kesulitan dan bencana ini dari penduduk Gaza dan dari setiap kaum yang teraniaya, dan menurunkan siksa-Nya kepada kaum yang berlaku jahat. Kami juga memohon kepada Alloh untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin, karena sesungguhnya Alloh itu adalah penolong dan mampu untuk berbuat demikian. Semoga Sholawat, salam dan keberkahan senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat beliau. (Abu Salma)

Sumber : http://shrajhi.com/?Cat=3&SID=9861

[1] IHRC (Islamic Human Rights Comission) atau Komisi Islam Hak Asasi Manusia, melaporkan bahwa aksi pemblokadean terhadap penduduk Gaza menyebabkan terbentuknya kamp-kamp konsentrasi terbesar di dunia. Sungguh suatu hal tak terperikan bagaimana penduduk Gaza mengalami kelaparan dan kedinginan akibat dari blokade ini. Yahudi keparat telah menutup jalur bantuan makanan, obat-obatan dan lainnya selama rentang waktu dua tahun ini dan telah melanggar konsensus Jenewa. Yahudi telah melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan terbesar terhadap warga Palestina. (http://www.ihrc.org.uk/show.php?id=3813). Pent.

[2] Persimpangan Refah atau Refah Crossing, adalah sebuah jalur persimpangan yang bersambung dengan Gaza dan berbatasan dengan Mesir yang berada di luar wilayah kendali Yahudi. Dengan dibukanya persimpangan ini, bantuan kemanusiaan dapat masuk dan para pengungsi juga dapat menyelamatkan diri dari kebiadaban bangsa Yahudi. Namun sayangnya, pemerintah Mesir menutup jalur ini. Penguasa kaum muslimin, terutama pemerintah Mesir harus membuka jalur ini dengan segera dan tanpa syarat, sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama muslim. Pent.




Selengkapnya...

PERISTIWA GAZA

Syaikh ‘Abdul Karîm al-Khudair
di Post : Abu Usamah Sufyan Al Atsari Al bykazi

Seorang penanya meminta jawaban Anda terhadap saudara-saudara kita di Palestina, tentang apa kewajiban penguasa dan kaum muslimin terhadap peristiwa yang menimpa mereka? Penanya juga meminta nasehat dan arahan anda teradap ummat Islam. Wallôhul Musta’ân.Demi Allôh wahai saudara-saudaraku, kita tidak memiliki sesuatupun (yang lebih besar) melainkan mendoakan mereka, jadi qunut disyariatkan pada saat ini. Apabila qunut tidak disyariatkan pada situasi seperti hari ini, maka tidak ada situasi lain sama sekali (untuk melaksanakan qunut). Apa yang terjadi pada saat ini, tidak jauh berbeda dengan keadaan ketika tujuh puluh orang pembaca al-Qur`an dibunuh, sehingga Nabi ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm melakukan qunut selama sebulan dan mendoakan keburukan bagi kaum yang membunuh mereka. Kejadian yang terjadi saat ini serupa dengan yang terjadi di zaman Nabi ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm pada saat itu, maka wajib atas kita melakukan doa.

Adapun yang berkaitan dengan penguasa dan kewajiban mereka, pada hakikatnya masalah ini merupakan tanggung jawab khusus mereka. Memang, kekurangan ada di sana sini, kekurangan ada pada hampir semua aspek dan elemen, kaum muslimin secara umum memiliki kekurangan, para ulama kaum muslimin juga memiliki kekurangan, dan para penguasa kaum muslimain juga memiliki kekurangan. Akan tetapi, sesuatu yang manusia tidak sanggup melakukannya, ia tidak dibebani untuk mengerjakannya.

Karena itulah wajib bagi setiap orang untuk melihat kapasitas dirinya sendiri. Orang yang mampu untuk menolong selainnya maka hal ini wajib atasnya, sebagai bagian dari amar ma’ruf dan nahi mungkar serta dakwah diatas petunjuk, dan ini semua sebatas kemampuannya. Adapun sesuatu yang tidak mampu dilakukannya, maka Alloh tidak membebani seseorang kecuali sebatas yang disanggupinya. Yang wajib bagi kita semua adalah menyibukkan diri dengan berdoa

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan” (QS Ghâfir : 60)

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan” (QS an-Naml : 62)

Berdoa secara diam-diam, tidak diragukan memang lebih dekat kepada keikhlasan daripada berdoa secara umum. Akan tetapi, qunut di tengah musibah yang tengah melanda ini termasuk sunnah, menghidupkannya adalah bagian dari syariat, demikian juga dengan berpegang kepada nash-nash shahih tentang do’a-do’a yang disebutkan dan digunakan Nabi ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm di situasi seperti ini.

Telah tsabat (tetap) hadits-hadits yang shahih (valid) yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mendoakan keburukan dan laknat bagi kaum yang telah menindas para wali Alloh :

اللهم قاتل الكفرة أهل الكتاب الذين يصدون عن دينك ويعادون أولياءك

“Ya Alloh, binasakanlah kaum kafir ahli kitab, yang menghalang-halangi dari agama-Mu dan memusuhi wali-wali-Mu”

Beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam juga mendoakan kaum muslimin yang teraniaya :

اللهم انج فلاناً وفلاناً وفلاناً

“Ya Alloh, selamatkanlah Fulan, Fulan dan Fulan.” Baik secara umum maupun khusus.

Pada intinya, kaum muslimin secara umum tidak memiliki kapasitas melainkan dengan berdoa (qunut), sedangkan perintah (untuk melakukan qunut) berada di tangan pemerintah. Memang, pemerintah memiliki kebijakan dan tindakan tersendiri. Namun yang perlu dicatat, mereka juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sangat besar di hadapan Alloh Jalla wa ‘Alâ kelak. Dan hanya Alloh-lah penolong kita.

Sumber : http://www.khudheir.com/ref/4024




Selengkapnya...

YAHUDI LAKNATULLOH

Syaikh Muhammad al-Hamûd an-Najdî
di Post : Sufyan Al Bykazi

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ

“Dan janganlah kamu menyangka bahwa Allôh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim.” (QS Ibrâhîm : 42)


Pada hari Sabtu (beberapa minggu) yang lalu, kaum Yahudi melakukan penyerangan besar-besaran terhadap penduduk Gaza yang terkepung, sehingga menyebabkan jatuh korban meninggal dunia mencapai tiga ratus orang (sampai hari ini, Ahad 11 Januari, tidak kurang dari 800 kaum muslimin Gaza telah gugur, pent.) dan sekitar 900 orang terluka (sampai hari ini lebih dari 3000 orang terluka, pent.). Wa lâ Haula wa lâ Quwwata illâ billâhi (tidak ada daya upaya dan kekuatan melainkan hanya dari Allôh).

Hal ini bukanlah suatu hal yang aneh dan baru bagi mereka! Permusuhan mereka terhadap umat ini dan umat lainnya, serta pengkhianatan dan pelanggaran mereka terhadap janji, telah terulang kembali sepanjang sejarah untuk kesekian kalinya. Mereka adalah pembunuh para nabi dan pengikutnya, mengkufuri apa yang diturunkan Allôh Subhânahu, merubah kitab-kitab suci Allôh Ta’âlâ seperti Taurôt dan Injîl. Mereka dan bapak moyang mereka, rupa mereka diubah seperti kera dan babi, tatkala mereka melakukan pelangaran di hari Sabtu, sebagaimana yang diceritakan Allôh Ta’âlâ di dalam Kitab-Nya. Firman-Nya :

ولقد علمتم الذين اعتدوا منكم في السبت فقلنا لهم كونوا قردة خاسئين فجعلناها نكالا لما بين يديها وما خلفها وموعظة للمتقين

“Dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. Maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang Kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Baqoroh : 65-66)

Allôh menyebutkan kisah mereka lebih panjang lebar di dalam surat al-A’râf, firman-Nya :

واسألهم عن القرية التي كانت حاضرة البحر إذ يعدون في السبت إذ تأتيهم حيتانهم يوم سبتهم شرعا ويوم لا يسبتون لا تأتيهم كذلك نبلوهم بما كانوا يفسقون

“Dan tanyakanlah kepada Banî Isrâ’îl tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS al-A’râf : 163).

Allôh Jalla Jalâluhu memerintahan Banî Isrâ’îl untuk mengagungkan dan memuliakan hari Sabtu serta melarang mereka untuk berlayar menangkap ikan. Namun mereka membangkang dan melanggar perintah-Nya serta bersikap lancang dan menentang. Mereka meninggalkan perintah Allôh dan mengesampingkannya, serta meneruskan kesesatan dan pelanggaran mereka.

Allôh Ta’âlâ berfirman :

فلما نسوا ما ذكروا به أنجينا الذين ينهون عن السوء

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat” (QS al-A’râf : 165)

Yaitu, orang-orang yang melarang mereka dari berlayar untuk mencari ikan dan membangkang pada hari Sabtu…

وأخذنا الذين ظلموا بعذاب بئيس بما كانوا يفسقون فلما عتوا عما نهوا عنه قلنا لهم كونوا قردة خاسئين

Dan kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS al-A’râf : 166)

Maka Allôh merubah keadaan mereka menjadi kera yang saling berkerumun, yang rendah lagi hina. Sampai-sampai ada kera dari bangsa mereka yang menghampiri kerabatnya dengan meratap dan menangis. Dan ada seorang manusia yang tidak diketahui siapa dia, mengatakan : “Bukankah telah kami peringatkan kamu dari kekuasaan Allôh, kami peringatkan kamu dari siksa-Nya, kami telah peringatkan dan peringatkan… sebagaimana yang disebutkan oleh ahli tafsir. (Lihat Tafsîr Ibnu Jarîr).

Orang Yahudi yang diubah rupanya menjadi kera, tidak hidup lebih dari tiga hari dan tidak bisa memiliki keturunan, sebagaimaa yang dijelaskan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam hadits Muslim. Inilah hukuman Allôh Ta’âlâ kepada mereka yang telah berlalu, dan sungguh hukuman ini tidaklah jauh bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya, ketentuan Alloh akan senantiasa terjadi pada makluk-Nya yang tidak akan berubah dan berganti.

ولا يحيق المكر السيء إلا بأهله فهل ينظرون إلا سنة الأولين فلن تجد لسنة الله تبديلا ولن تجد لسنة الله تحويلا

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allôh yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat perubahan bagi sunnah Allôh, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allôh itu.” (QS Fâthir : 43).

Sunnah Allôh Azza wa Jall ini akan senantiasa berlangsung baik kepada orang-orang terdahulu maupun belakangan, yang tidak akan berubah selamanya. Dan setiap orang yang meniti di atas jalan kezhaliman dan kerusakan, pembangkangan dan penentangan serta bersikap arogan terhadap hamba-hamba Allôh, niscaya ia akan mendapatkan murka Allôh dan sirnalah kenikmatan yang ada padanya. Tunggulah wahai Yahudi… apa yang akan dilakukan Allôh Azza wa Jalla… Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuat…!!!

وسيعلم الذين ظلموا أي منقلب ينقلبون

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”

Sumber : http://www.al-athary.net/index.php?option=com_content&task=view&id=927&Itemid=1


Selengkapnya...

BIADAB YAHUDI {1}

Syaikh Masyhûr Hasan Âlu Salmân

di Post Abu Usamah Sufyan Al Atsari Al Bykazi

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ؛ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اما بعد:

Sesungguhnya segala sanjungan hanyalah milik Alloh, yang kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya. Kita memohon perlindungan kepada Alloh dari keburukan jiwa dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang dileluasakan dalam kesesatan tiada yang mampu menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi melainkan hanya Alloh semata, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du :

Suatu hal yang tidak tersembunyi bagi setiap orang, tentang peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di bumi Palestina tercinta, kami memohon kepada Allôh Azza wa Jalla untuk mengembalikannya ke pangkuan Islam dan kaum muslimin dengan segera, dan menjaga penduduk Palestina secara umum dan penduduk Gaza secara khusus. Peristiwa yang terjadi di Gaza ini, mengharuskan kita untuk menetapkan beberapa hal. Namun karena waktu yang terbatas, tidak memungkinkan saya untuk berbicara secara terperinci, akan tetapi di kesempatan ini -insya Allôh- ada beberapa hal yang menyebabkan kami perlu untuk berusaha menggali hukum-hukum yang sepatutnya ditetapkan, khususnya berkenaan tentang bencana ini.
.




Patut diketahui, bahwa kewajiban seluruh kaum muslimin (di dalam menghadapi peristiwa ini) adalah mengerahkan segala daya upaya semampunya untuk menghentikan tertumpahnya darah (kaum muslimin) dan siapa saja yang meremehkan hal ini maka ia telah berdosa. Guru kami, al-Imâm al-Albânî rahimahullâhu di dalam komentarnya terhadap buku Syarh al-‘Aqîdah ath-Thohâwiyah yang beliau tulis lebih dari seperempat abad yang lalu, mengatakan bahwa seluruh kaum muslimin dalam keadaan berdosa disebabkan mereka meremehkan kejadian yang berlangsung di Palestina. Apabila dengan dirampasnya tanah Palestina oleh Yahudi –semoga Alloh melaknatnya dengan laknat yang berlipat- saja berdosa, lantas apa yang akan kita katakan pada hari ini tentang ditumpahkannya darah orang-orang tak berdosa oleh bangsa pembunuh para nabi ini di negeri Palestina?!

Maka wajib bagi para Shulahâ` (orang-orang yang ingin melakukan perbaikan) untuk berdoa dan bagi para ulama untuk memberikan penjelasan tentang hukum-hukum (yang berkaitan) secara tidak gegabah dan disertai dengan bukti dan dalil. Wajib bagi para penguasa dan orang-orang kaya untuk mengerahkan seluruh kemampuannya dengan segala bentuk cara yang mereka bisa, dalam rangka menghentikan aktivitas penumpahan darah ini. Dan wajib bagi seluruh kaum muslimin, selain dari kewajiban yang ada pada sekarang ini, sepatutnya untuk berupaya mencari tahu dan meletakkan jari di atas penyakit, akar dari penyakit yang menyebabkan musuh-musuh kita menjadi tamak terhadap kita, yaitu bahwa diri kita ini bagaikan ghutsâ` (buih). Dan sifat buih ini telah dijelaskan di dalam hadits Tsaubân yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan ath-Thabrânî serta selain keduanya dengan sanad yang shahih. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

يوشك أن تداعى عليكم الأمم

“Nyaris saja bangsa-bangsa selain kalian mengerumuni kalian”, dan di dalam riwayat lain ada tambahan :

الأمم من كل أفق كما تتداعى الأكلة على قصعتها

“bangsa-bangsa dari segala penjuru, seperti berkerumunnya mereka terhadap makanan yang berada di atas wadahnya.” Di dalam riwayat lain dikatakan, “sebagaimana mereka mengerumuni makanan di atas piringnya”

Ketika para sahabat mendengar hal ini dari Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, mereka berfikir, bagaimana bisa musuh dari segala penjuru mengerumuni kita sebagaimana mereka mengerumuni makanan di atas wadahnya. Mereka menduga hal ini disebabkan karena jumlah kaum muslimin yang sedikit. Lantas mereka bertanya meminta penjelasan kepada Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam :

أوً من قلة نحن يومئذ يا رسول الله

“Apakah jumlah kami sedikit pada saat itu wahai Rasulullâh?”

Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menjawab :

لا ،بل أنتم كثير

“Tidak, bahkan jumlah kalian banyak”. Di dalam riwayat yang shahih dikatakan :

بل انتم أكثر من عددهم

“Bahkan jumlah kalian lebih banyak dari jumlah mereka.” Jumlah kalian sekitar semilyar dua ratus juta orang. Yang mana sekiranya mereka (dalam jumlah besar ini) bersatu di atas tauhid dan setiap orang dari mereka meludahi orang yahudi, niscaya orang yahudi tidak bisa melakukan apa-apa. Akan tetapi kalian seperti buih yang diombang-ambingkan banjir, yang menyebabkan rasa gentar di musuh-musuh kalian tercabut, di dalam riwayat lain dikatakan, “Allôh akan mengangkat rasa gentar dari kalian”, di dalam riwayat lain, “dan Alloh campakkan ke dalam sanubari kalian, al-Wahn (kelemahan).” Para sahabat bertanya, “Apakah wahn itu wahai Rasulullâh?”. Rasulullâh menjawab :

حب الدنيا وكراهية الموت

“Cinta dunia dan takut mati.”

Apa yang dilakukan oleh bangsa pembunuh nabi ini terhadap penduduk Gaza bukanlah suatu hal yang mengherankan. Tindak tanduk Yahudi ini bertolak dari aqidah mereka. Menurut aqidah mereka, manusia (selain bangsa mereka) itu seperti keledai –semoga Alloh memuliakan kalian (wahai kaum muslimin)-, dan Allôh menciptakan seluruh manusia adalah untuk melayani dan memenuhi segala keperluan mereka. Jika perlu, mereka akan membunuh seluruh manusia dan tidak mengecualikan seorang pun kecuali dari mereka dengan pembantaian dan penghancuran.

Keyakinan mereka ini, menyatakan bahwa Allôh menciptakan manusia adalah untuk memenuhi segala keperluan mereka dan boleh bagi mereka membunuh seluruh manusia (selain mereka). Jadi, bukanlah suatu hal yang aneh jika orang semisal mereka melakukan hal seperti yang terjadi di Gaza. Namun, suatu hal yang ironi adalah orang yang mengimani Islam sebagai agamanya, Allôh sebagai Rabbnya dan Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam sebagai nabinya, mereka dalam keadaan yang, demi Allôh, saya katakan bukan hanya menangis meneteskan air mata, namun juga menangis meneteskan darah. Allôh Ta’âlâ berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang yang beriman itu saling bersaudara.” (QS al-Hujurât : 10)

Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Nu’mân bin Basyîr Radhiyallâhu ‘anhu, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الأعضاء بالسهر والحمى

“Perumpaan orang-orang beriman di dalam kasih sayang, kecintaan dan kelemahlembutan bagaikan tubuh yang satu. Jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh kesakitan maka akan menyebabkan seluruh tubuh menjadi terjaga dan demam.”

Beginilah seharusnya keadaan kaum muslimin! Namun musuh-musuh Islam selalu melakukan konspirasi terhadap kaum muslimin dan konspirasi mereka ini memiliki beberapa cara. Cara pertama mereka adalah menjauhkan bangsa non Arab dari permasalahan Palestina, dan cara berikutnya adalah membatasi permasalahan Palestina kepada suatu perhimpunan yang mereka sebut dengan “al-Mumatstsil asy-Syar’î al-Wahîd Li Filisthîn” (Dewan Perwakilan Tunggal bagi Palestina) sedangkan Palestina sendiri tidak menerima hak ini. Tidaklah mungkin bagi seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali Allôh saja, merasa enggan untuk turut memikirkan masalah Palestina.

Kecintaan kita kepada Palestina adalah dengan sebab aqidah. Rabb kita Jalla fî ‘Ulah mengikat negeri Palestina dengan aqidah kita di dalam sholat, karena Palestina adalah kiblat pertama kita. Rabb kita juga mengikatnya dengan ikatan yang kuat yang tidak terputuskan pada Mi’râj-nya Nabi, di saat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di-isra’-kan ke Baitul Maqdis dan di-mi’raj-kan dari Baitul Maqdis ke atas langit. Sekiranya Allôh Jalla fî ‘Ulah tidak menghendaki kita untuk memperhatikan ikatan ini, yang tidak boleh bagi seorangpun melepaskannya, niscaya dengan kekuasaan Allôh Jalla fî ‘Ulah pula, Ia akan me-mi’raj-kan Nabi-Nya Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam langsung dari Makkah Mukarromah.

Saya katakan, wajib bagi kaum muslimin untuk mendoakan saudara-saudara mereka, dan mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga persaudaraan mereka. Setiap orang berkewajiban sesuai dengan kemampuannya, dan amanah itu tidak hanya satu. Yang kami khawatirkan adalah, Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq untuk disembah kecuali Dia, ada seorang pria yang lemah, atau wanita, atau anak-anak, mengangkat kedua tangannya seraya berdoa : “Ya Allôh, hinakanlah mereka yang telah menghinakan kita.” Doa ini, (saya khawatirkan) menimpa seluruh kaum muslimin. Lâ haula wa lâ quwwata illa billâh.

Pertolongan itu ada harganya. Allôh Ta’âlâ berfirman :

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ

“Jika kalian menolong Allôh niscaya Ia akan menolong kalian” (QS Muhammad : 7)

Dan firman-Nya :

أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Sesungguhnya pertolongan Allôh itu dekat.” (QS al-Baqoroh : 214)

Akan tetapi kita… wajib atas kita untuk melangkah di atas jalan (kemenangan), dan merubah umat ini menjadi umat Muhammad yang sejati, bukan tetap menjadi umat Ghutsâ`iyah (buih). Umat Muhammad yang sejati… bukanlah umat yang ceroboh dan serampangan, bukan pula umat yang gemar bermaksiat. Namun, umat yang berilmu dan memiliki pemahaman, umat yang mengetahui kewajibannya, mengagungkan Rabbnya dan mengenal-Nya dengan sebenar-benarnya. Umat yang mengenal nabinya, dan mengetahui hak-hak Rabbnya dan nabinya yang harus dipenuhinya…

Apa makna “jika kalian menolong Alloh niscaya Ia akan menolong kalian”? Artinya adalah, jika kalian memenuhi segala hal yang Allôh Azza wa Jalla wajibkan atas kalian, niscaya Ia akan menolong kalian. Tidak hanya ini, namun Allôh juga akan memperkokoh kedudukan kalian. Peristiwa yang terjadi di Gaza, apabila kebahagiaan yang ada pada mereka tidaklah khusus hanya untuk mereka saja, demikian pula ujian yang menimpa mereka, tidaklah khusus hanya bagi penduduk Gaza, namun juga bagi seluruh kaum muslimin. Maka, pertolongan ini adalah pertolongan bagi seluruh kaum muslimin. Apabila mereka tidak mau memberikan pertolongan, oleh sebab seluruh umat yang ada yang belum mengetahui kewajibannya dan belum memenuhi hak Allôh Azza wa Jalla, maka mereka belum berhak untuk mendapatkan pertolongan.

‘Umar bin Khaththâb Radhiyallâhu ‘anhu dan Sholâhuddîn (al-Ayyûbî) Rahimahullâhu telah memulangkan kembali Palestina (dari tangan kaum kafir). Suatu ketika pasukan Sholâhuddîn mengalami kekalahan, beliau berdiri di dekat sebuah tenda yang pasukannya tidak mendirikan sholat malam, beliau menunjuk tenda tersebut dan berkata : “dari kemah inilah sebab kalian mendapatkan kekalahan.”

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Jika kalian menolong Allôh niscaya Ia akan menolong kalian dan meneguhkan posisi kalian” (QS Muhammad : 7)

Pertolongan itu memiliki pemahaman syar’i yang luas, dan kadang kala seseorang itu meninggal dunia belum mencapai apa yang diinginkannya. Akan tetapi, jika seseorang meniti jalan yang benar, mengetahui dan memenuhi hak Allôh Azza wa Jalla, maka buah yang akan ia capai adalah kemenangan. Jalan yang ia lalui, walaupun ia seorang diri dan dalam keadaan lemah, dan ia tetap senantiasa meniti jalan yang benar, niscaya ia mendapati kemenangan. Allôh berfirman kepada Nabi-Nya Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam yang ketika itu beliau sedang dalam perjalan ke Madinah :

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Nabi) maka sesungguhnya Allah Telah menolongnya” (QS at-Taubah : 40)

Seorang ulama mengatakan : “Muqoddimâtul Mar`i Nashrun” (usaha seseorang –yang sesuai syar’î itu- merupakan pertolongan). Syaikhul Islam wafat di dalam penjara (di Damaskus), beliau dipenjara disebabkan permasalahan tentang tholaq. Maka Allôh menolong beliau di dalam masalah yang musuh-musuh beliau menyelisihinya, namun betapa banyaknya pengadilan agama di dunia ini memutuskan dengan hukum beliau, padahal pendapat beliau ini menyelisihi madzhab-madzhab yang diikuti saat ini. Ini merupakan bentuk pertolongan dari Allôh yang dialami oleh orang-orang sesudahnya.

Yang penting adalah, Anda mengetahui apa kewajiban yang dibebankan kepada Anda dan menunaikan hak Allôh atas Anda. Apabila Anda belum mampu untuk menunaikan suatu hal, sekurang-kurangnya Anda dapat menunaikan hak ini dengan do’a. Seorang hamba, hendaklah beradab dengan Rabbnya, sebagaimana telah tetap di dalam hadits riwayat Ahmad dan selainnya, bahwa kaum muslimin ketika mengalami kekalahan di perang Uhud, sampai-sampai paman Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam beserta tujuh puluh orang dari kalangan Anshar dan Muhajirin gugur, bahkan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam sendiri turut terluka, gigi serinya patah dan kepala beliau terluka.

Maka para sahabat bertanya kepada kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam : “Bagaimana bisa kaum musyrikin melakukan hal ini kepada kita, padahal kita yang berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan.” Maka Allôh menurunkan firman-Nya :

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”.” (QS Âli ‘Imrân : 165)

Apabila kita ditanya, “apakah kaum muslimin kalah di saat perang Uhud?”, maka kita jawab, “Iya”. Namun apabila kita ditanya, “apakah Islam kalah di saat perang Uhud?, maka kita jawab, “Tidak! Islam itu ditolong oleh Allôh dan pertolongan Allôh itu dekat.” Kaum muslimin akan mengalami kekalahan tatkala mereka mengabaikan kewajiban yang Allôh wajibkan atas mereka. Pada tahun 1948 dan 1967, Islam ditolong oleh Allôh walaupun kaum muslimin kalah. Di Andalus, Islam ditolong walau kaum muslimin kalah, dan di Iraq, Islam ditolong walau kaum muslimin kalah. Karena termasuk rahmat Allôh kepada kita adalah, Allôh tidak akan pernah menolong kita kecuali jika kita kembali kepada-Nya. Kita ini adalah umat yang mulia, dan diantara kemuliaan kita terhadap Rabb kita adalah, bahwa Allôh tidak akan memberikan kemuliaan kepada kita kecuali apabila kita kembali dan rujuk kepada-Nya.

Maka yang wajib atas kita semua di dalam menghadapi bencana ini, wahai saudaraku sekalian yang aku cintai karena Allôh, supaya merenungkan keadaan kita ini dan mengetahui kewajiban yang ada di atas bahu kita ini. Untuk itulah saya mengatakan kembali, kewajiban kita di kondisi seperti ini adalah untuk menghentikan tertumpahnya darah sebisa mungkin, mengerahkan diri kita dan memperbanyak umat kita dengan jumlah yang hakiki, untuk menjadi umat Muhammad yang sejati dan hakiki, atau jika tidak umat ini akan tetap menjadi umat buih. Kita juga harus mengubah umat ini dari umat yang bodoh dan ceroboh, menjadi umat yang berilmu, beramal, jujur dan ikhlas. Umat yang mengetahui harga diri dan kedudukannya di antara umat. Apabila kita menunaikan kewajiban kita, niscaya Rabb kita akan menganugerahkan kepada kita kemenangan. Sebagaimana hadits mu’allaq di dalam Shahih Bukhari rahimahullâhu dari Abû ad-Dardâ` Radhiyallâhu ‘anhu :

نحن قوم نقاتل عدونا بأعمالنا

“Kami adalah kaum yang memerangi musuh kami dengan amal perbuatan kami.”

Apa yang sampai kepada Rabb kita akan turun kepada kita, maka peperangan kita terhadap musuh kita ada dengan amal perbuatan kita.

Abû Bakr ash-Shiddîq Radhiyallâhu ‘anhu berkata :

عمالكم (أي حكامكم) أعمالكم

“Pemimpin kalian itu adalah amal perbutan kalian”

Jadi, amal perbuatan kita itu berkonsekuensi terhadap situasi kita. Tidak mungkin sama sekali kita bisa melampaui sunnatullâh Azza wa Jalla. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam ketika di Mekah, beliau dan para sahabat beliau disiksa dan disiksa, lantas beliau berhijrah dan mengerahkan semua harta benda dan jiwa, maka Allôh berikan pertolongan kepada beliau dan orang-orang yang beserta beliau, dan Alloh menangkan mereka


Selengkapnya...

BIADAB YAHUDI {2}

di Post : Abu Usamah Sufyan Al Atsari Al Bykazi

Para ulama mengatakan, sebagaimana telah kita ketahui dari banyak pelajaran kita terutama pelajaran Ushul Fiqh, bahwa meninggalkan sesuatu itu merupakan perbuatan.

يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.” (QS al-Furqân : 30)



Meninggalkan al-Qur`an menyebabkan Alloh menjadikannya sebagai sebab ujian. Para ulama ahli fikih menetapkan hukum bahwa apabila ada seorang dokter yang melihat seorang terluka sampai darahnya berceceran dan tidak mau melakukan sesuatu yang ia mampu, maka ia berdosa. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أيما أهل عرصة باتوا وفيهم امرؤ جائع إلا بريئت منهم ذمة الله

“Penduduk daerah mana saja, manakala ada diantara mereka orang yang kelaparan, niscaya Allôh akan melepaskan pertanggungan-Nya.”

Ibnu Hajar berkata : “Apabila ada seorang fakir miskin meninggal dunia karena kelaparan di suatu wilayah, maka aku menghukumi untuk menghukum semua penduduk wilayah tersebut, disebabkan oleh meninggalnya seseorang karena kelaparan sedangkan dia ada diantara mereka.”

Kaum muslimin didera dengan segala bentuk bencana, maka wajib bagi kita untuk mengerahkan semua yang kita mampu, sekurang-kurangnya membantu dengan doa. Saya tutup pembicaraanku ini dengan ucapan, bahwa doa akan dapat berfaidah dengan beberapa syarat syar’i. Allôh Ta’âlâ berfirman :

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada doamu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh Telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)”.” (QS al-Furqan : 77)

Ingatlah ayat ini, dan ikatlah diri kalian dengan sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, yang dikeluarkan oleh Ahmad, Bazzâr dan selainnya, dari hadits Abu Bakr radhiyallâhu ‘anhu :

لتأمرنَّ بالمعروف ولتنهون عن المنكر او ليدعون خياركم فلا يستجاب لكم

“Tegakkanlah amar ma’ruf nahi munkar, atau jika tidak niscaya orang yang terbaik dari kalian ketika memanjatkan doa tidak dikabulkan oleh Allôh.”

Wahai kaum muslimin, kalian semua jika tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allôh akan memberikan hukuman kepada kalian, dan doa ulama kalian dan orang shalih diantara kalian juga tidak akan dikabulkan. Doa orang-orang terbaik diantara kalian, yaitu para ulama dan orang shalih, terikat dan mustajab apabila kalian –wahai seluruh kaum muslimin- melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap orang-orang yang berada di bawah kalian, baik isteri dan puteri kalian, murid di sekolah, pegawai atau pekerja di kantor, atau tetangga, rekan dan sahabat kalian. Amar ma’ruf dan nahi munkar kalian, dapat menyebabkan orang yang terbaik di tengah umat, apabila mereka berdoa niscaya Allôh mengabulkan doanya.

Seakan-akan ayat ini, menjelaskan bahwa kehidupan umat ini dan rahasia kekuatan dan kelanggenganya, adalah di dalam doa.

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ

“Katakanlah, Rabbku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada doamu.”

Yaitu, dengan kelanggengan kalian di dalam doa. Rahasia langgengnya umat ini adalah dengan doa, yang mana tidak akan diterima Allôh jikalau seluruh kaum muslimin tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Jadi, upaya pengamalan kita ini bukan hanya di tangan para senior dan ulama kita, pengamalan kita ini seharusnya juga dilakukan setiap orang dari kita dengan tetap menjaga hubungan dan ikatan kepada Allôh Azza wa Jalla.

Meninggalkan kaum muslimin di Gaza seperti ini adalah bentuk meninggalkan perbuatan. Dan bentuk perbuatan ini adalah ketika setiap orang mampu untuk melakukan sesuatu, namun tidak mau melakukannya. Tidak ada pengobatan bagi bencana ini melainkan dengan pengobatan syar’i yang pahit dan perlu waktu lama. Namun, keadaan umat ini tidak akan pernah baik melainkan dengan bersatu di atas tauhid. Hendaknya setiap orang yang mengucapkan Lâ Ilâha illallôh dan Muhammad Rasûlullâh itu turut merasakan persaudaraan dengan mereka, yang memiliki hak yang harus ditunaikan, dan mengerahkan harta dan jiwanya bagi saudara mereka.

Adapun umat ini yang terputus dari segala sarana penghubungnya dan tercecer ke segala penjuru, dan sungguh menyedihkan, saya tidak mengatakan bagi bangsa Arab atau kaum muslimin saja, namun saya katakan juga bagi seluruh orang yang memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah Palestina, keadaan mereka ini menjadi seperti kaum Yahudi yang disifati oleh Rabb kita dengan :

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

“Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak berakal.”

Apa yang ditunggu oleh orang-orang yang bertanggung jawab terhadap masalah Palestina secara khusus, sampai mereka mau menunaikan kewajibannya terhadap saudara-saudara mereka. Hal ini oleh sebab mereka adalah kaum yang tidak berakal, mereka tidak memiliki akal. Menunggu orang yang mau menolong mereka dan menggerakkan mereka bagaikan bidak catur, wa Lâ haula wa Lâ Quwwata billâh.

Saya memohon kepada Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ agar menjadikan kita orang yang menolong agama dan sunnah nabi-Nya Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.

Sumber : http://almenhaj.net/makal.php?linkid=2194




Selengkapnya...

BERAGAMNYA JAMA'AH

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

di Post: Abu Usamah Sufyan Al Atsari Al Bykazi



Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa tugas para ulama kaum muslimin sehubungan dengan banyaknya perhimpunan (organisasi) dan jama'ah di berbagai negara Islam dan lainnya dan sehubungan dengan seling berselisihnya jama'ah-jama'ah tersebut, di mana hampir setiap jama'ah menganggap sesat jama'ah lainnya.

Tidakkah Syaikh memandang perlunya turun tangan dalam masalah ini dengan menjelaskan segi kebenaran pada perselisihan-perselisihan tersebut karena dikhawatirkan timbulnya dampak-dampak dan akibat-akibat mengerikan bagi kaum muslimin di sana?

Jawaban
Sesungguhnya nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita, bahwa hanya satu jalan yang harus ditempuh oleh kaum muslimin, yaitu jalan Allah yang lurus dan manhaj agama-Nya yang lurus, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." [Al-An'am: 153]

Di samping itu, Allah pun telah melarang umat Muhammad berpecah belah dan berbeda prinsip, karena ini merupakan sebab utama kegagalan dan berkuasanya musuh, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah.

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." [Ali Imran : 103]

"Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada-Nya)." [Asy-Syura: 13]

Itulah seruan Ilahi untuk menyatukan persepsi dan memadukan hati.

Keberadaan sejumlah perhimpunan itu di negara Islam mana pun, selama itu untuk tujuan kebaikan, bantuan dan tolong menolong dalam kebaikan dan takwa antar kaum mukminin, tanpa dipengaruhi oleh kecenderungan para pengelolanya, maka itu baik dan berkah, manfaatnya pun banyak. Tapi jika masing-masing menganggap sesat yang lainnya dan mengoreksi kinerjanya, maka bahayanya besar dan akibatnya pun mengerikan. Dari itu, tugas para ulama kaum muslimin adalah menjelaskan hakikatnya, berdialog dengan setiap jama'ah atau perhimpunan dan menasehatkan kepada semuanya untuk berjalan di atas rel yang telah ditetapkan Allah bagi para hambaNya dan telah ditunjukkan oleh nabi kitab Muhammad . Bagi yang melanggar ini, atau tetap pada jalurnya sendiri untuk kepentingan pribadi atau demi mencapai maksud-maksud tertentu yang hanya diketahui Allah, maka harus dipublikasikan dan diperingatkan oleh yang mengetahui hakikatnya agar masyarakat menghindari jalan mereka, dan agar orang yang tidak mengetahui hakikatnya, tidak ikut bergabung dengan mereka sehingga ia disesatkan dan dipalingkan dari jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah diperintahkan Allah untuk diikuti, sebagaimana disebutkan dalam firmanNya.

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamubertakwa." [Al-An'am: 153]

Di antara yang tidak diragukan lagi, bahwa banyak kelompok dan jama'ah di tengah-tengah masyarakat Islam yang ditunggangi oleh setan dan musuh-musuh Islam. Karena sepakatnya prinsip kaum muslimin dan bersatunya mereka serta sadarnya mereka terhadap bahaya yang mengancam dan mengintai aqidah mereka, membuat mereka bersemangat untuk menghalaunya dan berjuang dalam satu barisan demi kemaslahatan kaum muslimin dan menghindarkan bahaya dari agama, negara dan saudara-saudara mereka. Cara ini memang tidak disukai oleh para musuh, baik dari kalangan jin maupun manusia. Karena itu, mereka berambisi untuk memecah belah prinsip kaum muslimin dan memorak porandakan kesatuan mereka serta menyebarkan benih-benih penyebab permusuhan di antara mereka.

Semoga Allah mempersatukan semua kaum muslimin dalam kebenaran dan menghilangkan setiap bencana dan kesesatan dari masyarakat muslim. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas itu.

[Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 5, hal. 202-203, Syaikh Ibnu baz]

MENGUKUHKAN GERAKAN ISLAM


Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagaimana Syaikh ketahui tentang fenomena menyebarkan gerakan Islam di kalangan kaum muslimin terutama barisan para pemudanya. Bagaimana pandangan Syaikh untuk mengukuhkan pergerakan ini dan kekhawatiran-kekhawatiran apa yang mungkin menimpa pergerakan ini?

Jawaban
Telah disebutkan pada jawaban pertanyaan-pertanyaan serupa, bahwa pergerakan Islam yang muncul di permulaan abad ini dan di akhir abad yang lalu, bahwa pergerakan ini memberikan kabar gembira dan alhamdulillah gerakannya telah meluas ke seluruh penjuru negeri dan terus bertambah dan berkembang.

Tugas kaum muslimin adalah menyokong dan mendukungnya serta saling bekerja sama dengan para aktifisnya. Tidak diragukan lagi bahwa para aktifisnya perlu didukung dan dibantu serta diingatkan dari sikap berlebihan dan kekurangan, karena pada setiap dakwah Islamiyah dan setiap kegiatan Islami, setan akan mengarahkan kepada salah satu sisi; kehampaan atau berlebihan.

Para ahli ilmu hendaknya rnendukung dakwah ini dan mengarahkan para aktifisnya untuk konsisten dan waspada agar tidak terjerumus ke dalam bid'ah dan berlebihan-lebihan, serta mewaspadai kekurangan agar tidak terjerumus ke dalam kehampaan dan mengesampingkan hak Allah. Kemudian dari itu, hendaknya dakwah dan pergerakan mereka bersifat Islami, konsisten pada agama Allah, teguh menempuh jalan yang lurus, yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula sangat kurang. Dengan begitu akan konsislah pergerakan ini dan melahirkan buahnya dengan baik.

Terutama kepada para pemimpinnya, hendaknya memperhatikan hal ini dan betul-betul memeliharanya agar tidak tergelincir pada sikap berlebihan atau sangat kurang. Wallahu waliyut taufiq.

[Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 5, hal. 158-159, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]


Selengkapnya...

FATWA MUHADDIST TENTANG IHYA TURATS

Pertanyaan :

Fadhîlatu asy-Syaikh, Assalâmu’alaykum Warohmatullâhi Wabarokâtuh

Alloh tahu bahwa saya benar-benar mencintai Anda. Akan tetapi, di sela-sela kunjunganku hari ini di situs Anda, ada sebuah rekaman yang berjudul “ad-Da’wah al-Islâmiyah Wâqi’ wa Thumûhât” (Dakwah Islam antara Realita dan Angan-Angan). Ketika mendengarkan awal kajian ini, saya dapati bahwa ceramah ini merupakan jawaban undangan dari Jum’iyah Ihyâ` at-Turôts, padahal sejauh pengetahuan saya, bahwa jum’iyah ini adalah jum’iyah hizbiyah (lembaga sektarianisme/partisan) yang menyokong kaum hizbiyyun (partisan). Saya mengharap syaikh yang mulia sudi menjelaskan hal yang telah membuatku menjadi bingung ini. Sebab, saya dengar bukan hanya seorang ulama salafiyin saja yang telah menvonis bid’ah jum’iyah ini, seperti : Syaikh Rabî’ al-Madkhalî, Syaikh Muqbil al-Wâdi’î, Syaikh ‘Ubaid al-Jâbirî dan Syaikh Falâh Ismâ’îl Mandakâr dan masih banyak lagi selain mereka.Pertanyaan :


Wassalâmu’alaikum.

Jawaban :

Perkara ini adalah masalah ijtihâdîyah yang diperselisihkan para ulama. Masyaikh kibâr (senior) seperti Samâhatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz, Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd, Syaikh Shâlih al-Fauzân dan selain mereka, masih menganggap jum’iyah ini sebagai jum’iyah salafiyah. Bahkan yang mengarahkanku untuk memberikan ceramah dan pelajaran (di kegiatan) yang diadakan oleh jum’iyah di Kuwait ini adalah Samâhatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz ketika beliau menjabat sebagai penanggung jawab urusan dakwah di Kerajaan, dan saya saat itu adalah mudîr (direktur) Markaz ad-Da’wah (Islamic Center) di Ha`il. Saya telah pergi (memberikan ceramah) berulang kali dan saya tidak melihat melainkan hanya kebaikan.

Adapun adanya sebagian du’at yang bekerjasama dengan jum’iyah ini dan keadaan mereka diperbincangkan, maka hal ini juga ditemukan di (negeri) kita ini, adanya orang-orang yang berafiliasi dengan sejumlah institusi ilmiah seperti universitas atau perhimpunan dakwah, sedangkan mereka tidak berada di atas metodologi para ulama senior. Kendati demikian, kita tidak mengatakan bahwa Kerajaan (Arab Saudi) mengadopsi manhaj Ikhwânî dan keluar dari metodologi salafiyah.

Jadi, hal ini termasuk perkara ijtihadiyah (debatable) yang hanya diketahui oleh orang-orang yang mendalami dan sudah berpengalaman dengan dakwah, serta mengetahui metodologi syariah di dalam menimbang mashlahat dan mafsadat. Bukanlah pemahaman (fiqih) itu, Anda hanya mengetahui keburukan dan kebaikan saja, namun pemahaman itu adalah Anda dapat mengetahui yang terbaik dari dua kebaikan dan yang terburuk dari dua keburukan.

Sampai detik ini, saya belum pernah tahu bahwa Jum’iyah Ihyâ at-Turôts mengadopsi atau menyeru kepada selain dakwah salafiyah di dalam cetakan (buku-bukunya) atau publikasi-publikasinya. Kemudian, hendaklah difahami bahwa Jum’iyah Ihyâ at-Turôts ini tidaklah beraktivitas secara independen, namun ia termasuk jum’iyah al-khairiyah (lembaga sosial) di negara Kuwait. Hal ini perlu untuk direnungkan. Aktivitas dan upayanya di dalam membendung kristenisasi dan menyebarkan tauhid dan sunnah di puluhan negeri di Asia, Afrika dan selainnya, tidak ada yang mengingkarinya kecuali oleh orang-orang yang menentang.

Semoga Alloh memberikan taufik-Nya kepada kita semua kepada yang dicintai dan diridhai-Nya.

Sumber : http://www.obailan.net/news.php?action=show&id=370

سؤال عن جمعية احياء التراث وجوابه للشيخ العبيلان حفظه الله

فضيلة الشيخ السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
يعلم الله إني أحبكم في الله ولكن ومن خلال زيارتي اليوم لموقعكم وجد على ماده وهي بعنوان (الدعوة الإسلامية واقع وطموحات) ومن خلال استماعي لبداية هذه المحاضرة وجدت انها تلبية لدعوه جاءتكم من جمعية إحياء التراث وقد عرفة هذه الجمعية أنها حزبيه ومناصره للحزبيين فأرجو من فضيلتكم بياهذا الأمر الذي التبس على لأني سمعت من غير واحد من العلماء السلفيين أنهم بدعوا هذه الجمعيه ومن المشايخ الذين بدعوها: الشيخ ربيع المدخلي وكذالك الشيخ مقبل الوادعي وكذالك الشيخ عبيد الجابر وكذالك الشيخ فلاح إسماعيل مندكار وغيرهم كثير.
والسلام عليكم

الجواب
هذه من الأمور الإجتهادية التي يختلف فيها اهل العلم فالمشايخه الكبار مثل سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز والشيخ محمد العثيمين والشيخ عبدالمحسن العباد والشيخ صالح الفوزان وغيرهم يرونها جمعية سلفية والذي وجهني لإلقاء المحاضرات والدروس التي تنظمها الجمعية في الكويت هو سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز حين كان هو المسؤل عن الدعوة في المملكة وكنت حينها مديرا لمركز الدعوة في حائل وذهبت عدة مرات ولم أرى إلا الخير وأما وجود بعض الدعاة المتعاونين مع الجمعية وعليهم ملاحظات فهذا يوجد عندنا ايضا من ينتسبون الى بعض الجهات العلمية كالجامعات أو الجمعيات الدعوية وهم ليسوا على طريقة كبار العلماء ومع ذلك لم نقل ان الدولة تبنت المنهج الإخواني وخرجت عن الطريقة السلفية ، فهذه من الأمور الإجتهادية التي لايدركها إلا من خاض غمار الدعوة وعرف طريقة الشريعة في المصالح والمفاسد ، فليس الفقه أن تعلم الشر والخير ولكن أن تعلم خير الخيرين وشر الشرين ، وإلى ساعتي هذه لاأعلم أن جمعية إحياء التراث تبنت أودعت من خلال مطبوعاتها ونشراتها غير الدعوة السلفية ، ثم ينبغي أن يعلم أن جمعية إحياء التراث لاتعمل مستقلة بل هي ضمن الجمعيات الخيرية في دولة الكويت ،وهذا أمر ينبغي مراعاته ، ونشاطها وجهودها في مكافحة التنصير ونشر التوحيدو السنة في عشرات الدول في اسيا وافريقيا وغيرها لاينكرة إلا جاحد وفق الله الجميع لما يحبه ويرضاه


Selengkapnya...