Oleh Ustadz Armen Halim Naro, Lc.
Orang yang merasakan manisnya hidayahnya dan lezatnya iman ialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah puas pada sesuatu, ia tidak akan puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan dan merasakan kebahgiaan.
Perumpamaannya bagaikan lentera, yang memberi penerangan buat dirinya sebagaimana ia menerangi yang lainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan apakah orang yang telah mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan kembali dan Kami anugerahkan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah manusia, serupa dengan ornag yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali ia tidak dapat keluar darinya?”. [QS. Al-An’am: 122]
Permisalan sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seumpama danau luas yang menerima air, air disimpan dalam perutnya untuk minum manusia dan ternak, ia juga memberi penghidupan untuk tanaman dan pepohonan sekitarnya.
Banyak kelompok pergerakan maupun jamaah dakwah yang mengkarbit jamaahnya untuk menjadi dai, dalam hitungan waktu telah keluar dai-dai baru yang mayoritas kosong dari ilmu dan jauh dari hikmah. Mereka lebih dekat kepada kebodohan daripada ilmu dan pengetahuan, seharusnya menjadi seorang jamaah lebih layak daripada menjadi seorang dai. Akan tetapi karena jamaah dan pergerakannya membutuhkan orang-orang yang menghidupkan pemahaman, maka dilakukan pengkarbitan tadi, maka apa yang ia rusakkan lebih banyak daripada yang ia perbaiki.
Berbeda dengan salaf, memang jumlah dainya tidak seberapa, kadang-kadang dalam satu kota hanya terdapat satu atau dua dai, bahkan kadang-kadang beberapa wilayah dipegang oleh satu dai. Akan tetapi, setiap individu yang telah merasakan ajarang kebenaran ini, kiranya telah menjadi mesin pencetak orang-orang yang semisalnya. Setiap minggu ada saja orang ia bawa untuk datang ke pengajian, atau minimal pengajian yang telah ia terima itu telah ia sampaikan pula kepada orang-orang disekitarnya.
Adalah para sahabat dahulu, juga merupakan dai-dai yang disiapkan oleh Nabi, seperti Muadz bin jabal, Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhum, akan tetapi mereka bukanlah dai karbitan. Jumlah dai-dai itu memang tidak banyak, hanya saja setiap individu sahabat adalah lentera dan secara tidak langsung telah menjadi dai yang mengajak kepada kebenaran sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Mereka tidak tahan melihat saudaranya dalam kesesatan, sedangkan ia dalam kenikmatan iman.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jubair bin Nufair, “Suatu ketika kami duduk bersama Miqdad bin Aswad radhiallahu ‘anhuma, tiba-tiba seseorang lewat dan berkata, ‘Berbahagialah bagi kedua mata tersebut yang telah melihat Rasulullah shalallahu a‘laihi wa sallam, betapa kami berangan-angan agar kami dapat melihat apa yang pernah engkau lihat, dan kami dapat menyaksikan apa yang telah engkau saksikan’. Tiba-tiba Miqdad marah –sehinga membuatku terkejut karena tidak ada yang salah dari ucapannya-.
Lalu ia memandang orang tersebut sambil berkata, ‘apa yang membuat seseorang berangan-angan kepada sesuatu yang telah Allah subhanahu wa ta’ala ghaibkan darinya, sekiranya ia ikut menyaksikan tentu ia tidak apa yang seharusnya ia perbuat. Demi Allah, telah banyak yang menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi membuat mereka terjerumuskan dalam api neraka, karena mereka tidak memenuhi seruannya dan tidak membenarkannya. Atau selama ini kalian tidak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mengluarkan kalian dari perut ibu kalian, tidak mengenal kecuai Rabb kalian dan membenarkan semua yang dibawa oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bala telah dijauhkan! Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus pada masa jahiliyah masa genting, dalam pemahaman mereka tidak ada agama yang lebih baik daripada penyembahan berhala, lalu beliau dating membawa al-furqan (pembeda) antara yang haq dengan yang bathil, memisahkan antara anak dengan ayahnya. Sampai seseorang tidak senang hatinya mendpati ayah atau anak atau saudaranya dalam kekafiran, sedangkan hatinya telah dibukakan untuk menerima iman, dan ia mengetahui sekali mereka yang ia cintai pasti akan masuk neraka.” [Tafsir Ibnu katsir 3/439 beliau berkata, “Sanadnya Shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.”]
Begitulah gambaran kecintaan sahabat kepada keluarga dan kerabatnya dalam memberi hidayah, tidak tenang hati mereka kecuali dengan memeberi hidayah kepada orang lain, merekalah lentera kebenaran yang sebenarnya!!
Tugas yang termulia bagi seorang muslim setelah ia memperoleh hidayah adalah mengajak ornag lain kepadanya, karena dengan cara begitu hidayah akan kekal pada dirinya. Bukankah “Al-jazaa-u min jinsil amal?!” Ganjaran sesuai dengan jenis usaha, kalau hari ini ia telah memberi hidayah kepada orang lai, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menganugerahkan kepadanya ganjaran yang serupa yaitu dengan memantapkan hatinya dalam hidayah, sebagaimana dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Ya Allah subhanahu wa ta’ala, hiasilah kami dengan hiasan iman, jadikanlah kami pemberi petunjuk untuk manusia yang telah Engkau beri hidayah [HR. Ahmad dan an-Nasaa-i], tidak sesat dan menyesatkan, berdamai dengan wali-wali-Mu, memasang permusuhan dengan musuh-musuh-Mu, mencintai orang yang mencintai atas nama cinta-Mu, dan memusuhi orang yang menyelisihi-Mu karena permusuhan atas-Mu”.
Allah Jalaa Jalalahu memuji hamba mukmin yang memohon agar dijadikan pemimpin yang diberi hidayah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;
Dan orang-orang yang berkata,
“Wahai Rab kami, anugerahkanlah kepada kami istri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” [QS. Al-Furqan: 74]
Ibnu Abbas radhialahu ‘anhu berkata, “Meniru kami dan mengambil hidayah dari kami dalam hal kebaiakan.” [Tafsir Ibnu katsir 3/439]
Hasan Basri rahimahullah berkata, “Tidak ada yang lebih menyejukkan hati seorang muslim, melihat anak atau cucunya atau sejawatnya berbuat ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Ibid]
Makhul rahimahullah berkata: “Jadikanlah kami sebagai imam dalam taqwa, (sehingga) orang-orang bertaqwa mengikut kepada kami.”
Mujahid rahimahullah berkata: “Jadikanlah kami makmum orang-orang yang bertaqwa, meneladani mereka.”
Sebagian orang yang tidak mengerti pemahaman dan kedalaman ilmu salaf, merasa sulit memahami tafsiran ini. Mereka berkata, “Berdasarkan tafsiran ini, susunan ayat menjadi terbalik, sehingga bermakna, ‘Jadikanlah orang-orang yang bertaqwa pemimpin kami’”, kita tentu berlindung dari menafsirkan ayat dalam susunan yang terbalik.
Penafsiran Mujahid rahimahullah ini menunjukkan kesempurnaan ilmu beliau, karena tidak mungkin seseorang menjadi pemimpin bagi orang yang bertaqwa, sampai ia mengikuti orang-orang yang bertaqwa. Maksudnya beliau ingin menegaskan bahwa kemuliaan ini mereka peroleh dengan mengikuti ajaran salaf. Barangsiapa yang menjadikan Ahlussunah sebagai penutannya, niscaya ornag-orang semasanya dan setelahnya akan menjadikan dirinya sebagai panutan.
Dalam ayat ini ada sebuah rahasia, yaitu kenapa kata imam pada ayat tersebut dengan lafadz jamak, “waj’alna lil muttaqiina imaman” –tidak “a-immatan”. Sebagian mengatakan bahwa lafadz imam adalah dengan mufrad akan tetapi maksudnya jamak, sebagaimana yang dikatakan oleh Farra’ rahimahulah. Akan tetapi, jawaban terbaik adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahulah, bahwa orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang selalu di jalan yang satu, ma’bud (zat yang diibadahi) yang satu, pengikut kitab yang satu, nabi yang satu, hamba dari Rabb yang satu, agama mereka satu, seakan-akan mereka bagaikan imam yang satu, tidak seperti para imam yang lain –setiap mereka berselisih, maka berbeda pula ajaran, madzhab dan aqidah mereka. [Risalah Ibnul Qayyim, hal. 15]
Wallahu a’lam.
Selengkapnya...
Jumat, 06 November 2009
jadilah seperti lentera
Manhaj yang Benar dalam Memahami Islam
Oleh Redaksi Buletin Al-Wala’ wal Bara’ – Bandung
Adalah suatu fenomena yang kita saksikan dan tidak bisa dipungkiri bahwasanya ummat Islam sudah terpecah belah menjadi beberapa golongan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengabarkan bahwasanya ummatnya akan terpecah menjadi 73 golongan (dan ini sudah terjadi), semuanya masuk neraka kecuali satu golongan yaitu orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para shahabatnya.
Akan tetapi, ketika ditanyakan kepada golongan-golongan tersebut, mereka menjawab bahwasanya mereka berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah bahkan masing-masing golongan menyatakan golongannyalah yang benar sedangkan yang lainnya salah/sesat, bersamaan dengan itu kita ketahui dan saksikan bahwa golongan-golongan tersebut satu sama lainnya saling bertentangan, bermusuhan bercerai-berai dan tidak berada dalam satu manhaj yang menyatukan mereka. Hal ini seperti dikatakan di dalam sya’ir:
“Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila akan tetapi Laila tidak mengakuinya.”
Untuk itu satu hal yang pasti bagi kita bahwasanya kebenaran itu hanya satu dan tidak berbilang yaitu golongan yang benar dan selamat hanya satu yaitu orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para shahabatnya (salaf) sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang mutawatir. Dengan kata lain golongan yang selamat tersebut adalah orang-orang yang memahami dinul Islam dengan pemahaman salafush shalih (manhaj salaf).
Sedangkan manhaj salaf adalah suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dinul Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut Salafy atau As-Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As-Salafiyyun.
Al-Imam Adz-Dzahabi berkata: “As-Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala` 6/21).
Kemudian di sini akan dikemukakan sebagian dalil-dalil yang menyatakan bahwa manhaj yang benar dalam memahami agama adalah manhaj salaf serta kewajiban bagi kita untuk mengikuti manhaj tersebut, yaitu:
1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :”Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al-Fatihah:6-7).
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya?, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah (Syi’ah).” (Madarijus Salikin 1/72).
Hal ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami agama ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus pula.
2. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqarah:143).
Allah telah menjadikan mereka orang-orang pilihan lagi adil, mereka adalah sebaik-baik ummat, paling adil dalam perkataan, perbuatan serta keinginan mereka, karena itu mereka berhak untuk menjadi saksi atas sekalian manusia, Allah mengangkat derajat mereka, memuji mereka serta menerima mereka dengan penerimaan yang baik.
Dengan ini jelaslah bahwasanya pemahaman para shahabat merupakan hujjah atas generasi setelah mereka dalam menjelaskan nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah.
3. “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali ‘Imran:101).
Para shahabat adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah, karena Allah adalah pelindung bagi siapa saja yang berpegang teguh kepada (agama)-Nya sebagaimana firman Allah:
“Dan berpeganglah kalian pada tali Allah. Dia adalah pelindung kalian maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj:78).
Dan telah dimaklumi bahwasanya perlindungan dan pertolongan Allah kepada para shahabat sangat sempurna, hal tersebut menunjukkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, mereka adalah orang-orang yang memberi petunjuk dengan persaksian dari Allah.
4. “Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran:110).
Allah telah menetapkan atas mereka keutamaan atas sekalian ummat, hal tersebut karena keistiqamahan mereka pada segala hal, karena mereka tidak akan melenceng dari jalan yang lurus, Allah telah bersaksi atas mereka bahwasanya mereka menyuruh kepada setiap yang ma’ruf, mencegah dari setiap kemunkaran, berdasarkan hal tersebut merupakan suatu keharusan bahwasanya pemahaman mereka merupakan hujjah bagi generasi setelahnya hingga Allah menetapkan putusannya.
5. “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa`:115).
Berkata Al-Imam Ibnu Abi Jamrah Al-Andalusi: “Para ‘ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi pertama dari ummat ini,?.” (Al-Mirqat Fi Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37).
Syaikhul Islam berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin-red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa 7/38).
Maksud ayat tersebut, bahwasanya Allah mengancam siapa saja yang mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin (dengan neraka Jahannam), maka jelaslah bahwasanya mengikuti jalannya para shahabat dalam memahami syari’at Allah wajib hukumnya, sedangkan menyalahinya merupakan suatu kesesatan.
6. “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah:100).
Makna dalil tersebut, bahwasanya Tuhan manusia memuji orang-orang yang mengikuti manusia terbaik, maka diketahui dari hal tersebut bahwasanya jika mereka mengatakan suatu pandangan kemudian diikuti oleh pengikutnya pantaslah pengikut tersebut untuk mendapatkan pujian dan ia berhak mendapatkan keridhaan, jika sekiranya mengikuti mereka tidak membedakan dengan selain mereka maka tidak pantas pujian dan keridhaan tersebut.
7. “Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Furqan:74).
Maka orang-orang bertaqwa secara keseluruhan berimam kepada mereka. Adapun taqwa merupakan kewajiban, di mana Allah dengan gamblang menyebutkannya dalam banyak ayat. Tidak memungkinkan untuk menyebutkannya di sini, maka jelaslah bahwa berimam kepada mereka wajib, adapun berpaling dari jalan mereka akan menyebabkan fitnah dan bencana.
8. “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman:15).
Seluruh shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang kembali kepada Allah, maka Allah memberikan hidayah kepada mereka dengan perkataan yang baik, serta berbuat amal shalih.
Maka merupakan suatu kewajiban untuk mengikuti manhaj para shahabat dalam memahami agama Allah baik yang ada dalam Al-Qur`an ataupun As-Sunnah.
9. “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah:24).
Sifat-sifat yang disebutkan pada ayat tersebut di atas adalah berkenaan dengan sifat-sifat para shahabat Nabi Musa ‘alaihis salam, Allah mengabarkan bahwasanya Dia menjadikan mereka sebagai imam yang diikuti oleh orang-orang sesudah mereka karena kesabaran dan keyakinan mereka, jika demikian kesabaran dan keyakinan merupakan jalan untuk menjadi Imam (pemimpin) dalam agama.
Dan sangat dimaklumi bahwasanya shahabat-shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak dengan sifat-sifat tersebut daripada ummat Nabi Musa, mereka lebih sempurna keyakinan dan kesabaran dari segenap ummat, maka mereka lebih berhak untuk menjadi imam dan ini merupakan hal yang paten berdasarkan persaksian dari Allah dan pujian Rasulullah atas mereka.
Selengkapnya...
Bolehkah Bertoleransi dagn jamaah?
Oleh Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiyah Wal Ifta
Pertanyaan
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiyah Wal Ifta ditanya :
Bertolak dari firman Allah :
”Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Al-Ma’idah : 2)
Dikatakan bahwa wajib bekerjasama dengan setiap jama’ah-jama’ah Islam, walaupun berbeda-beda dalam manhaj dan cara dakwah mereka, seperti Jama’ah Tabligh cara dakwahnya berbeda dengan cara dakwah Ikhwanul Muslimin, atau Hizbut Tahrir, atau Jama’ah Jihad, atau Salafiyyin, bagaimana kaidah dalam kerjasama ini ? Apakah dibatasi dalam hal partisipasi dalam muktamar-muktamar dan seminar-seminar ? Apa yang akan diarahkan dalam dakwah kepada selian kaum muslimin karena disana banyak kekaburan bagi orang-orang yang baru masuk Islam ? Karena sesungguhnya masing-masing jama’ah akan membawa orang-orang baru ini ke markaz-markaz mereka, dan kepada ulama-ulama mereka sehingga orang-orang baru ini berada dalam kebingungan? Bagaimana solusi permasalahan ini ?
Jawaban
Yang wajib adalah bekerja sama dengan jama’ah-jama’ah yang berjalan di atas manhaj Kitab dan Sunnah dan apa yang ditempuh oleh Salaful Ummah, di dalam berdakwah kepada tauhidullah, mengikhlaskan ibadah semata-mata kepadanya, melarang dari kesyirikan, bid’ah, dan kemakshiatan, serta menasehati jama’ah-jama’ah yang menyeleweng tersebut dari manhaj yang benar, jika jama’ah-jama’ah tersebut kembali kepada kebenaran, maka boleh bekerja sama dengannya, jika mereka berketatapan hati untuk terus dalam penyelewengan ; maka wajib dijauhi, dan berpegang teguh dengan Kitab dan Sunnah. Dan kerja sama dengan jama’ah-jama’ah yang berpegang teguh dengan Kitab dan Sunnah, adalah dalam segala hal yang mengandung kebaikan dan ketaqwaan, dalam hal pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar, taklim-taklim, ceramah-ceramah, dan segala hal yang bermanfaat kepada Islam dan kaum muslimin.
2. Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Beliau rahimahullah berkata : ”Benar, kita wajib bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dalam hal membela kebenaran, mendakwahkannya, dan memperingatkan umat dari apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, adapun jika sebagian dari kita toleransi dengan sebagian yang lainnya dari apa yang kita perselisihkan, maka ini tidaklah mutlak, bahkan ini butuh kepada perincian, jika hal itu merupakan masalah-masalah ijtihad yang tersembunyi dalilnya, maka yang wajib tidak boleh saling mengingkari pada masalah-masalah tersebut, adapun permasalahan-permasalahan yang menyelisihi nash Kitab dan Sunnah, maka yang wajib mengingkari siapa saja yang menyelisihi nash dengan hikmah, mau’izoh hasanah, dan debat dengan cara yang baik, sebagai pengamalan firman Allah.
”Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Al-Maidah : 2)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar”. (At-Taubah : 71)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhamnu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (An-Nahl : 125)
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.
”Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman”. (Hadits Riwayat Muslim 49, Ahmad 3/10, Abu Dawud 1140, Tirmidzi 2172]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam
”Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut”. (Hadits Riwayat Muslim 1893)
Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam masalah ini banyak sekali.
(Majmu Fatawa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 3/58-59)
3. Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ”Perkataan mereka, ”Kita bersatu pada apa yang kita sepakati” adalah haq, adapun perkataan mereka, ”Kita saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan”, maka ini perlu perincian. Pada hal-hal yang dibolehkan ijtihad padanya, maka kita saling toleransi, tetapi hati-hati kita tidak boleh berselisih dengan sebab perselisihan ini. Adapun jika permasalahan itu tidak dibolehkan ijtihad padanya, maka kita tidak boleh toleransi pada siapa saja yang menyelisihinya, dan wajib atasnya untuk tunduk kepada kebenaran. Maka bagian awal dari ibarat kaidah ini shahih, adapun bagian akhirnya butuh kepada perincian”.
(Shohwah Islamiyyah Dhawabith Wa Taujihat, 1/218-219)
4. Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albaany
Beliau mengkritik kaidah ini dengan mengatakan : ”Para pemakai kaidah ini adalah orang-orang yang pertama kali menyelesihi kaidah ini, kami tidak syak (ragu) sama sekali bahwa bagian awal kalimat ini adalah benar, yaitu ”Kita bekerjamasama pada apa yang kita sepakati”. Kalimat ini adalah petikan dari firman Allah.
”Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Al-Maidah : 2)
Adapun bagian akhir kalimat ini yaitu, ”Kita saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan”, maka harus diberi batasan.,,,. Kapan hal ini dilakukan ? Ketika kita saling menasehati, kita katakan kepada seorang yang berbuat kesalahan, ”Engkau keliru, dalilnya ini dan itu, ketika kita melihat dia belum puas, dan dia ikhlas, maka kita tinggalkan dia pada keadaannya, dan kita bekerja sama dengannya pada apa yang kita sepakati bersamanya. Adapun jika kita melihat dia keras kepala, sombong, dan berpaling, maka pada saat itu tidak benar ibarat ini, tidak boleh kita saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan”.
[Majalah Al-Furqon, Kuwait, edisi 77 halaman 22]
Selengkapnya...
Bolehkah Bertoleransi dagn jamaah?
Oleh Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiyah Wal Ifta
Pertanyaan
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiyah Wal Ifta ditanya :
Bertolak dari firman Allah :
”Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Al-Ma’idah : 2)
Dikatakan bahwa wajib bekerjasama dengan setiap jama’ah-jama’ah Islam, walaupun berbeda-beda dalam manhaj dan cara dakwah mereka, seperti Jama’ah Tabligh cara dakwahnya berbeda dengan cara dakwah Ikhwanul Muslimin, atau Hizbut Tahrir, atau Jama’ah Jihad, atau Salafiyyin, bagaimana kaidah dalam kerjasama ini ? Apakah dibatasi dalam hal partisipasi dalam muktamar-muktamar dan seminar-seminar ? Apa yang akan diarahkan dalam dakwah kepada selian kaum muslimin karena disana banyak kekaburan bagi orang-orang yang baru masuk Islam ? Karena sesungguhnya masing-masing jama’ah akan membawa orang-orang baru ini ke markaz-markaz mereka, dan kepada ulama-ulama mereka sehingga orang-orang baru ini berada dalam kebingungan? Bagaimana solusi permasalahan ini ?
Jawaban
Yang wajib adalah bekerja sama dengan jama’ah-jama’ah yang berjalan di atas manhaj Kitab dan Sunnah dan apa yang ditempuh oleh Salaful Ummah, di dalam berdakwah kepada tauhidullah, mengikhlaskan ibadah semata-mata kepadanya, melarang dari kesyirikan, bid’ah, dan kemakshiatan, serta menasehati jama’ah-jama’ah yang menyeleweng tersebut dari manhaj yang benar, jika jama’ah-jama’ah tersebut kembali kepada kebenaran, maka boleh bekerja sama dengannya, jika mereka berketatapan hati untuk terus dalam penyelewengan ; maka wajib dijauhi, dan berpegang teguh dengan Kitab dan Sunnah. Dan kerja sama dengan jama’ah-jama’ah yang berpegang teguh dengan Kitab dan Sunnah, adalah dalam segala hal yang mengandung kebaikan dan ketaqwaan, dalam hal pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar, taklim-taklim, ceramah-ceramah, dan segala hal yang bermanfaat kepada Islam dan kaum muslimin.
2. Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Beliau rahimahullah berkata : ”Benar, kita wajib bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dalam hal membela kebenaran, mendakwahkannya, dan memperingatkan umat dari apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, adapun jika sebagian dari kita toleransi dengan sebagian yang lainnya dari apa yang kita perselisihkan, maka ini tidaklah mutlak, bahkan ini butuh kepada perincian, jika hal itu merupakan masalah-masalah ijtihad yang tersembunyi dalilnya, maka yang wajib tidak boleh saling mengingkari pada masalah-masalah tersebut, adapun permasalahan-permasalahan yang menyelisihi nash Kitab dan Sunnah, maka yang wajib mengingkari siapa saja yang menyelisihi nash dengan hikmah, mau’izoh hasanah, dan debat dengan cara yang baik, sebagai pengamalan firman Allah.
”Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Al-Maidah : 2)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar”. (At-Taubah : 71)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhamnu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (An-Nahl : 125)
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.
”Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman”. (Hadits Riwayat Muslim 49, Ahmad 3/10, Abu Dawud 1140, Tirmidzi 2172]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam
”Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut”. (Hadits Riwayat Muslim 1893)
Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam masalah ini banyak sekali.
(Majmu Fatawa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 3/58-59)
3. Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ”Perkataan mereka, ”Kita bersatu pada apa yang kita sepakati” adalah haq, adapun perkataan mereka, ”Kita saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan”, maka ini perlu perincian. Pada hal-hal yang dibolehkan ijtihad padanya, maka kita saling toleransi, tetapi hati-hati kita tidak boleh berselisih dengan sebab perselisihan ini. Adapun jika permasalahan itu tidak dibolehkan ijtihad padanya, maka kita tidak boleh toleransi pada siapa saja yang menyelisihinya, dan wajib atasnya untuk tunduk kepada kebenaran. Maka bagian awal dari ibarat kaidah ini shahih, adapun bagian akhirnya butuh kepada perincian”.
(Shohwah Islamiyyah Dhawabith Wa Taujihat, 1/218-219)
4. Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albaany
Beliau mengkritik kaidah ini dengan mengatakan : ”Para pemakai kaidah ini adalah orang-orang yang pertama kali menyelesihi kaidah ini, kami tidak syak (ragu) sama sekali bahwa bagian awal kalimat ini adalah benar, yaitu ”Kita bekerjamasama pada apa yang kita sepakati”. Kalimat ini adalah petikan dari firman Allah.
”Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Al-Maidah : 2)
Adapun bagian akhir kalimat ini yaitu, ”Kita saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan”, maka harus diberi batasan.,,,. Kapan hal ini dilakukan ? Ketika kita saling menasehati, kita katakan kepada seorang yang berbuat kesalahan, ”Engkau keliru, dalilnya ini dan itu, ketika kita melihat dia belum puas, dan dia ikhlas, maka kita tinggalkan dia pada keadaannya, dan kita bekerja sama dengannya pada apa yang kita sepakati bersamanya. Adapun jika kita melihat dia keras kepala, sombong, dan berpaling, maka pada saat itu tidak benar ibarat ini, tidak boleh kita saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan”.
[Majalah Al-Furqon, Kuwait, edisi 77 halaman 22]
Selengkapnya...
HIZBIYYAH = HIZBULLAH ?? (2)
HIZBIYYAH = HIZBULLAH ?? (2)
23 November 2007 salafiyunpad Tinggalkan komentar Go to comments
Oleh Redaksi Buletin Al-Furqon, Ma’had Al-Furqon, Gresik
HIZBIYYAH PEMECAH BELAH UMAT
Kita bisa saksikan masih banyak orang-orang yang kurang berfungsi atau memang sudah tidak berfungsi mata, telinga dan hatinya. Sehingga berceloteh dengan menyebarkan hadits yang tidak ada asalnya untuk melegitimasi keinginannya. Perselisihan umatku merupakan rahmat. Mereka buta, tuli serta tidak bisa memahami nash-nash yang shohih dan gamblang seperti firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Dan perpeganglah kamu semuanya kepada tali (Agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” [Ali-Imron : 103]
Dan firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Dan Janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” [Ali-Imron :105]
Dan firmanNya:
“Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Ar-Rum : 31-32]
Dan firmanNya:
“Artinya : Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kam wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” [As-Syuro : 13]
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Karena orang yang hidup di antara kalian sesudahku nanti, dia akan menyaksikan perselisihan yang sangat banyak sekali. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rosyidin setelahku. Gigitlah sunnahku dengan gigi geraham [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi]
Sabdanya pula:
“Artinya : Sesungguhnya agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga. Dialah Al-Jama’ah” [Lihatlah Shohihul Jami’ : 638]
Dan hadist-hadist lain yang semisal.
Demikianlah…..hizbiyyah menjadi sangat identik dengan perpecahan. Ibarat dua sahabat karib yang memiliki hubungan yang kokoh. Dimana ada hizbiyyah, disitu pula terletak perpecahan. Di mana terjadi perpecahan, di sana pula ditegakkan prinsip-prinsip hizbiyyah. Hal ini tidak samar lagi bagi ahli ilmu dan tholabul ilmi. Perhatikan kembali hadist diatas (tentang Muhajirin dan Anshor). Disitu Rasulullah telah memerangi benih-benih perpecahan dan hizbiyyah ketika beliau melihat gelagat akan tumbuhnya sifat-sifat hizbiyyah yang sangat erat dengan perpecahan. Padahal seruan yang mereka nasabkan adalah seruan yang terpuji lagi baik, yaitu seruan yang bernasab kepada Muhajirin dan Anshor. Bukankah Allah telah memuji mereka, Muhajirin dan Anshor?
Perhatikan firman Allah berikut:
“Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” [At-Taubah : 100]
Ketika nama-nama yang mulia ini dijadikan seruan-seruan untuk menganggap
dirinya lebih baik dari yang lain atau memenangkan/menolong seseorang karena dia termasuk kelompoknya, Rasulullah mengingkarinya dan
menyebutnya sebagai seruan jahiliyyah. Dan semakna pula dengan seruan jahiliyyah ini adalah seruan atau bernasab kepada suatu qabilah, ta’asub (fanatik) kepada seseorang, kepada suatu mahzab atau kelompok, kepada syaikh, ‘alim dan ulama’, mengunggulkan sebagian atas sebagian yang lain sekedar berdasarkan hawa nafsu dan fanatik buta. Lalu membangun wala’ (cinta) dan permusuhan di atas sifat dan sikap yang semacam itu tadi dan mengukur manusia ini di atas neraca tersebut, maka semua ini adalah seruan dan sitem jahiliyyah.
Kesimpulannya bahwa perpecahan dan perselisihan serta bentuk hizbiyyah, apapun jenis dan dasarnya, tidaklah selaras dengan tabiat Islam sama sekali. Dan bentuk hizbiyyah ini pasti hanya mendatangkan mudhorot dan kejelakan yang jauhlebih banyak dan berbahaya daripada manfaat dan kebaikannya kalaulah ada manfaat dan kebaikannya bagi kaum Muslimin. Dan agama kita pun telah melarang perpecahan dan perselisihan ini secara mutlak dan menjadikannya sebagai sebab kelemahan dan kehinaan kaummuslimin.
“Artinya : Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” [Al-Anfal : 46]
Allah tidak membatasi larangan perselisihan ini, bahkan memutlakkannya agar mencakup segala macamnya. Bahkan Allah tidak hanya sekedar melarang saja, tapi Allah mewajibkan kaum muslimin untuk bersungguh-sungguh dalam meraih kebenaran ketika terjadi perselisihan.
Firman-Nya:
“Artinya : Hai orang-orang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan Ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)”. [An-Nisa’ : 59]
Jadi perpecahan dan hizbiyyah ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Kita harus benar-benar memahami dan mengambil sikap yang benar. Sekalipun hal ini dianggap kecil dan remeh oleh semantara orang yang memandang. [4]
Mudah-mudahan Allah mengokohkan langkah dan hati di atas jalan sunnah.
[Sumber : Buletin Al-Furqon Edisi 10 Tahun 1, Diterbitkan Lajnah Da'wah Ma'had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma'had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim 61153]
_________
Selengkapnya...
Jumat, 09 Oktober 2009
PEDULI GEMPA
Info
Daftar Para Ustadz Salafi di Padang:
1. Ust. Elvi SYam, LC: 08126638098
2. Ust. Ahmad daniel, LC: 081363300576
3. Ust. Faisal, LC: 081363036179
4. Ust. Zul Asri: 085274744558
5. Ust Abdul Halim, MA: 081315912154
Daftar Para Ustadz Salafi di Pariaman:
1. Ust. Asyrofi: 081363360735
Info
BANTUAN KORBAN GEMPA PADANG DAN SEKITARNYA
ASSALAMU'ALAYKUM,,,
ALHAMDULILLAH KONDISI PARA USTADZ SALAFI DAN KELUARGA-KELUARGA BELIAU DI PADANG DALAM KEADAAN SELAMAT,,, BEGITU JUGA DENGAN IKHWAN WA AKHWAT DI PADANG DALAM KEADAAN SELAMAT JUGA.
KAMI MENGAJAK KEPADA SELURUH KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT UNTUK MENYALURKAN BANTUANNYA LANGSUNG KEPADA PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PENANGANAN BENCANA.
UNTUK BANTUAN BERUPA DANA DAPAT DISALURKAN KE REKENING UST. KITA DI PADANG DAN IKHWAN KITA DI PADANG BERIKUT INI:
BNI: No.Rek: 0091828506 an MUHAMMAD ELVI SYAM
BCA : No.Rek: 0321009076 an MUHAMMAD ELVI SYAM
Bank Mandiri : No.Rek: 111-00-0439491-8 an MUHAMMAD ELVI SYAM
Untuk dari luar negeri dalam bentuk dollar
BNI PADANG BRANCH
ACCOUNT NO : 0078424929 USD
BSM: No.Rek: 1537008322 an ARIE PRIATAMA
KONFIRMASI PENGIRIMAN KE:
1. Ust. Muhammad Elvi SYam, LC: 08126638098 atau 07517801669
2. Arie Priatama: 081363913340
Atas bantuannya kami ucapkan Jazakumullahu khairan,,,
Mohon kepada Para Admin Situs Salafi di Indonesia untuk menyebarkan berita ini.
Selengkapnya...
Sabtu, 03 Oktober 2009
SALAFY BUKAN TERORIS
enyikapi Cap Teroris Atas Salafy - Simak Index Artikel berikut
Dikirim oleh webmaster, Senin 31 Agustus 2009, kategori Info Dakwah
Bismillah...
Para pembaca sekalian, rahimahumullah...
Kejadian-kejadian aksi terorisme di negeri ini dalam beberapa waktu terakhir terus meningkat. Di sisi lain upaya aparat untuk memburu para teroris pelaku pengeboman tak berperikemanusiaan itu terus gencar.
Beberapa pelaku teror berhasil ditangkap. Sangat disayangkan, ternyata di antara mereka yang tertangkap sebelumnya adalah para pemuda muslimin yang dikenal baik di lingkungannya, memiliki semangat beragama yang tinggi, dan pembelaan terhadap Islam. Para orang tua yang mendengar anaknya tewas dalam aksi terorisme atau terciduk oleh aparat, kaget dan terpukul. Tentunya kita heran,
bagaimana paham terorisme bisa masuk menyusup ke generasi muda muslim? Apa benar terorisme merupakan bagian dari ajaran agama?
Lebih rumit lagi, ternyata pada sebagian teroris yang tertangkap atau masih buron, pada mereka ada penampilan syiar agama Islam, misalnya berjenggot, celana di atas mata kaki, baju gamis, istri bercadar, dan syiar ketaatan beragama lainnya.
Tak ayal lagi, sebagian orang menganggap bahwa itu adalah ciri-ciri teroris.
Parah lagi, mereka menganggap setiap orang yang berpenampilan dengan penampilan di atas, maka berarti identik dengan teroris atau orang yang sekelompok/segolongan dengan para teroris! Kondisi ini diperkeruh dengan komentar-komentar para tokoh tidak bertanggung jawab dan asal bicara, yang dilansir oleh media.
Perlu diketahui bahwa penampilan Islami seperti di atas sebenarnya merupakan cara penampilan yang dituntunkan dalam syariat dan dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta diamalkan oleh para sahabat dan para salafush shalih, serta para ulama Ahlus Sunnah yang mulia. Jadi, sebenarnya itu merupakan ciri-ciri seorang muslim yang berpegang teguh dengan agamanya.
Sepantasnya seorang muslim berpenampilan dengan penampilan seperti itu. Namun para teroris tersebut telah menodai ciri-ciri yang mulia ini, dengan mereka terkadang berpenampilan dengan penampilan tersebut. Sehingga sampai-sampai kaum muslimin sendiri tidak mau berpenampilan dengan penampilan Islami seperti di atas, karena beranggapan bahwa penampilan tersebut adalah penampilan teroris.
Nyata-nyata para teroris Khawarij tersebut telah membuat jelek Islam dari segala sisi! Padahal dalam kondisi-kondisi tertentu –dalam rangka menghilangkan jejak misalnya—terkadang mereka tak segan melepas segala atribut penampilan syiar sunnah dari dirinya!! Mencukur jenggotnya sekalipun akan sanggup mereka lakukan!! Penampilan luar semata tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai seseorang sebagai teroris. Jangan apriori terhadap penampilan sunnah dan ajaran
sunnah. Di sisi lain jangan pula terkecoh dengan penampilan tersebut.
Maka, kita perlu tahu apa dan bagaimana paham keagamaan para teroris pelaku peledakan bom Bali, JW.
Marriot, dll. berikut bahaya paham tersebut terhadap Islam dan umat Islam serta kehidupan manusia.
Apa benar paham dan praktek mereka selama ini ada landasannya dalam Islam? Apa kaitannya dengan jihad?
Benarkah mereka sedang berjuang membela Islam?
Apa semua orang yang berjenggot, berjubah, isterinya bercadar, … dst adalah teroris, atau identik dengan teroris, atau sealiran dengan kelompok teroris?
Selengkapnya...
NOORDIN END STOP!!!
NOORDIN END STOP!!!
Dikirim oleh webmaster, Selasa 22 September 2009, kategori Aqidah
Penulis: Al Ustadz Abu Karimah Askari
.: :.
NORDIN TEWAS, SUKA CITA KAUM MUSLIMIN
DAN KESEDIHAN KAUM TERORIS KHAWARIJ
Sebagai seorang muslim yang masih berada diatas fitrahnya yang suci, sudah tentu merasakan kegembiraan ketika mendengarkan berita tentang tewasnya seseorang yang dikenal sebagai salah satu gembong teroris Khawarij di masa kini, yang gemar melakukan tindakan kejahatan dan menumpahkan darah manusia, tidak terlepas pula tertumpahnya darah-darah kaum muslimin. Namun berbeda halnya dengan seorang yang telah tertanam padanya benih-benih pemikiran khawarij, dia tentu akan merasa sedih dengan terbunuhnya salah satu dari tokoh mereka,yang selama ini dianggap “berjihad” dengan cara-caranya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menggelarinya dengan sebutan “mujahid” atau “mati syahid”.
Kaum Muslimin yang kami muliakan, termasuk diantara petunjuk didalam Islam yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam dan para sahabatnya adalah tidak menampakkan kesedihan dengan tewasnya tokoh-tokoh teroris khawarij. Bagaimana mungkin seseorang bersedih, sementara mereka dengan melakukan tindakan membabi buta tanpa mengikuti koridor syari’at Islam yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya dan melakukan berbagai tindakan teror yang menyebabkan ketakutan kaum muslimin yang hidup di dalam negeri mereka sendiri. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti seorang muslim lainnya.”
(HR.Abu Dawud (5004) dari beberapa sahabat Nabi )
Oleh karenanya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan tegas menyebut mereka kaum khawarij sebagai anjing-anjing neraka. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ
“Khawarij adalah anjing-anjing neraka.”
(HR.Ibnu Majah:173, dari Ibnu Abi Aufa radhiallahu anhu)
Demikian pula halnya para sahabat Nabi –semoga Allah meridhai mereka- tidak merasa sedih dengan meninggalnya tokoh-tokoh teroris khawarij, bahkan sebaliknya dengan menampakkan perasaan gembira dan bersyukur atas meninggalnya. Diriwayatkan dari Abu Ghalib berkata: Abu Umamah –radhiallahu anhu- melihat kepala-kepala (kaum khawarij) yang dipajang ditangga masjid Damaskus, lalu Abu Umamah berkata:
كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى من قَتَلُوهُ
“Anjing-anjing neraka, (mereka) seburuk-buruk yang terbunuh di bawah kolong langit,dan sebaik-baik yang terbunuh adalah yang mereka bunuh.”
Lalu Abu Umamah berkata: "Sekiranya aku tidak mendengar hadits ini (dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam) sekali, dua kali sampai tujuh kali, aku tidak akan memberitakannya kepada kalian.”
(HR.Tirmidzi:3000)
Perhatikanlah hadits ini yang menunjukkan betapa seringnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam memberi peringatan kepada umatnya dari bahaya kaum khawarij ini.
Demikian pula yang dilakukan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu,sebagaimana yang diriwayatkan oleh Zabban bin Shabirah Al-Hanafi bahwa ia berkata ketika menceritakan keikutsertaannya dalam perang Nahrawan dalam menumpas kaum Khawarij:
“Aku termasuk yang menemukan dzu tsadyah, lalu menyampaikan berita gembira ini kepada Ali radhiallahu anhu dan aku melihatnya sujud yang menunjukkan kegembiraannya.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: 8424)
Yang dimaksud Dzu tsadyah adalah salah seorang dari kalangan khawarij yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Dzu tsadyah artinya yang memiliki benjolan pada bagian tangannya yang menyerupai payudara, bagian atasnya seperti puting payudara yang memiliki bulu-bulu kecil mirip kumis kucing. (Fathul Bari:12/298)
Demikianlah sikap para ulama salaf dalam menyikapi kaum teroris khawarij.Semoga Allah memelihara kita semua dari kejahatan dan makar mereka, dan semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari berbagai pemikiran dan syubhat mereka yang menyesatkan manusia dari jalan Allah Azza Wajalla. Benarlah ucapan Abul ‘Aliyah rahimahullah:
إن علي لنعمتين ما أدري أيتهما أعظم أن هداني الله للإسلام ولم يجعلني حروريا
“Sesungguhnya aku merasakan dua kenikmatan yang aku tidak mengetahui manakah diantara dua kenikmatan tersebut yang terbesar: ketika Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk islam, dan tidak menjadikan aku sebagai haruri (khawarij).”
(diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf:18667)
Ditulis oleh:
Abu Karimah Askari bin Jamal
28 Ramadhan 1430 H.
Selengkapnya...
Amrozi cs, Mati Syahidkah?
Amrozi cs, Mati Syahidkah?
Kategori Kontemporer | 27 Rajab 1430 H / 19-07-2009
Fatwa Alim Besar Kota Madinah, Syaikh ‘Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry –semoga Allah menjaga beliau-
Soal:
Syaikh yang mulia, beberapa hari yang lalu telah dijalankan hukuman eksekusi terhadap orang-orang yang melakukan peledakan di kota Bali, Indonesia, enam tahun silam. Telah terjadi fitnah setelahnya terhadap banyak manusia, dimana penguburan jenazah mereka dihadiri oleh sejumlah manusia yang sangat banyak. Mereka juga memastikan pelbagai kabar gembira tentang jenazah yang telah dieksekusi tersebut berupa, senyuman di wajah mereka setelah eksekusi, wewangian harum yang tercium dari jenazah mereka, dan selainnya. Mereka mengatakan pula bahwa itu adalah tanda mati syahid, dan perbedaan antara hak dan batil pada hari penguburan jenazah. Apakah ada nasihat bagi kaum muslimin secara umum di negeri kami? wa Jazâkumulâhu Khairan.
Jawab:
Bismillahirrahmanirrahim,
الحمد لله رب العالمين ، والعاقبة للمتقين ، ولا عدوان إلا على الظالمين ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، الملك الحق المبين ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد ولد آدم أجمعين ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه الطيبين الطاهرين ، وسلم تسليما كثيرا على مر الأيام والليالي والشهور والسنين .
‘Amma Ba’du,
Bukanlah suatu hal yang aneh pada kalangan awam dan mereka yang tidak memiliki pemahaman terhadap As-Sunnah akan terjadi pada mereka seperti yang tersebut dalam pertanyaan, saat mereka mengiringi jenazah (para pelaku pengeboman) yang dieksekusi oleh pemerintah Indonesia. Orang-orang tersebut dieksekusi, lantaran perbuatan mereka menghilangkan harta benda dan nyawa, (dan ini) adalah perbuatan kaum Khawarij yang mengkafirkan kaum muslimin karena dosa, baik dilakukan oleh pemerintah maupun rakyat.
Siapa yang memahami As-Sunnah, maka ia akan mengetahui bahwa eksekusi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap mereka adalah perkara yang sangat tepat dan kebenaran semata.
Siapa yang mengetahui sejarah kaum Khawarij semenjak masa shahabat dan sepanjang perguliran masa ke masa, maka akan nampak baginya bahwa apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang dieksekusi itu adalah perbuatan khurûj (pembangkangan, kudeta) terhadap pemerintah muslim dan pelanggaran terhadap pelbagai kehormatan, berupa nyawa yang terjaga dan harta. Bahkan perbuatan kaum Khawarij pada hari ini adalah bentuk dari perbuatan kaum bathiniyah.
Di antara perbuatan kaum bathiniyah adalah, beberapa masa yang lalu mereka menduduki Baitul Haram dan menumpahkan darah-darah yang terjaga serta mengambil Hajar Aswad, sehingga menghilang dari kaum muslimin sekian lama, sebab mereka membawanya ke Baghdad atau tempat lain –sebagaimana yang diberitakan-.
Berikut ini adalah nasihat dariku kepada saudara-saudaraku dan anak-anakku, yaitu kaum muslimin di Indonesia –semoga Allah menjaga negara mereka dan negara kami dari setiap keburukan dan kejelekan- dalam dua hal:
Pertama, tentang keterangan yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yang mutawatir dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang celaan terhadap kaum Khawarij sepanjang masa, abad dan tahun –selama-lamanya-, serta cercaan dan kemurkaan atas mereka.
Beliau menggelari mereka bahwa “Mereka adalah anjing-anjing neraka”, “Mereka adalah orang-orang bodoh yang baru tumbuh” dan “Mereka berbicara dari ucapan manusia terbaik, akan tetapi mereka keluar dari Islam seperti tembusnya anak panah dari buruannya.”
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam (juga) memerintahkan untuk membunuh dan memerangi mereka. Beliau bersabda, “Mereka adalah seburuk-buruk makhluk dan yang paling buruk tabiatnya”, “Mayat mereka adalah seburuk-buruk mayat di kolong langit”, “Berbahagialah orang yang membunuh mereka dan dibunuh oleh mereka”, “Kalau aku dapati mereka, niscaya aku akan binasakan mereka seperti binasanya kaum ‘Ad dan Iram”.
Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saat terjadinya perpecahan di antara kaum muslimin, akan keluarlah di antara mereka mâriqah[1] yang akan diperangi oleh kelompok yang paling dekat dengan kebenaran, kemudian kelompok yang berada di atas kebenaran tersebut dapat membasmi mereka.”
Benarlah sabda beliau ini. Penduduk Nahrawan di Irak melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu. Perang terhadap mereka saat itu di bawah pimpinan ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu bersama para tokoh Islam dari kalangan shahabat dan tabi’in.
‘Ali dan para shahabatnya radhiyallâhu ‘anhum (berada di atas) kebenaran dalam memerangi kaum Khawarij, sebagaimana faksinya lebih dekat kepada kebenaran dari faksi Mu’awiyah dan para shahabatnya radhiyallâhu ‘anhum.
Kedua, wajib atas setiap muslim untuk membenci kaum Khawarij, dan membantu pihak berwajib untuk membongkar kedok mereka. Sebab, menutupi dan tidak menunjukkan markas dan (kamp) konsentrasi mereka adalah membantu mereka dalam dosa dan permusuhan. Tidak bisa terlepas tanggung jawab seorang muslim yang mengetahui rencana dari perencanaan yang membahayakan ahlul Islam berupa pembunuhan jiwa, baik yang terjaga dengan Islam karena sebagai pemeluknya, atau terjaga dengan Islam karena hubungan perjanjian. Yang kami maksud dengan terjaga dengan Islam karena perjanjian adalah kaum kuffar yang tinggal di tengah-tengah kaum muslimin, baik sebagai pekerja atau penduduk. Mereka mendapatkan perlindungan, perjanjian dan keamanan dari pemerintah yang muslim.
Jangan bersimpati kepada mereka dengan melakukan demonstrasi, keluar ke jalan-jalan (membentuk) konsentrasi massa, atau penghujatan di media massa , baik koran, radio, televisi atau selainnya.
Tidak ada yang menggelari mereka dengan syuhada (orang yang mati syahid), kecuali dua jenis manusia:
Pertama, orang bodoh yang tidak memiliki pemahaman terhadap As-Sunnah yang dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara hak dan batil, dan antara sunnah dan bid’ah.
Kedua, Pengekor hawa nafsu dan orang-orang sesat yang menyimpang dari As-Sunnah. Mereka melakukan demontrasi, penghujatan, konsentrasi massa, dan memuji kaum Khawarij yang menyimpang tersebut.
Di antara upaya mereka untuk memuji mereka adalah menyebutkan karamah –sebagaimana tersebut dalam pertanyaan-. Ini termasuk kedustaan, kebohongan, bahan tertawaan manusia, anjuran terhadap bid’ah, menyebarkan kesesatan, membungkam As-Sunnah dan mengangkat bid’ah serta membantu para pelakunya.
Mereka tidak diterima persaksiannya, sebab mereka adalah musuh Ahlus Sunnah. Di antara prinsip dasar dan pokok orang-orang tersebut adalah bolehnya berdusta dalam membela mereka dan membantu penyebaran kebatilan mereka.
Hati-hati dan berhati-hatilah, wahai kaum muslimin dan muslimah, saudara dan saudari kami serta anak-anak kami di Indonesia, untuk tidak tertipu dengan mereka.
Saya nasihatkan pula kepada ahlul ilmi di negeri kalian untuk segera menyingkap kesesatan ini dan membantahnya dengan ilmu yang dibangun diatas Al-Qur`ân dan As-Sunnah.
Inilah yang dapat aku sampaikan sebagai jawaban dari pertanyaan yang datang kepada kami dalam majalah An-Nashihah yang terbit di Makassar, Sulawesi (Selatan) di Indonesia –semoga Allah menjaga negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari setiap keburukan dan kejelekan-. Juga aku memohon kepada-Nya Jalla wa ‘Alâ agar menyatukan para pemimpin dengan rakyatnya di atas apa yang diridhai-Nya terhadap hamba-Nya dari keislaman dan As-Sunnah.
Didikte oleh
‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman
Mantan Dosen Universitas Islam Madinah
Pada
Malam Selasa, 20 Dzulqa’dah 1429 H
Bertepatan dengan
Malam 18 November 2008
Selengkapnya...